
Aga segera melajukan kendaraannya buru-buru pulang karena rasa khawatirnya pada Yuna.
"Yuna, kamu tidak kenapa-kenapa, kan?" tanya Aga dengan panik sembari terengah-engah karena berlarian menuju kamar Yuna.
Yuna pun menoleh dengan heran, "Aku baik-baik saja, hanya saja aku kurang berhati-hati ketika ke kamar mandi."
"Biar sini ku lihat!"
Aga duduk dibawah bertumpu lututnya, langsung melihat pergelangan kaki milik Yuna. Gadis itu menahan sakit ketika Aga mencoba memijit pergelangan kakinya dengan pelan.
"Bagaimana, apakah sudah enakan?" tanya Aga ketika selesai memijit pergelangan kaki Yuna dengan keahliannya.
Yuna pun mencoba mencoba menggerakkan kakinya dan memutar pergelangannya. "Wah hebat! Bagaimana bisa kamu bisa melakukannya?"
"Dulu waktu kecil aku pernah jatuh tergelincir, lalu mendiang ibuku melakukan hal yang sama seperti aku lakukan barusan."
"Ah begitu, pantas saja," angguk Yuna menelaah.
Aga pun beranjak berdiri dari tumpuannya dan mengomeli Yuna. "Kamu harus lebih berhati-hati! Bukannya aku sudah menyewa seorang perawat untukmu, seharusnya kamu meminta bantuannya saja."
"Aku hanya ke kamar mandi, lagian aku bisa mengurus diriku sendiri." bantahnya.
Aga menghela nafasnya kasar. "Ck! Baiklah mulai sekarang aku akan pulang lebih awal."
Mendengar itu membuat Yuna jadi bahagia dan langsung beranjak berdiri memeluk Aga dengan gembira. "Makasih ya Aga, ah kamu memang yang terbaik." pujinya.
Mendapat pelukan hangat itu membuat Aga seketika kaku dan jantungnya seakan berdetak begitu kencang, bisa bisa dia mati jantungan kalau terus-terusan begini.
"Oh ya, aku akan keluar membeli beberapa pakaian dan kosmetik." pamitnya, lalu menoleh pada cermin membentang dikamarnya. "Wajahku terlihat begitu pucat, dan aku harus mengubah penampilanku. Sepertinya seleraku sudah meningkat."
"Apa karena kamu sedang sakit jadi seleramu jadi akan meningkat?" ledeknya tertawa.
Yuna cemberut, "Penampilanku harus jadi lebih menarik, karena setelah ku pikir-pikir, aku sudah melajang terlalu lama."
"Kau pikir dengan mengubah penampilan para pria akan menyukaimu?" ledeknya, tak suka.
Yuna bersindakap penuh tantangan. "Lihat saja nanti!" balasnya membuat Aga jadi khawatir.
****
__ADS_1
Setelah berpakaian rapi, Yuna bersiap-siap untuk pergi.
"Mau kemana?" tanya Aga, ketika Yuna menuruni tangga.
"Mau pergi belanja lah, kan sudah ku bilang." ketusnya.
"Tinggal dirumah saja! Kamu kan masih harus banyak beristirahat dan tidak boleh melakukan banyak kegiatan." perintahnya.
"Tidak mau! Aku akan menggunakan kakiku," Yuna menolak dengan tegas. "Lagian aku hanya akan membeli beberapa barang saja. Jangan terlalu khawatir!"
Melihat gadis keras kepala itu membuat Aga menjadi geram. "Ah sudahlah, biar aku saja yang mengantarmu."
"Serius?"
"He'em." sahut Aga sembari memutar bola matanya jengah.
"Aaaaa baiklah, aku setuju."
Yuna begitu gembira telah dibolehkan untuk bepergian, apalagi ditemani oleh Aga yang begitu ia kenal.
Setibanya di sebuah pusat perbelanjaan, Yuna memilih beberapa gaun untuk ia gunakan. Ia mengubah total penampilannya yang dirasa kuno dan ketinggalan jaman menjadi sosok gadis dewasa nan sexy.
Melihat gadis itu seketika Aga tercengang. Ya, dia begitu tampak cantik, bahkan lebih cantik tapi suatu hal yang membuat Aga begitu risih.
