AGA DAN YUNA

AGA DAN YUNA
23


__ADS_3

"Ah, kenapa tiba-tiba hujan sih? Mana pak Han lama banget jemputnya." keluh Yuna, mencoba menutupi kepalanya dengan kedua tangan.


Guyuran air hujan yang mulai membasahi bisa ia rasakan, namun tiba-tiba hujan seakan berhenti mengguyuri tubuhnya seketika membuat Yuna keheranan dan menoleh kebelakang.


"Aga."


Yuna kaget karena tanpa terencana seseorang yang tak terpikirkan olehnya akan bertemu, ia malah sedang berdiri dihadapannya sambil memayunginya.


"Mari kita berbicara!" pinta Aga, dan mau tak mau Yuna mengindahkannya.


Kini mereka berdua duduk saling berhadapan dengan segelas kopi hangat yang telah menjadi dingin didepannya, karena mereka berdua hanya terdiam.


"Bagaimana kabar mu?" tanya Yuna, memecah suasana.


Aku menangisi mu setiap malam, bahkan aku lupa caranya menelan makanan. Dan sekarang kamu menanyakan kabarku seakan tidak terjadi apa-apa?


Aga tersenyum pasi "Aku baik-baik saja."


"Syukurlah, apa paman juga baik-baik saja?"


Aga terdiam sejenak, ia menunduk. "Kamu tidak pantas menanyakan itu."


"Aga, aku tahu yang ku lakukan padamu mungkin sedikit keterlaluan."


Sedikit?


"Tapi bukan berarti aku melupakan paman yang sudah ku anggap seperti orangtua kandungku sendiri." imbuhnya.


"Ck!" Aga tersenyum miris mendengarnya.


Ketika Aga meraih gelas lalu meneguk isinya, Yuna melihat cincin yang sama dua tahun lalu masih melingkar di jari manisnya.


"Kenapa kamu masih memakai cincin itu, Bukan kah kamu sudah tau dari awal aku membohongimu?" protes Yuna.


"Ah ini." Aga jadi salah tingkah lalu mencoba menyembunyikan jemari manisnya, karena jelas sekali Yuna tak nyaman karenanya.

__ADS_1


"Aku tidak pernah ingin bertemu lagi dengan mu, apa kata-kata ku didalam surat belum begitu jelas?" ejeknya.


"Maksud mu?"


"Cih, kamu jangan pura-pura sedang kebetulan bertemu denganku! Aku tahu kamu mencari ku dan ingin meminta penjelasan dari ku, kan? Kamu mungkin sakit hati dengan apa yang sudah ku lakukan dua tahun lalu, tapi bukan kah kita sudah impas?


"Apa kau bilang?" Aga terheran, mengepalkan tangan menahan emosi dengan segala yang telah Yuna ucapkan.


Dengan sikap angkuh Yuna beranjak berdiri. "Jangan masuk kedalam kehidupan ku lagi! Karena aku tidak akan pernah kembali."


Setelah mengucapkan kalimat menyakitkan itu dengan angkuhnya Yuna berbalik untuk pergi meninggalkan Aga sendiri, akan tetapi tiba-tiba Aga memegang pergelangan lengannya.


"Kau pikir kau siapa? Kau mengharapkan dunia ku hancur ketika ku kau tinggal pergi? TIDAK! Bahkan ucapan manis mu dan kebaikan palsu mu itu tidak mampu membuatku menangis. Kamu hanya seorang gadis biasa yang baru ku temui beberapa bulan, kamu pikir aku merindukan mu? Cih!"


Aga melepas kasar cengkeramannya di pergelangan tangan Yuna, hingga Yuna mengaduh kesakitan namun ia tahan.


"Aku hanya ingin memberitahu kalau ayah sudah meninggal dua tahun lalu." ucapnya kemudian berlalu pergi meninggalkan Yuna yang sedang mematung.


Yuna begitu kaget mendengarnya, bahkan kakinya terasa lemas seketika, hingga ia jatuh terduduk dilantai. Ia menangis.


Yuna menangis histeris, dia begitu menyesal. "Ini semua karena ku, paman! Ini semua salah ku."


****


"Pak Han, Yuna Sekarang dimana?"


"Nona sedang di kamarnya Tuan, semenjak tadi malam Nona tidak keluar kamar." sahutnya pada Rino.


"Apa kamu tahu dia kenapa?"


"Saya tidak tahu persis Tuan, akan tetapi semalam saat saya menjemput Nona, saya melihat Nona sedang menangis."


Rino mengerut kening, bertanya-tanya. Karena Yuna bahkan tidak mengangkat telfon darinya.


"Oke baiklah, aku akan menemuinya."

__ADS_1


Rino pun segera memasuki kamar Yuna yang tak terkunci, ia menemukan Yuna telah beranjak berdiri dari tidurnya.


"Sayang, apa kamu kurang enak badan?" Rino langsung menghampiri Yuna lalu memegang dahi Yuna dengan punggung tangan.


Yuna tersenyum lemah, "Sepertinya begitu."


"Biar ku hubungi dokter pribadiku untuk kemari memeriksa keadaan mu."


"Tidak perlu Rin, aku hanya butuh beristirahat saja." tolaknya.


"Baiklah, aku akan menjaga mu kalau begitu."


"Ah tidak perlu, kau kan sibuk dan harus bekerja."


"Yah! Kamu itu calon istriku, beberapa hari lagi kita akan menikah. Bagaimana mungkin aku meninggalkan calon istriku yang sedang sakit sendirian."


Yuna memukul dada Rino gemas. "Apa tidak masalah kamu meninggalkan pekerjaan mu demi menemani ku?"


"Bukan masalah besar, kau yang terpenting bagiku saat ini." mengelus rambut Yuna lalu mengecup keningnya.


"Terimakasih." ucapnya ketika berada diperlukan Rino.


****


"Ada apa?"


Rino berinisiatif bertanya ketika melihat Yuna hendak ragu-ragu untuk berbicara padanya.


"Aku ingin berkata jujur padamu," Yuna gelisah. "Sebenarnya semalam aku bertemu dengan Aga."


Seketika Rino terdiam, menghentikan kegiatan mengunyah buah apel sejenak. "Lalu bagaimana dengan mu?"


"Kita hanya tak sengaja bertemu saja, dan dia juga mengatakan bahwa..." Yuna kembali terisak. "Bahwa paman sudah meninggal."


Melihat Yuna terisak, Rino langsung menghampiri dan memeluknya guna memberi ketenangan. Yuna pun mencurahkan kesedihan, menangis didalam pelukannya.

__ADS_1


Entah, apa kamu sedang menangisi kepergian pamanmu atau Aga yang masih melekat di hatimu.


__ADS_2