
"Wah, indahnya."
Ketika sampai Yuna segera berlari menuju tepi pantai dan langsung membentangkan kedua tangannya sambil terpejam merasakan hembusan angin yang menyegarkan.
Rino tak mau kalah, ia datang menghampiri Yuna yang tengah menikmati pemandangan laut.
"Indah banget kan Rin lautnya?" tanya Yuna pada lelaki yang berdiri disebelahnya.
Rino mengangguk sembari tersenyum. "Indah, dan cantik." sahutnya, fokus memandangi wajah Yuna, bukan laut yang ada didepannya.
Dengan heran Yuna menoleh pada Rino, dan mereka pun saling memandang satu sama lain. Sorot mata penuh cinta itu tak lepas dari Rino, ia sekarang bahkan tak peduli jika Yuna menyadari perasaannya.
Yuna yang menyadari sikap Rino yang tak biasa, lantas jadi salah tingkah dan berpikir untuk memecah suasana.
"Hey, basah!" teriak Rino ketika Yuna sengaja mencipratkan air laut padanya, dan Yuna tertawa gembira melihatnya.
"Ha ha ha! Weekkk!!" menjulurkan lidahnya, mengejek, sebelum kemudian dia berlari.
"Awas kamu ya!"
Rino berlari mengejar Yuna, ingin menangkap gadis itu yang sangat jahil padanya. Mereka berlarian disekitar sisir pantai saling kejar dan tertawa bersama ketika Rino berhasil menangkap tubuh mungil Yuna.
Rino memeluk tubuh Yuna dari belakang, membawa gadis itu dipelukannya sembari mengangkat tubuh Yuna, lalu memutarnya tubuhnya. Mereka saling berbahagia.
Sedangkan Aga yang melihat pemandangan itu dari kejauhan tampak begitu geram, ia mengepalkan tangannya ingin memisahkan mereka dua.
"Babe, kamu mau kemana?" tanya Nisa, mencegat Aga bertindak tanpa sadar ketika ia mengetahui sorot mata cemburu terpancar di matanya.
"Lepas!" tepisnya, ketika Nisa menarik lengannya.
"Tidak boleh! Kamu tidak boleh kesana, Aga!" ucapnya sembari memohon.
Aga pun jadi berbalik badan lalu menoleh. "Kenapa aku tidak boleh menemui mereka?" geramnya.
Tanpa menjawab Nisa langsung memeluk tubuh Aga dengan erat. "Karena aku mencintaimu, Aga. Biarkan mereka bersama!" pintanya.
Aga langsung melepas pelukan Nisa, melepas kedua tangan Nisa yang melingkar ditubuhnya dengan erat. "Hentikan omong kosong mu, Nis!"
"A-apa maksudmu?"
"Aku tahu selama ini kamu selingkuh, dan aku juga tahu kalau kamu suka bermain dengan beberapa pria diluar sana."
__ADS_1
Sontak Nisa jadi pias seketika, dan ia tersadar bahwa selama ini Aga tidak pernah sedikitpun mencintainya. "Tapi kenapa kamu diam tidak pernah sekalipun menegurku, hah?"
Aga tak menjawab, bukankah pernyataan dan sikapnya sudah jelas bahwa Aga tidak peduli padanya. Yang mereka lakukan tempo hari adalah kesalahan baginya.
"Jangan pergi Aga, Aku benar-benar mencintai mu!"
Lagi-lagi Nisa mencoba memeluk erat tubuh Aga ketika lelaki itu berbalik badan dan ingin mencegah Rino dan Yuna bersama.
Namun dengan segera Aga menepis tangannya yang ingin melingkar dan terus berjalan kedepan.
"Apa kamu tidak takut aku akan mengatakan yang sebenarnya pada Yuna?" teriaknya mengancam.
Seketika Aga jadi kaku, menghentikan langkahnya itu.
"Kamu tidak akan pernah sekalipun bisa bersama dengan tunangan mu itu. Sekali aku mengatakan apa yang sudah pernah kita lakukan bersama, dia tetap akan membencimu sekalipun dia tidak ingat kejadian waktu itu." lanjutnya penuh penekanan.
Aga berbalik badan lalu mengangguk kaku. "Kamu benar, dia pasti akan sangat membenciku." jawabnya putus asa, dengan mata yang sembab.
Ketika itu pula suara tak asing terdengar memecah suasana. "Aga, kamu ngapain disini?" tanya Yuna melangkah mendekati, bersama dengan Rino.
Merekapun menoleh pada asal suara. "Hemm aku tentu berlibur, bukankah sayang sekali jika pemandangan yang indah ini dilewatkan begitu saja?" sahutnya beralasan.
