
"Eh, ada apa ini?"
Orang-orang tertuju pada asal suara keributan, pun juga Rino dan orangtuanya.
"Irish, kamu tidak apa-apa?" tanya mama Rino, membantu Irish berdiri.
"Dia menamparku Tante." sahutnya sembari menangis, memegangi pipinya.
"Dia bohong, ma!" sangkal Yuna.
"Diam kamu!" bentaknya. "Dari awal aku memang tidak suka denganmu, selain dari keluarga rendahan kau juga tidak bisa sikapmu yang arogan."
Orang-orang jadi tercengang mendengar, "Oh pantas."
"Tidak ma, aku tidak pernah menyentuh Irish, apalagi sampai menamparnya."
"Lalu kamu menuduhku menampar diriku sendiri, memangnya aku gila? Katakan saja kalau kamu cemburu karena orangtua Rino menyukaiku dan kamu takut Rino kembali lagi padaku, iya kan?"
Yuna menggelengkan kepalanya, tidak tahu lagi harus menjelaskannya. Orang-orang sudah tertuju padanya.
"Yun, apa benar yang dikatakan Irish?" Rino tiba-tiba datang menghampiri.
"Tidak!" sahut Yuna tak peduli lagi dengan kemarahannya.
"Minta maaf sekarang padanya!" titahnya, dengan mimik kemarahan.
"Sudah ku katakan aku tidak pernah menyentuhnya."
"Yun, dengan kamu berbohong keributan ini tidak akan pernah selesai. Lebih baik minta maaf sekarang!"
"Tidak mau!" sahut Yuna tegas, dengan nada kemarahan. "Ketika aku mengatakan tidak, kenapa kau tidak mempercayai istrimu ini?"
"Karena aku sangat tau sifat mu, Yun."
Yuna seketika tertawa seakan ada hal lucu. "Ha ha ha, hebatnya suami ku. Lihatlah dia sangat memahami istrinya melebihi dirinya sendiri!"
Semuanya melihat Yuna dengan aneh. "Dia kenapa?"
Tak ingin jadi pusat perhatian, Rino menarik tangan Yuna agar mengikutinya pergi dari keramaian. Ketika sampai diluar gedung, Yuna menarik tangannya dengan kasar dan kemarahan.
"Tante." Irish pura-pura terisak, agar diperhatikan.
"Sudahlah! Tante tahu dari awal kamu berbohong." sahutnya, tersenyum licik sebelum kemudian pergi untuk mengembalikan suasana.
Irish jadi tersenyum senang ketika tahu dirinya dan mama Rino sejalan, sengaja ribut agar memberi keretakan dalam rumah tangga Rino dan Yuna.
"Sudah ku bilang sebelumnya, jaga sikapmu Yun, jangan membuatku malu!"
"Cih! Malu? Ha ha ha." sindirnya, dengan frustasi.
Rino mengernyitkan dahinya bingung. "Kamu kenapa sih?"
Yuna menepis tangan Rino yang hendak menyentuhnya, dan malah menampar Rino dengan kerasnya.
__ADS_1
PLAKK!!
Yuna tersenyum ketika puas menampar suaminya itu.
"Yuna!" geramnya.
"Kenapa? Kamu marah?" memberikan sebelah pipinya. "Tampar aku kalau ingin membalas!"
Rino hanya bisa mengepalkan tangannya, ia menahan emosinya.
"Kamu kenapa? Kenapa sikapmu seperti ini sih, Yun?"
Yuna bersindakap angkuh. "Bukannya sudah jelas kamu tahu sifat ku, lalu kenapa masih bertanya?" Rino jadi terdiam, sedangkan Yuna menatap Rino dengan tajam. "Kamu yang paling tahu sifat ku, lalu kenapa masih tidak mempercayai ku?"
"Apa aku diundang kemari hanya untuk dipermalukan oleh keluarga mu?" imbuh Yuna. "Ha ha, rasanya tidak adil ketika aku sangat mempercayai mu dan kamu malah membalas ku seperti ini."
"Apa maksudmu, Yun? Aku hanya memintamu untuk meminta maaf."
"Hanya meminta maaf? Dengan aku minta maaf, aku harus mengakui hal yang tidak pernah aku lakukan sama sekali." sahut Yuna dengan penekanan. "Aku tidak pernah sekalipun meragukan mu, bahkan aku tetap mempercayai sikap baikmu ketika mencampurkan sesuatu kedalam minumanku. Dan ini balasan mu?"
Rino membelalak matanya ketika mendengar penuturan Yuna, Ia tak mampu mengelak dengan kata-kata.
