
"Rino, tidak bisakah kamu memikirkan kembali saran mama?"
"Dengan tegas aku katakan tidak ma, aku tidak akan pernah menceraikan Yuna."
"Ya ampun Rino, apa sih yang kamu lihat dari perempuan itu? Sejak awal mama sudah menentang kamu bergaul dengan perempuan itu, malah kamu memilih menikahinya. Dia hanya anak yatim piatu yang beruntung dibesarkan oleh keluarga Herman." cetusnya tak suka.
"Sekarang dia menjadi bagian dari keluarga kita, dia adalah istriku dan akan menjadi ibu dari anak-anakku. Sekeras apapun mama menentangnya, aku tidak akan meninggalkan Yuna."
Tegas Rino, kemudian berlalu pergi tanpa mempedulikan mamanya yang tengah berteriak memanggil namanya.
"Rino, kamu mau kemana?" tiba-tiba Irish datang ketika Rino hendak memasuki mobilnya.
"Aku mau menemui istriku, sudah jelas?" sahutnya penuh penekanan, tak suka.
Irish seketika melepas jemarinya yang memeluk lengan Rino dengan lancang, ketika Rino menekankan kata istri untuk menyadarkan statusnya.
Rino pun memasuki mobil tanpa peduli kedua orang itu kecewa dengan keputusannya.
"Sial!" umpat Rino kesal, membanting setir. "Kenapa sih dia harus hadir lagi setelah seenaknya meninggalkan ku tanpa kabar?!"
Rino mengingat kembali kenangan indah itu, saat dimana mereka tumbuh bersama, saling jatuh cinta, saling mengungkapkan rasa dan memikirkan masa depan indah rumah tangga bersama.
Namun seketika hal itu kandas ketika Irish memilih pergi untuk mengejar impiannya, yang pada kenyataannya kini nihil, dan pada akhirnya harus bergantung padanya.
__ADS_1
Rino membenturkan keningnya ke setir karena pikirannya saat ini terisi dengan sosok wanita yang tak pantas ia pikirkan.
Cinta pertama memang tidak bisa dilupakan, tapi bisa untuk dikenang.
Sama halnya dengan Yuna saat ini, ia tengah bertarung antara hati dan pikirannya sendiri. Begitu sakit ketika mengingat banyak kenangan bersama dengan Aga. Mereka terjebak pada masalalu yang hampir sama.
Kalian bisa mengubah kisah cinta kalian di mata mereka, bahkan semua orang, tetapi tidak di hatimu sendiri. Hati mu lebih mengerti benar apa yang terjadi. Siapa yang tega dan siapa yang tersakiti. Kalian juga bebas berpura-pura membenci, akan tetapi kalian akan merasa bersalah dengan semua ingatan dan kenangan tentang kebersamaan. Ketika tersakiti, yang tersisa hanyalah penyesalan seperti sebuah kutukan.
****
"Kamu sudah merasa baikan?" tanya Rino pada sang istri yang tengah membuatkannya secangkir teh.
"Iya, besok aku akan mulai bekerja lagi." sahutnya.
Yuna menyodorkan secangkir teh yang sudah ia buat kehadapan suaminya, "Apa kamu malu memiliki istri yang tidak pandai bergaul dan orang biasa seperti ku?"
"Kamu jangan salah paham! Aku hanya menyarankan, kalau kamu tidak suka ya tidak apa-apa. Tapi coba pikirkan lagi yang ku katakan barusan!"
"Aku tidak mau menjalani kehidupan seperti seorang benalu seperti itu. Hidup berfoya-foya menghabiskan uang suaminya hanya untuk ingin diakui didepan orang lain. Aku tak suka."
Rino berdecak, "Lalu apa yang kamu suka? Bertemu dan makan bersama dengan mantan tunangan mu itu?"
"Rino!" Yuna mengerut kening kesal. "Jika itu yang kamu khawatirkan, kamu tenang saja! Aga tidak akan mengganggu hidupku lagi."
__ADS_1
"Cih! Dia mengejar mu layaknya orang gila, mana mungkin dia menyerah begitu saja."
"Sebenarnya apa yang kamu khawatirkan? Apa kamu tidak lihat! Aku meninggalkannya dan memilih menikahi mu."
"Seharusnya aku yang mengatakan begitu Yun, aku tetap menikahi mu meski kamu sudah kotor..." Rino langsung menutup mulutnya. Kata-kata itu terlontar begitu saja.
"Apa? Aku kotor?"
"Maksudku bukan begitu Yun."
"Apa aku ini hanya sebuah kotoran bak sampah yang kamu daur ulang? Apa aku sehina itu, Rin? Kamu hanya menganggap ku sesempit itu?"
"Tidak Yun, kamu salah paham. Bukan itu maksudku."
Yuna menepis jemari Rino ketika ingin menyeka air matanya. "Salah paham? Kalau salah bilang salah, jangan bersembunyi dari kata salah paham seakan kamu mengatakan bahwa aku tidak cukup pandai berkomunikasi dan mengartikan. Secara tidak sadar kamu masih menyalahkan ku."
"A-aku minta maaf, aku tahu aku salah. Dan aku minta maaf."
"Sudahlah."
Yuna berlari ke kamar, mengunci pintu agar ia bisa sendirian. Ia tak mengira bahwa dirinya hanya sebatas kotoran tak berarti, hanya itu yang ada dimata suami serta keluarganya.
"Argh! Kenapa aku jadi seperti ini." Rino mengacak rambutnya gusar. Dirinya kacau karena omongan orangtuanya mempengaruhi pikirannya. "Seharusnya aku tidak sekeras ini pada Yuna."
__ADS_1