
"Oh ****! Kenapa dunia ini sempit banget sih."
Vale benar-benar heran, pasalnya ia baru tahu bahwa asisten Jessy adalah mantan tunangan sepupunya, secara tidak langsung ia mempertemukan Aga kembali dengannya.
"Kenapa kamu tidak bercerita kepadaku lebih awal? Tahu begitu aku tidak akan meminta Jessy untuk menjadi brand ambassador kita." protes Vale pada Aga yang bersikap tenang.
"Sudah ku katakan untuk memberitahu ku terlebih dahulu," Aga menghela nafas. "Sudahlah, biarkan saja!"
"Benar tidak apa-apa? Kamu tidak masalah jika melihat dia lagi?"
"Aku sudah berhenti berharap, jadi santai saja."
"Serius?"
Vale keheranan, pasalnya Aga sudah menderita selama dua tahun karena wanita itu. Jadi, tidak mungkin dalam sekejab Aga bisa melupakan perasaannya itu.
"Dia sudah menikah, terlebih lagi dia sudah mengandung anak dari suaminya."
Vale seketika membelalak kaget. "Kamu yakin itu anak dari suaminya? Em, maksudku kalian kan pernah menghabiskan berapa malam bersama jadi aku pikir itu bisa jadi anakmu."
"Tidak, aku sudah mendengar dari mulutnya sendiri." sahut Aga bersedih. "Kamu tahu sendiri aku dibesarkan hanya oleh seorang ayah, aku begitu sangat kesepian. Bagiku darah daging adalah harta paling berarti. Dengan melihat senyum anakku di masa depan pasti sangat meringankan beban dalam hidupku, aku akan merasa mudah untuk menjalani kehidupanku yang kesepian. Tapi sayang, itu bukanlah anakku padahal aku begitu sangat menginginkannya."
Vale menepuk bahu Aga memberinya kekuatan. "Kamu pasti menemukan seseorang yang tepat bagimu. Kamu itu tampan dan memiliki segalanya, seharusnya hanya kehilangan satu wanita itu bukanlah hal besar."
"Cih!" Aga tertawa. "Kamu sudah mengatakan hal ini berapa kali, berhentilah memujiku berlebihan seperti itu!"
"Ayolah sepupu, aku serius!"
Mereka hanya bisa tertawa setelahnya.
****
"Len, apa Tuan ada didalam?"
"Iya Tuan ada, langsung saja masuk Nona!"
"Ah, baiklah. Terimakasih ya."
Yuna melangkah menuju ruang kerja Aga dengan perasaan ragu, namun jika ia menolak ia tak enak hati dengan Jessy.
"Masuk!" ucap Aga ketika ada seseorang mengetuk pintunya.
Yuna pun masuk kedalam ruangan berdiri kaku penuh ragu, sedangkan Aga sibuk dengan berkas yang ada didepannya.
"Yuna, ada apa kemari? Ah, tidak, maksudku silahkan duduk!" Aga gugup sekaligus kaget ketika mengetahui yang datang ke ruangannya adalah Yuna.
__ADS_1
Dengan canggung, Yuna pun duduk menghadap Aga. Jemarinya bergetar dan jantungnya seakan ingin meledak waktu itu juga.
"Tumben kamu datang keruangan ku. Apa ada sesuatu atau hal yang bisa ku bantu?"
"Aku datang kemari untuk memberikan ini." menyodorkan sebuah kartu kecil berisikan alamat kepada Aga.
"Apa ini?"
"Kamu datang saja! Aku pamit dulu, maaf mengganggu waktumu."
Tanpa menjawab, Yuna menunduk memberi hormat lalu buru-buru keluar dari ruangan Aga. Sesampainya di dalam lift, Yuna memegang dadanya yang hampir sesak, gila rasanya.
"Aku bodoh!" membenturkan dahinya ke dinding lift. "Bisa-bisanya aku mau membantu Jessy. Aku sungguh bodoh. Aga pasti akan sangat marah padaku."
Disisi lain Aga begitu terkejut dan tersenyum dengan pikirannya sendiri.
"Apa ini? Apa Yuna mengajakku makan malam bersama? Apa dia sudah berubah pikiran dan menyesal sudah menikah dengan pria itu?"
Aga jadi tersenyum lega ketika menduganya, bayangannya hanya dipenuhi dengan Yuna seperti orang gila.