Sejenak Aga jadi terdiam ketika ia melihat cincin yang biasa melingkar sudah tidak ada di jemari manis Yuna.
"Iya aku sibuk, kamu tidak lihat pakaian ku, hah? Aku terlalu sibuk sampai jenuh, makanya aku datang kesini bersama rekan kerjaku untuk refreshing," sahutnya kemudian, penuh dengan alasan dan angkuh.
"Ah begitu." Yuna menelaah, mencoba mengerti. Kenapa Aga sampai marah marah begini, pikirnya.
"Ikut aku!" Rino tiba-tiba menyela pembicaraan, lalu menggiring Aga agar mengikutinya.
"Aku juga ingin berbicara denganmu!" pinta Nisa, dan Yuna pun mengikuti langkahnya.
****
"Untuk apa kamu kesini?" tanya Rino geram.
"Entah," sahut Aga sengenanya.
"Putuskan segera pertunangan kalian lalu kamu pergi menjauh dari kehidupan Yuna secepat mungkin!" titahnya.
"Kalau aku tidak mau, kau mau apa?" tantangnya.
__ADS_1
"Dasar badjingan!" umpatnya. "Berhenti main-main, Yuna bukan orang bisa kamu permainkan begitu saja!"
Aga menepis kasar tangan Rino yang hendak mencengkramnya. "Aku tidak berniat untuk mempermainkan siapapun, aku tidak seburuk yang kamu pikir."
"Cih! Lalu tujuanmu datang kemari untuk apa, hah? Kamu pikir Yuna akan jatuh cinta kembali padamu?!" ucapnya meremehkan, tersenyum sinis.
"Lalu, kamu sendiri yakin kalau Yuna menyukaimu? Ingatlah, sekalipun aku mengkhianatinya, dia tetap mengorbankan dirinya untuk menolongku." telaknya.
Seketika Rino marah. "Kau jangan main-main denganku! Tinggalkan Yuna, kamu tidak pantas untuknya."
"Lihatlah, kamu sendiri mengakuinya kalau Yuna masih mencintaiku," tebak Aga ketika menelaah kalimat Rino. "Dan kau tidak berhak menghakimi ku!"
"Baiklah silahkan saja kamu mendekati Yuna, karena aku tahu akhirnya seperti apa."
Seketika ketakutan itu muncul kembali dan ia pun tersadar. Aga membayangkan ketika Yuna bisa mengingat kembali. Lalu ia tidak sanggup jika dirinya dibenci oleh orang yang ia cintai.
"Aku akan pergi." ucapnya seketika, membuat Rino kaget mendengarnya. "Aku akan pergi dari kehidupan Yuna, aku akan benar-benar pergi dari hidupnya." tekannya kembali, menunduk putus asa.
Rino hanya terdiam melihat Aga yang tampak frustasi dan sudah putus asa, ia menyadari bahwa Aga memiliki rasa cinta yang besar untuk Yuna, dan tertegun untuk itu.
Disisi lain, Nisa tengah berdebat dengan Yuna.
"Apa maksudmu?" tanya Yuna bingung.
"Maksudku, kamu hanya pura-pura lupa ingatan agar bisa merebut Aga dari ku, kan?" tuduhnya.
"Aku masih tidak mengerti maksudmu apa." sahutnya bingung.
"Sudahlah, kamu jangan pura-pura bodoh, aku tahu niat mu itu! Dasar perempuan licik, jangan mencoba untuk merayu pacarku!"
"Pacar? Aga tidak pernah mengatakan bahwa dia memiliki pacar," sahutnya tenang membuat Nisa mengepalkan tangan. "Oh ya lupa, Aga baru saja kemarin mengatakan bahwa dia mencintaiku. Awalnya aku ingin menolak, tapi setelah mendengar hal ini darimu sepertinya aku harus berpikir ulang untuk menerimanya."
"Kau!" Nisa mengeram penuh kemarahan.
Ia lalu melirik cincin yang selama ini mengikat Aga dikaitkan dileher Yuna sebagai kalung. Lalu, tanpa permisi Nisa langsung menarik kalung tersebut dan langsung melemparkannya ke laut.
Dan hal tak terduga pun terjadi, tanpa berpikir panjang Yuna langsung ikut melompat ke dalam laut untuk menggapai kalung berisi cincin pertunangannya.
"Yuna." teriak Aga penuh khawatir dari kejauhan ketika melihat Yuna melompat ke laut.
Aga pun berlari dengan kencang sembari membuka jas dan melemparkannya, tanpa menunggu waktu ia ikut melompat untuk menyelamatkan Yuna.
__ADS_1