"Apa apaan bajumu ini? Bagian atas terlalu terbuka, lebih baik kamu kembali kedalam dan mengganti pakaianmu yang tadi!"
"Enggak!" tolaknya dengan tegas, lagi lagi Aga dibuat kesal olehnya.
Yuna berjalan berlenggak lenggok bak model, menjadi sosok wanita anggun tapi aneh menurut Aga. Tingkahnya begitu tengil, meski ditutupi dengan penampilannya yang modis.
Yuna menoleh pada Aga yang masih terdiam, "Kamu masih ngapain? Antarkan aku ke tempat makan, aku lapar!"
"Baiklah." sahutnya pasrah, tak dapat menolak permintaan gadis itu. Namun, ia dengan segera melepas mantelnya dan langsung menutupi punggung Yuna yang terbuka. "Pakailah! Aku risih melihatnya."
"Ck! Kamu seperti tidak tahu model jaman sekarang, kamu begitu kuno." umpatnya, namun ia tetap mengenakannya.
Aga tak peduli dengan celotehan gadis itu, ia tak suka jika Yuna berpakaian terlalu terbuka sehingga banyak para lelaki memandanginya. Terutama disaat mereka sedang berada disebuah restoran mewah yang tak jauh dari lokasi pusat perbelanjaan.
"Permisi Nona, apa aku boleh duduk disini?" pinta salah seorang pria yang ternyata tertarik dengan Yuna.
__ADS_1
Mendengar permintaan itu, lantas membuat Aga membelalakkan matanya pada Yuna. "Tidak boleh!" bisiknya.
"Boleh, silahkan." Yuna mempersilahkan tanpa peduli Aga yang tengah memperingatkan.
"Ah begini, ketika saya melihat Nona masuk kedalam restoran ini. Saya langsung tertarik dan ingin menjadi teman dekat Nona," ucap pria itu dengan gugup tapi berani. "Maaf kalau saya lancang, tetapi saya bersungguh memberanikan diri untuk mengajak Nona berkenalan."
Aga melihat pria itu dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan mimik wajah meremehkan.
Ah, tidak mungkin lah Yuna mau berkenalan dengan pria ini.
"Aku juga tertarik denganmu," mendengar jawaban Yuna, seketika Aga menoleh heran.
Gadis itu bodoh apa bagaimana?
Dengan senang pria itu langsung menyodorkan kartu identitasnya, "Ini nama serta nomor telfon saya, kalau ada waktu bisakah Nona menghubungi ku?"
Yuna mengangguk tanpa ragu, ia langsung membaca kartu identitas yang diberikan itu "Akram, manager di perusahaan Indojaya. Wah, ternyata kamu orang hebat sesuai dengan wajah tampanmu itu."
"Cih! tampan dari mananya." umpat Aga dengan suara mendengung, membuat Akram tak nyaman.
Akram yang semula tak menyadari bahwa ada seorang pria didekatnya lantas bertanya, "Maaf Nona, apakah dia kekasihmu?"
Seketika Akram mengetuk-ngetukkan jemarinya diatas meja, berharap pria itu melihat cincin sama yang melingkar di keduanya.
"Dia temanku." sahut Yuna membuat Aga jadi heran.
"Ah begitu, ha ha syukurlah," Akram jadi lega. Namun ia kembali menyadari ada hal yang aneh disana. "Tapi kenapa kalian memakai cincin yang sama, bahkan melingkar dijari yang tak seharusnya?"
"Ah ini hanyalah sebuah hadiah," sahut Yuna dengan tenang.
Aga pun langsung menggenggam jemari Yuna ketika gadis itu hendak melepas cincin pertunangan mereka.
"Kita sudah bertunangan," ucap Aga tak terduga, berdiri tegak dan menunduk menghadap Akram yang terheran. "Dan tunanganku tidak butuh ini."
Aga merampas kartu identitas dari tangan Yuna lalu menyodorkannya kembali kepada Akram. Setelahnya ia langsung menarik tangan Yuna untuk segera beranjak pergi keluar dari restoran.
"Aga, kamu apa apaan, sih?"
**** MOHON JANGAN LUPA UNTUK MENDUKUNG AUTHOR DENGAN CARA LIKE, FAVORIT SERTA VOTE KALAU ADA KUPON YAH 🤗 KUPON GRATIS KOK, TERIMAKASIH LOPE LOPE 😘🥰
__ADS_1