"Yun, kamu sudah memberi kartu itu pada Aga?" tanya Jessy penuh harap.
"Iya," sahut Yuna lemah.
"Iya Jessy, saya tidak memberitahunya. Hanya mengatakan untuk dia datang."
"Aaaa!" Jessy berdecak kegirangan. "Kalau begitu rencana kita akan berhasil, terimakasih ya!" memeluk Yuna.
"Iya."
Yuna hanya bisa terdiam melawan perasaannya, ia tak bisa berbuat apa-apa ketika takdir dan sebuah penyesalan menghampiri dirinya.
****
Kini petang pun sudah tiba, Yuna hendak menelpon suaminya untuk meminta ijin bahwa hari ini ia akan pulang telat. Namun, ternyata Rino menghubungi dirinya duluan.
"Yun, aku akan pulang terlambat hari ini. Sepertinya aku akan lembur lagi. Kamu tidak apa-apa kan dirumah sendiri?"
"Iya tidak apa-apa."
"Baiklah, aku akan kembali bekerja. Aku sayang kamu." ucapnya sebelum menutup sambungan teleponnya.
Yuna begitu lelah dengan semuanya, Rino tidak pernah memperhatikan dirinya. Bahkan memberikan sedikit waktu untuknya.
"Yun, kamu sudah ijin pada suamimu?" tanya Jessy, menghampirinya.
__ADS_1
"Sudah kok."
"Baguslah, kalau begitu kita siap-siap sekarang. Mungkin sebentar lagi Aga akan datang!"
****
Aga merapikan pakaiannya didepan cermin membentang, menunjukkan dirinya keseluruhan.
"Sepertinya ini sudah cocok."
Ia sedaritadi menyibukkan dirinya memilah baju yang akan ia kenakan untuk menemui Yuna, bahkan ia membuka kembali hatinya yang tadinya akan ia tutup rapat untuk Yuna. Kini ia berharap kembali.
Setelah siap merapikan diri, Aga segera datang pada alamat yang sudah Yuna berikan. Sebuah restoran outdoor, berkonsep taman.
Sesampainya disana ia langsung melangkah menuju Yuna yang tengah berdiri disebuah taman remang sambil memegangi sebuah tulisan berisikan namanya.
"Seharusnya kamu tidak perlu melakukan ini." Aga tertawa bahagia, ia merasa terharu. "Ya ampun bodohnya, seharusnya aku yang melakukan hal ini. Aku masih sangat mencin...."
Aga tersekat, ketika lampu taman menyala dan menunjukkan beberapa orang hadir sama seperti Yuna. Mereka memegang beberapa patah kata bertuliskan I L-o-v-e You untuknya.
"Maaf." Yuna menunduk menyesal.
Satu kata itu memberitahu segalanya, menghancurkan harapannya kembali. Ternyata Jessy ada ditempat yang sama dengan tersenyum lebar padanya.
Aga jadi paham, ia mengerti bahwa Yuna disini bukan untuk mengajaknya kembali, akan tetapi untuk mendorongnya pergi bersama wanita lain.
Kamu kejam, Yun.
Mata Aga tampak nanar, pupus sudah harapan.
Jessy kemudian datang menghampiri Aga yang berdiri dengan kekecewaan. "Aga, i love you. Aku tahu ini sedikit keterlaluan dan memalukan, tapi aku menahannya karena aku sangat menyukai mu."
"Aga, mau kah kamu jadi kekasih ku?" imbuh Jessy dengan malu-malu.
Aga menoleh pada Yuna yang tak berani menatap wajahnya, sebelum ia kemudian menjawab. "Iya aku mau, mari kita berkencan!" tegasnya.
Jessy langsung memeluk Aga, begitu bahagia. Ia juga tanpa permisi langsung menjinjitkan kakinya dan mengecup bibir Aga tanpa permisi.
Yuna menyaksikan hal tersebut didepan matanya, hatinya begitu berantakan tak bisa ia tahan. Yuna memilih lari, menjauh pergi dari keduanya.
****
Author merasa capek dengan kisah cinta memakan hati dan pikiran seperti ini ┻━┻︵└(´_`└)
Kakak kakak cantik nan ganteng, tolong bantu vote aku yah! Biar semangat Up. gak usah pake koin, poin aja biar gratess ngokhey!!
__ADS_1