"Ketika kamu membunuh bayiku, berbohong padaku, bahkan tidak peduli padaku. Aku masih tetap bertahan dengan mu."
"Istriku, maaf."
Yuna kembali menepis tangan Rino ketika ingin menyentuhnya. "Jangan mengejar ku! Aku ingin sendiri."
Rino menjambak rambutnya dengan gusar, frustasi. "Ternyata Yuna tahu selama ini."
****
Disisi lain Aga datang kerumah sakit, namun sayang ruang yang ditempati Yuna sudah kosong.
"Syukurlah kalau dia sudah sehat kembali."
Aga sedikit menghela nafas, ia tak habis pikir dengan dirinya sendiri. Padahal berulang kali disakiti, bahkan sudah jelas ia dicampakkan. Kenapa langkah kakinya masih saja tertuju dengan satu wanita, hal itu membuatnya gila.
Ia berjalan mengitari jalan, berharap sedetik saja melupakan. Namun semakin ia mencoba, hal itu malah menguras pikiran.
Jadi Aga memutuskan untuk datang ke Bar untuk sekedar menenangkan pikiran. Saat disana pun ia masih terbayang sosok Yuna.
"Apa ini? Aku saja belum mabuk." gumamnya, menertawai dirinya sendiri.
Namun ketika ia menoleh lagi, ternyata itu benar Yuna. Ia tengah minum dan mabuk disana.
"Yuna."
Aga mendekatinya, lalu kemudian merampas gelas berisikan minuman yang hendak Yuna teguk.
"Ha ha, Aga." sapanya khas suara orang mabuk. "Kamu mau minum juga?"
Aga terdiam menatap Yuna heran. "Kamu mabuk? Kamu baru saja pulang dari rumah sakit."
__ADS_1
"Aku tidak mabuk." sahutnya, jelas-jelas Yuna sedang mabuk berat.
"Aku akan mengantarmu pulang."
Ketika Aga berdiri hendak membopong tubuh Yuna, tiba-tiba ia terhenti karena perkataan Yuna.
"Maaf." ucapnya, kemudian ia terisak.
Aga hanya menatapnya dengan nanar.
"Aku ingin meminta maaf padamu untuk banyak hal, sejujurnya sebelum aku terbiasa tanpamu, aku pernah hampir gila melawan rinduku. Aku pernah sakit ketika menahan diri untuk tidak menemui mu." ucap Yuna terisak tanpa sadar. "Di pernikahan kita.."
"Sudahlah, itu hanya masalalu. Aku tidak mau mengingatnya." tegas Aga, tak ingin mengulang.
Yuna terisak. "Kamu jahat!"
"Iya aku jahat, aku yang salah."
"Apa belakangan ini kabarmu baik-baik saja? Kamu bahagia dengan Jessy?"
Aga mengangguk, mengiyakan.
"Sungguh?"
"Ya."
Yuna jadi tertawa, namun kemudian semakin terisak. "Menyebalkan sekali mendengar mu baik-baik saja tanpaku."
Aga menyeka air mata Yuna, ia pun menahan dirinya sendiri. "Aku bahagia sekarang tanpamu, aku jauh lebih baik."
"Bohong." sahut Yuna lemah, memungkiri dengan isakan, sebelum kemudian ia kehilangan kesadaran.
Untung saja Aga sigap, hingga Yuna tak membenturkan kepalanya diatas meja. Aga sungguh sedih melihatnya.
Aga tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, tapi sungguh ia tak ingin melihat Yuna bersedih. Ia juga menyadari batasannya.
Ketika Yuna mengatakan itu semua tanpa sadar, Aga berfikir bahwa Yuna masih membencinya dan ingin melihat dirinya menderita.
Meski pada kenyataannya benar, Aga harus memungkiri itu semua dihadapan Yuna. Bahwa, sampai saat ini dirinya tidak bisa melupakan.
Ia memutuskan untuk mengirimi Rino pesan agar menjemput Yuna pulang, karena Rino lebih berhak atasnya.
Ketika Rino mendapatkan pesan, dirinya langsung pergi untuk menjemput sang istri.
Sesampainya ditempat, Rino sudah menemukan Yuna tak sadarkan diri karena terlalu mabuk.
"Ya ampun, Yun."
Rino langsung membopong tubuh Yuna agar masuk kedalam mobilnya, lalu langsung melajukan kendaraannya untuk segera pulang.
Disisi lain Aga mengawasi dibalik tembok, ia lega ketika melihat Yuna bisa pulang dengan selamat.
"Sampai pada akhirnya, aku sudah merelakan. Aku sudah menerima kenyataan bahwa kamu telah menjadi milik oranglain."
__ADS_1