AGA DAN YUNA

AGA DAN YUNA
42


__ADS_3

"Huekk! Huekk!"


Yuna terbangun dengan kepalanya yang terasa berat, bahkan ia cepat lari ke kamar mandi untuk menumpahkan segala isi perutnya. Ia muntah dan sedikit merasa pusing akibat mabuk semalam.


"Cepat minum biar mabuk mu reda!"


Rino memberikan minuman khusus Hangover, dan Yuna dengan cepat meneguknya.


Yuna duduk sambil menekan keningnya, ia berpikir ulang dengan kejadian semalam. Ia lupa segalanya, tapi samar-samar ia seperti melihat sosok yang tak asing didepan matanya.


"Semalam kamu yang membawaku pulang?"


"Iya, kamu begitu mabuk tak sadarkan diri." sahutnya, lalu menyodorkan segelas jus dihadapan istrinya.


"Terimakasih." ucapnya, sebelum meneguk habis jus yang dibuatkan suaminya.


"Aku ada kerjaan penting hari ini, jadi aku harus segera ke kantor." pamit Rino, mengecup kening sang istri. "Jaga diri baik-baik!"


Yuna hanya bisa terdiam, menghela nafas panjang. Dirinya juga harus segera bersiap untuk bekerja meski kepalanya masih sedikit terasa pusing.


****


"Len, apa hari ini Jessy ke kantor?" tanya Aga.


Leni tersenyum. "Nona Yuna baru saja datang kok Tuan."


Aga jadi salah tingkah, "Aku kan menanyakan Jessy, kenapa kamu menjawab Yuna."


"Ah, iya maaf." Leni jadi tertawa geli dengan tingkah Aga sedari tadi.


Sedaritadi Aga mondar mandir sambil melirik kearah jendela yang menampakkan keluar luar ketika pegawai masuk kedalam kantor, jadi Leni pasti bisa menebaknya.


"Hani ini mereka akan melakukan pemotretan terakhir Tuan, sebelum nanti acara promosi pengeluaran produk." imbuhnya.


"Okelah, kalau begitu kita harus mengawasinya."


"Tapi nanti kita ada acara penting, apa Tuan tidak perlu mempersiapkan sesuatu?"


"Kita pikirkan nanti saja, aku hanya ingin melihat pemotretan sebentar saja."


Leni mencoba menahan tawa, ia tahu Tuannya ini ingin melihat Yuna. Lebih tepat keadaannya setelah mabuk semalam, Aga masih khawatir padanya.


Sesampainya disana Aga hanya berdiri mengawasi, namun matanya tetap lekat pada Yuna.


"Syukurlah dia baik-baik saja." ucapnya dalam hati, begitu lega.


Jessy melambaikan tangan pada Aga untuk menyapanya, akan tetapi Aga tak sekalipun menoleh padanya. Jessy lantas menoleh pada arah mata Aga, yaitu Yuna.


Hati Jessy merasa deg-degan, merasa ada sesuatu dengan Aga dan Yuna. Apakah sebenarnya mereka saling mengenal? Jessy penuh tanda tanya. Ia curiga.


"Jes, kerah mu tertekuk, biarkan aku membenarkannya."


Yuna merapikan pakaian berkerah milik Jessy agar tampil maksimal disesi pemotretan. Disisi lain salah satu staff tidak sengaja menyenggol softbox besar dan akan terjatuh mengenai keduanya.

__ADS_1


"Awas Yun!"


Aga berlari, dengan sigap memeluk tubuh Yuna dan membiarkan punggungnya yang kokoh terhantam benda, pun dengan Jessy yang langsung terjatuh kebelakang karena Aga lebih memilih melindungi Yuna.


"Aww!" pekik Jessy kesakitan.


"Yun, kamu tidak terluka, kan?" Aga melihat seluruh tubuh Yuna, memastikannya baik-baik saja.


"Iya, aku baik-baik saja, Ga."


"Syukurlah."


Aga jadi lega, lalu ia menoleh pada Jessy yang masih duduk sambil menunduk. Aga baru tersadar bahwa Jessy juga butuh perlindungan.


"Jessy, aduh maaf ya. Kamu tidak kenapa-kenapa kan?"


Tanya para staff menghampiri, ingin membantunya berdiri. Namun Jessy menolak, ia berdiri sendiri dengan marah, ia begitu kesal karena Aga lebih memilih menolong asistennya daripada dirinya.


"Ga, kamu susul Jessy sekarang! Sepertinya dia marah."


"Tapi Yun, kamu benar tidak kenapa-kenapa kan? Tidak ada yang luka, kan?"


Yuna mengangguk dengan tenang. "Iya."


"Baiklah, aku akan mengejar Jessy."


