
"Selamat siang Nyonya." sapa salah satu pekerja dirumah Rino.
"Tuan muda kemana?" tanyanya tanpa menjawab.
"Tuan sedang dikamarnya."
"Tumben jam segini dia tidak dikantor."
"Anu nyonya.. sebenarnya beberapa hari belakangan ini Tuan bersikap aneh, serta Nona Yuna tidak dirumah. Saya melihat beberapa barang dan pakaian tidak ada."
Mendengar itu mama Rino tampak begitu senang, tak seperti yang dibayangkan pekerja rumahnya ini. "Bagus, akhirnya anakku menyadari bahwa perempuan itu tak pantas untuk dirinya."
Dengan penuh gembira, mama Rino memasuki kamar anaknya. Disana ia menemukan anaknya serasa mengenaskan. Rambut acak-acakan dan bau alkohol sangat menyengat di ruangan.
"Rino."
Ia terhenyak kaget, terheran kenapa anaknya bersikap seperti ini hanya karena perempuan rendahan seperti itu, pikirnya.
"Nak, sadarlah!"
"Mama, ngapain mama datang kesini?" tanyanya, mencoba bangkit atas kesadarannya.
"Tentu mama khawatir denganmu, makanya datang kesini untuk menjenguk mu."
"Khawatir? Tidak salah?" Rino tertawa miris. "Bukannya mama senang aku seperti ini?"
"Jaga omongan mu Rino!" bentaknya. "Sadarlah nak! Kamu tidak pernah seperti ini, bahkan kamu tidak suka minum alkohol."
"Aku seperti ini karena mama, karena omongan mama membuatku selalu melihat salah pada salah istriku."
"Rino!"
PLAKK
Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya, lalu jemarinya bergetar karena tak sadar apa yang dilakukan. "Rino, maaf."
Rino menundukkan wajahnya. "Rino mohon tinggalkan Rino sendirian, ma!"
"Tapi Rino.."
"Aku mohon, kali ini saja ma! Biarkan Rino menenangkan diri sejenak."
"Baiklah, tapi ingat Rino! Dia tak pantas kamu kasihi." ucapnya sebelum berlalu pergi.
Sedangkan Rino tambah mengamuk, membanting barang apapun yang ada dihadapannya.
****
"Aga."
"Sebentar! Aku masih rindu." mengecup bahu telanjang milik Yuna sambil memeluknya.
Yuna pun membalikkan badannya. "Aku juga rindu, bahkan rasanya aku tidak ingin jauh sesentipun denganmu. Tapi Ga.."
"Hm?"
"Rasanya aku masih tidak percaya kita bisa sedekat ini."
__ADS_1
"Aku pun begitu." sahut Aga, mengelus pipi Yuna. "Rasanya tak percaya bahwa yang tengah bersamaku ini adalah dirimu. Ya, meskipun aku hanya sebagai simpanan mu."
"Yah!" memukul dada Aga gemas. "Jangan bicara seperti itu! Aku tak menganggap mu begitu."
"Tapi kenyataannya seperti itu, ya walaupun begitu aku akan bersabar. Meski kapan saja kamu bisa membuang ku."
"Aga, aku tidak sejahat itu. Kamu juga adalah orang satu-satunya yang menyentuhku."
Aga membelalak kaget. "Apa yang kau katakan barusan?"
Yuna menghela nafas jengah. "Hanya kamu yang menyentuhku, selama ini hubunganku dengan Rino hanya sebatas status."
"Terimakasih."
Yuna pun menoleh heran. "Untuk apa?"
Aga pun tersenyum lebar. "Terimakasih sudah menjadi milikku seutuhnya dan mau menerimaku kembali."
"Aku pun begitu."
"Ah, terlalu singkat." protes Aga dengan jawaban Yuna.
"Yah! Aku tidak pandai bicara."
"Bagaimana mungkin, kau se cerewet itu mengaku tidak pandai bicara? Sepertinya kau sakit."
Lagi-lagi Yuna memukul bahu Aga kesal. "Yah! Aku masih waras."
