
Aga menyelam untuk menyelamatkan Yuna yang telah tenggalam tak sadarkan diri, dengan sekuat tenaga Aga menarik Yuna dan membawanya ke tepi pantai.
"Bangun, Yun!" ucapnya khawatir, ketika Aga mendekatkan wajahnya dekat hidung Yuna, memeriksanya masih bernafas apa belum.
Ketika tak terdeteksi ada nafas, Aga pun dengan gemetar memeriksa denyut nadi Yuna yg bahwan tidak berdetak.
Seketika dengan cekatan Aga melakukan CPR, ia meletakkan kedua tangannya ditengah dada milik Yuna, lalu menekan-nekannya sembari memberi nafas buatan untuknya berulang agar jantungnya kembali berdetak dan kembali bernafas.
Rino mengepalkan tangannya ketika melihat Aga membari nafas buatan dari mulut ke mulut kepada Yuna, tapi ia juga tidak dapat melakukan apa-apa karena itu demi keselamatan Yuna.
"Uhuk Uhuk."
akhirnya Yuna memuntahkan air, sadarkan diri kembali, membuat semuanya yang melihat begitu lega.
Setelahnya Aga mengangkat Yuna, membawa gadis itu kedalam gendongannya lalu melangkah cepat ke dalam mobil milik Rino.
"Aku akan membawa Yuna kerumah sakit dekat sini, kau urus saja urusanmu dengan pacar mu itu!" pinta Rino, mencegah Aga masuk kedalam mobilnya.
Sebenarnya Aga masih sangat khawatir pada keselamatan Yuna, tapi Rino tak mengijinkan dirinya berada didekat Yuna dan mendampingi gadis itu.
"Baiklah, jaga Yuna dengan baik!" pintanya.
"Cih, tentu aku akan menjaganya dengan baik," sahutnya tak sudi ketika melihat Aga mengkhawatirkan Yuna.
Aga pun membalikkan badannya pergi, lalu menoleh pada Nisa yang masih berdiri dengan angkuh.
"Akh sakit," pekiknya ketika Aga mencengkeram lengannya. "Lepasin Aga!" pintanya.
"Tidak Nis sebelum kamu menjawab pertanyaan ku. Kamu kan yang sengaja mendorong Yuna sampai jatuh?"
"Aku tidak pernah mendorongnya, dia sendiri yang memilih meloncat dari tebing karena aku membuang kalungnya kelaut."
"Kalung?"
__ADS_1
"Iya, kalung yang terdapat cincin pertunangan kalian berdua."
Aga pun melepas cengkramannya itu, kemudian berbalik kembali ke tempat dimana Yuna berbaring tadi, dan jelas saja ia menemukan kalung dengan cincin yang melingkar didalamnya.
Setelahnya Aga ingin segera menemui Yuna, ingin bertanya kepadanya mengapa dia mengorbankan keselamatannya demi cincin pertunangan mereka.
Bukankah Yuna tidak ingat semuanya?
"Jangan pergi, Ga! Jangan temui dia!" pinta Nisa ketika Aga hendak melangkah kan kakinya untuk pergi.
"Lepas Nis!" geramnya, dan Nisa semakin erat memeluk kakinya memohon dengan tangis.
"Aku mencintaimu Aga, jangan tinggalin aku! Aku tahu aku bersalah karena selama ini berselingkuh darimu. Aku tidak akan mengulanginya lagi."
"Apa, berselingkuh? Akulah yang sebenarnya selingkuhan mu. Kau pikir aku tidak tahu semuanya, hah?!" Nisa jadi pias seketika, tapi ia semakin enggan melepas pelukan dikaki Aga. "Lepasin!"
Nisa menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mau! Aku mau kamu bersamaku." tegasnya.
Seketika Aga mendorong kuat tubuh Nisa hingga perempuan itu melepas pelukannya di kedua kakinya dan jatuh tersungkur.
"Aga, Aga jangan pergi!" teriak Nisa kesetanan ketika lelaki itu melangkah meninggalkannya tanpa peduli. "Aku bersumpah akan membuatmu menyesal karena sudah meninggalkan ku."
Mendengar sumpah serapah dari perempuan itu, Aga pun tak peduli. ia meneruskan langkahnya memasuki mobil dan segera menyusul Yuna ke rumah sakit.
****
Samar-samar Yuna mulai membuka matanya kembali, dan melihat Rino sudah berada disampingnya.
"Ah syukurlah kamu sudah siuman." ucap Rino lega.
Yuna pun memberi senyum, ia lalu mengedarkan penglihatannya dan tak menemukan Aga disana. Sebenarnya tadi saat Aga menggendongnya, membawa dirinya kedalam mobil milik Rino, Yuna sedikit tersadar jadi ia tahu bahwa seseorang yang telah menyelamatkan nyawanya adalah Aga.
"Aga mana?" tanyanya.
__ADS_1
"Untuk apa kamu bertanya tentang lelaki brengsek itu sih, Yun? Kalau bukan karena dia kamu tidak akan seperti ini." geramnya tak suka.
Yuna menghela nafas. "Jangan menyalahkan dia, Rin! Dia sudah menyelamatkan ku."
"Cih, sampai sekarang pun meski kamu lupa ingatan, kamu tetap membelanya." ucap Rino begitu kecewa dengan sikap Yuna.
Rino memilih bersindakap sembari acuh tak acuh pada Yuna, dia begitu kesal dengan gadis keras kepala didepannya ini.
Sebenarnya apa sih yang dia sukai dari lelaki itu yang tak mampu aku lakukan?
"Maafin aku ya Rin, aku udah bikin kamu khawatir dan acara liburan kita jadi berantakan seperti ini." ucap Yuna serak dengan suaranya yang lemah.
"Kamu tidak perlu minta maaf Yun, Ini semua gara-gara aku! Seandainya aku tidak membiarkan mu dengan perempuan itu, semua ini tidak akan terjadi." sahutnya menyesal.
"Jangan menyalahkan diri sendiri, Rin! Ini bukan salahmu kok." Yuna menggapai jemari Rino, mencoba menenangkan lelaki itu. "Aku sudah baik-baik saja."
Rino jadi mengangguk. "Syukurlah kalau kamu tidak kenapa-kenapa."
Disisi lain Aga berdiri mematung didepan pintu, ketika ia hendak melangkah masuk tak sengaja melihat Yuna menggapai jemari Rino dan menggenggam nya. Melihat keakraban keduanya, lantas membuat Aga mengurungkan niat untuk menemui Yuna.
Aga kembali ke parkiran, memasuki mobilnya. Sebaiknya dia tidak perlu lagi bertemu dengan Yuna karena bertemu dengannya membuat dirinya semakin sulit untuk melupakan Yuna.
ia kemudian mengeluarkan cincin yang berada di sakunya.
"Sepertinya kamu masih belum ingat semuanya, Yun." ucapnya sembari menatap cincin yang digenggamnya. "Bodohnya aku berharap kamu ingat semuanya dan memaafkan kesalahan ku."
"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" ucapnya berulang sembari membenturkan kepalanya ke setir mobil.
Benci yang dahulu tertanam dihati Aga kepada Yuna kini berubah menjadi cinta dalam sekejap mata, memang benar dengan kata dari mata turun ke hati, dari melihat sikap kini sampai ke hati. Namun kini, Cinta yang dibangun dengan sejuta peluh, malah akan ia buang dengan satu keluh.
Tanpa berpikir panjang, Aga kemudian mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi ayahnya.
"Ayah, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Ada sesuatu yang harus ayah ketahui."
__ADS_1