Aga mencoba mengejar Jessy namun langkahnya pun terhenti, ia berpikir ulang bahwa lebih baik begini, ia tidak terlalu untuk membohongi Jessy akan perasaannya.


Sedangkan Jessy menoleh kebelakang ketika berjalan dengan kesal, ia berharap Aga mengejarnya namun ternyata tidak.


"Jes, kamu kenapa?"


Ia berharap itu Aga, tapi ternyata tak seperti yang diharapkannya.


"Vale." ada nada kecewa.


"Kamu lagi marah ya?" tebaknya.


Jessy hanya menunduk, lalu mengangguk. "Aku marah sama Aga, aku benci dia." sahutnya kesal.


"Aku mengerti, dia memang pria yang dingin tapi dia adalah pria yang paling baik. Aku berkata begini bukan karena dia sepupuku, tapi aku sendiri dia pria seperti apa."


Jessy mengangguk. "Iya, aku tahu itu."


"Bersabarlah! Lambat laun dia pasti akan membalas perasaanmu, kamu hanya perlu bersabar."


"Vale."


Vale pun menoleh. "Iya?"


"Menurut mu aku bagaimana?"


Ketika mereka saling menatap, Vale merasakan sesuatu yang bergejolak. Ia jadi salah tingkah, karena baru kali ini merasakan bedabaran di dadanya.

__ADS_1


"Se-sebaiknya kita keruang perawatan saja, lenganmu terluka, kamu harus mengobatinya." ucapnya salah tingkah.


"Vale, aku kan bertanya." kesalnya, Vale malah berbicara hal lain.


"Sudahlah, ayo ku antar!"


Dengan wajah cemberut Jessy mau tak mau mengikut langkah Vale, ketika lelaki itu mendorong tubuhnya untuk keruang perawatan.


****


Rino saat ini tengah geram, kali ini ia kalah. Bagaimana ia tidak mengetahui bahwa salah satu pemegang saham terbesarnya ialah Aga.


"Bagaimana bisa dia membeli saham ku tanpa ku sadari?"


"Tuan Aga membeli saham ketika Anda sibuk mencari Nona Yuna yang tengah hilang waktu itu, ketika itu perusahaan mengalami masa sulit sehingga Tuan Aga bisa membeli saham kita di waktu rendah."


"Brengsek!" umpatnya. "Ternyata dia sudah merencanakan ini sebelumnya untuk menghancurkan ku."


Ketika itu pula Sekretarisnya memasuki ruangan, membuat Rino menoleh padanya.


"Tuan Aga datang untuk menemui Anda." ucapnya memberitahu, sebelum undur diri.


"Hallo Tuan Rino yang terhormat." sapa Aga tiba-tiba memasuki ruangan, khas dengan senyumannya yang sombong.


"Ada apa kau datang kemari?"


Aga tak langsung menjawab, ia berjalan dan langsung duduk di sofa tamu tanpa dipersilahkan. "Tidak perlu tegang, aku hanya datang melihat perusahaan yang sebentar lagi akan jatuh ke tanganku."


"Jangan harap kamu bisa merebut perusahaan yang sudah ku bangun dengan susah payah!"


Aga tertawa meledek. "Apa kau yakin bisa mempertahankannya?"


"Aku yakin, aku mengambil kembali apa yang sudah menjadi milikku. Seperti halnya aku merebut Yuna darimu."


"Cih! Kamu bisa saja merebut dirinya, tetapi tidak hatinya. Aku benar bukan?"


Rino jadi mengepalkan tangannya, penuh kemarahan. "Lihat saja nanti, aku akan merebut apa yang sudah menjadi milikku. Aku akan merampasnya. Sama halnya ketika aku membunuh bayimu."


Seketika Aga membelalak, berdiri dari duduknya. "Apa yang kamu katakan barusan?"


Rino tertawa licik. "Aku membunuh bayimu didalam rahim istriku, karena aku tidak sudi membesarkan seorang anak yang mengalir darah seorang brengsek seperti mu."


"BADJINGAN!"


Aga langsung memberi Rino sebuah pukulan keras hingga lelaki itu terkapar dilantai.


"Dasar iblis! Kamu pembunuh! Kamu lebih menjijikkan dari dugaan ku."


Aga diatas Rino yang terbaring lemah, ia menghantamkan pukulan berkali-kali sampai lelaki itu tak berdaya, mengeluarkan banyak darah dari mulutnya, rahangnya terasa retak.


"Hentikan Tuan, Anda akan menjadi seorang pembunuh." ucap Leni meringis ngeri.


Kalau saja Leni tak menghentikannya, mungkin saat ini ia sudah menjadi seorang pembunuh.

__ADS_1


Setelah Aga tersadar dari amarahnya, ia langsung pergi meninggalkan Rino yang sudah tak berdaya. Ia langsung pergi untuk meminta penjelasan kepada Yuna.


__ADS_2