Aga jadi tertawa. "Maaf, aku hanya becanda. Kenapa kau jadi seserius itu?"
Yuna hanya menebalkan bibir bawahnya, merasa kesal dengan Aga. Namun dalam hatinya pun ikut tertawa bahagia.
"Aku juga." sahut Aga.
"Biarkan aku duluan!" pintanya.
"Tidak bisa! Aku buru-buru harus bekerja."
"Ya sudah kalau begitu, kamu bisa duluan saja." Yuna mengalah, karena ia tahu kalau mandi bersama Aga pasti akan menjadi lama.
Aga jadi berubah pikiran. "Sepertinya lebih baik kita mandi bersama saja, bagaimana?"
"Aku menolak."
"Katanya kamu ingin mandi, aku tidak akan macam-macam."
"Aku menolak."
"Aku serius."
"Okelah."
Yuna pun beranjak pergi ke kamar mandi, begitupun Aga yang mengikuti. Dan benar saja durasi mandi mereka manjadi lama, menghangatkan badan lalu membersihkan diri bersama-sama.
"Dasar!"
****
__ADS_1
"Aga, kau tidak ke kantor?" tanya Yuna heran, ketika Aga duduk diruang tengah.
"Tidak, aku mau menemanimu."
"Bukannya tadi kau bilang mandi buru-buru karena mau bekerja?"
"Kan aku bilang bekerja bukan ke kantor. Aku bisa mengerjakan pekerjaan kantor dirumah, aku hanya perlu memeriksa hasil laporan dari Leni saja."
"Yah! Lagi-lagi kau menipuku. Dasar!"
Aga tertawa. "Maaf he he. Sebagai gantinya kamu boleh menemaniku bekerja."
"Apa? Rasanya tidak adil."
Tanpa aba-aba Aga menarik tubuh Yuna, membawanya duduk diatas pangkuannya. "Jangan jauh dariku! Temani aku!"
"Baiklah."
Mereka saling tersenyum, sebelum Aga fokus menatap layar komputer didepannya. Sedangkan Yuna tetap duduk tenang di pangkuannya.
"Aga, aku boleh bicara padamu?" ucapnya kemudian setelah lama terdiam.
"Iya, mengenai apa?"
"Aku akan pergi menemui Rino, aku ingin menyelesaikan semua urusanku dengannya."
"Aku tidak mengizinkan mu."
"Tapi Rino, aku harus segera menyelesaikan urusan ku dengannya. Aku tidak ingin nantinya orang-orang menggunjing tentang kita berdua."
"Aku tidak peduli soal itu, yang terpenting kamu tetap disisi ku."
"Aga." memegangi kedua pipinya. "Aku berjanji akan kembali padamu, jangan khawatir! Aku tidak akan pernah meninggalkan mu, malahan sekarang aku yang takut kamu berubah pikiran lalu meninggalkan ku."
Aga tersenyum. "Kamu memang pandai bicara. Baiklah, kamu bisa temui dia tapi aku akan menemanimu."
"Aga!"
"Aku tidak bisa membiarkan mu."
"Aga, tolong mengertilah! Kita bahkan belum resmi bercerai, aku takut kamu akan dapat masalah."
"Yuna, aku tidak pernah mengkhawatirkan masalah itu. Aku tidak peduli."
"Tapi aku peduli, Aga."
Aga mengeram kesal, ia kemudian memalingkan wajahnya. "Ah, sepertinya pekerjaan ku sangat sulit. Tolong kau pergi saja sekarang!"
"Aga..."
"Kau bisa pergi sesukamu sekarang!" sahutnya tak peduli, dengan kesal.
"Maafkan aku, aku berjanji akan kembali. Semua demi kebaikan kita."
"Baiklah, kali ini aku akan mencoba percaya padamu."
****
__ADS_1
Maapkan Author belum sempat UP dari kemarin karena maraton baca komik NOBLESSE T_T sumpah se Gamon itu sm Raizel.
oh ya, untuk Novel Ratik&Ainun UP di apk sebelah Krn dikontrak disana wkwk