
"Kamu kurang enak badan kah, Yun? Kamu bisa pulang lebih awal tidak apa-apa. Biarkan staff yang lain saja yang mengerjakannya."
Jessy merasa khawatir pasalnya wajah Yuna begitu pucat, bahkan ia sedaritadi duduk melamun serta tidak konsentrasi.
"Saya baik-baik saja." sahut Yuna memaksakan diri. "Sebentar lagi akan selesai."
"Jangan! Wajahmu sudah pucat, sebaiknya kamu istirahat sekarang. Atau kamu bisa menelfon supir mu sekarang agar dia menjemputmu pulang."
"Tidak perlu, aku sepertinya hanya butuh istirahat sebentar."
"Baiklah, sebaiknya kamu istirahat saja. Ada ruang kosong khusus untk beristirahat, kamu bisa menggunakannya."
"Iya, terimakasih."
Yuna pun pergi keruang kosong untuk mengistirahatkan dirinya sejenak, ia tak menyangka bahwa ia akan se kacau ini. Bahkan air matanya yang ia tahan sedari tadi kini tumpahan tak terelakkan.
Bayangan Aga masih menghantui.
Sedangkan disisi lain Aga menemukan sebuah kotak makanan berada didalam mobilnya. Ia mengambil kotak tersebut lalu membukanya.
"Anggap saja ini kompensasi karena kamu menyakitiku, Yun."
Ucap Aga lemah, sambil mulai membuka kotak makan itu lalu memakan isinya dengan perasaan nyaman.
Aga tahu bahwa bekal itu bukan untuknya, tidak mungkin juga Yuna datang untuk mengambilnya. Jadi, Aga makan saja untuk salam perpisahan.
****
"Kamu sudah pulang?"
Ucap Rino sambil mencium kening istrinya untuk menyambut.
Yuna mengangguk. "Kamu sendiri tumben pulang lebih awal?"
"Karena aku merasa rindu dengan istriku." sahut Rino, mengelus rambut istrinya dengan sikap menggoda.
"Kamu bisa aja." memukul dada suaminya pelan, merona.
__ADS_1
"Bibi sudah menyiapkan makanan, kamu pasti lapar. Ayo kita makan bersama!"
Yuna mengangguk mengindahkan, "Tapi aku ke kamar mandi dulu sebentar." pamitnya.
"Baiklah, aku tunggu dimeja makan."
Selama Yuna masih dikamar mandi, Rino dengan penuh kehati-hatian mengeluarkan sebuah bubuk obat yang ia selipkan dikantong celananya. Lalu kemudian ia campurkan kedalam minuman milik Yuna.
Disisi lain Yuna yang kembali dengan cepat membelalakkan matanya seakan tak percaya apa yang baru saja suaminya lakukan.
"Obat apa itu, apakah mungkin?" memegangi perutnya. "Tidak mungkin! Itu mungkin hanya vitamin atau gula."
Yuna menepis pikiran anehnya, kemudian melangkah kembali seakan tak mengetahui apa-apa.
"Ayo dimakan!"
Rino begitu tampak antusias, dan Yuna mencoba memberi senyum terbaiknya tanpa rasa curiga.
Ketika selesai makan dengan perasaan ragu, Yuna mulai meminum air yang sudah dicampurkan dengan obat. Rino yang melihatnya pun tampak begitu senang, tersenyum renyah tanpa beban.
Selesai meneguk semua minuman, Yuna mencoba untuk terdiam melihat reaksi apa yang ditimbulkan, tapi setelah beberapa menit kemudian obat itu belum juga menunjukkan sesuatu membuat Yuna lega. Ternyata hanya gula, pikirnya.
"Aku menginap dirumah orangtuaku." sahutnya.
"Lalu, apa yang ingin mama tunjukkan padamu?"
Rino berhenti mengunyah seketika, lalu ia kembali tersenyum seperti biasa. "Ah, itu mama menunjukkan sebuah tas dan meminta aku untuk membelikannya. Biasalah mama kan menggilai barang mewah."
Hanya dengan melihat wajahnya, jelas sekali bahwa Rino berbohong.
Yuna menghela nafas, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Syukurlah, ku pikir terjadi sesuatu."
"Jangan khawatir, aku tidak akan macam-macam kok!"
"Iya, aku percaya padamu."
Setelah makan bersama, Yuna merasakan pusing yang sangat hebat di kepalanya.
__ADS_1
"Argh!"
Yuna memegangi keningnya, serta tangan yang lainnya mencoba memegang daun pintu untuk menopang tubuhnya yang akan ambruk. Tak lama kemudian penglihatan Yuna mulai kabur, dan tubuhnya lunglai terbanting ke lantai.
****
Kini samar-samar Yuna mulai membuka matanya, aroma obat khas rumah sakit tercium menusuk hidungnya. Entah beberapa lama ia pingsan, tahu-tahu ia sudah berbaring diatas ranjang rumah sakit.
"Sayang, kamu sudah sadar?" tanya Rino dengan mimik wajah khawatir sambil memegangi tangannya.
"Kenapa aku disini, Rino?" tanya Yuna lemah, merasakan sesuatu yang aneh dibagian perutnya.
"Apa kamu tidak ingat? Kamu tadi jatuh pingsan dan aku langsung membawamu kerumah sakit. Tapi..."
"Tapi kenapa?"
"Karena kamu jatuh pingsan dan mengalami benturan saat usia kandungan mu masih muda, itu membuat mu keguguran."
Yuna sudah menduga hal ini terjadi, ia pikir Rino akan berbaik hati tapi ternyata ia salah.
"Maafkan aku, seharusnya aku tidak membiarkanmu sendirian tadi."
Rino mengecup jemari istrinya, seakan ia turut bersedih atas hal ini.
"Tidak, ini semua salah ku!" tangisnya.
"Jangan menyalahkan dirisendiri sayang, bagaimana pun hal ini sudah terjadi. Yang terpenting sekarang kamu harus segera pulih." mengelus rambut Yuna dengan sayang.
"Rino, bisakah tinggalkan aku sendiri? Aku lelah ingin istirahat." pinta Yuna kemudian.
"Baiklah aku akan pergi, segera pulih ya!" mengecup kening istrinya sebelum pergi.
Ketika Rino menutup pintu dan membiarkan Yuna sendiri, ia mulai terisak begitu sedih.
"Ini semua salahku karena terlalu mempercayai mu, Rino." gumamnya dalam tangis.
Yuna sangat bersedih atas kehilangan bayinya, namun ia tak memungkiri bahwa seorang suami tidak mungkin mau merawat anak yang bukan anak kandungnya sendiri.
__ADS_1
"Aga, maafkan aku."