
"Nak, kamu sudah bangun?"
Tanya seorang wanita paruh baya, kebetulan ia menemukan Yuna ketika pingsan dan segera membawa kerumahnya.
"Maaf, bagaimana bisa saya ada disini?" Yuna begitu bingung, serta ia memegangi kepalanya yang masih terasa pening.
"Kebetulan ibu dan anak ibu menemukanmu tergeletak, jadi kami segera membawamu kerumah."
Yuna jadi teringat, bahwa ia sebelumnya memang merasakan sesak serta penglihatannya kabur dikala itu. "Terimakasih sudah menolong saya."
Ibu itu mengangguk, sembari mengelus punggung Yuna yang rapuh. Sangat jelas sorot mata kesedihan tergambar diwajahnya, tak biasa disembunyikan.
"Nona, anda sudah siuman?"
Leni datang membawa obat yang baru saja ia beli di apotik.
"Leni," Yuna tak menyangka, bahwa orang yang ia kenal yang telah menolongnya.
"Iya Nona, ini obat yang saya beli di apotik. Minumlah agar pusing Anda sedikit reda!"
Leni menyodorkan obat, dan Yuna segera menelannya, meminumnya bersamaan air putih yang telah disediakan oleh ibu Leni.
"Maafkan aku sudah merepotkan mu dan ibu mu."
"Bukan masalah besar kok Nona, kami akan selalu membantu orang yang membutuhkan pertolongan."
"Terimakasih." sahut Yuna pilu, lalu memegang jemari Leni memohon. "Tolong jangan ceritakan hal ini pada siapapun, termasuk Aga!"
"Tapi Nona."
"Aku mohon, Len."
Leni mengangguk mengiyakan meski dengan berat hati. Ia tahu bahwa keduanya mengalami masa sulit, apalagi Tuannya Aga, Leni sudah sangat mengenal keduanya begitu lama. Meski tak akrab, tapi Leni tahu cerita tentang mereka berdua.
"Baiklah, kalau begitu ibu akan ke dapur. Kalian berdua mengobrol lah."
"Terimakasih."
Ibu Leni ke ke dapur, pergi menyiapkan makan malam untuk bersama. Sedangkan Yuna dan Leni duduk ditepi ranjang berdua.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu Nona?" tanya Leni penasaran. "Maaf kalau saya lancang bertanya begini, tetapi memendam kesedihan seorang diri itu akan menyakiti diri sendiri."
__ADS_1
Yuna menundukkan kepalanya, menutup matanya yang akan berair. Ia tahan.
"Saya pendengar yang baik dan pandai menyimpan rahasia. Meski saya tidak bisa membantu, setidaknya saya bisa mengurangi beban dalam Nona."
Yuna mulai menghela nafas guna menenangkan pikirannya. "Kamu pasti tahu selama ini aku jahat pada Aga."
Leni pun mengangguk mendengarkan, sebelum kemudian Yuna lanjut berbicara.
"Dalam hidupku, aku selalu berusaha yang terbaik. Ketika kedua orangtuaku tiada, aku masih terus berusaha yang terbaik untuk hidupku karena aku merasa menemukan kebahagiaan di senyuman Aga. Mungkin anak seusiaku dulu masih sibuk belajar untuk menggapai cita-citanya, tapi impianku hanyalah menikah dengan Aga dan hidup bersamanya. Ha ha aneh bukan?" Yuna tertawa sebelum terisak kembali ketika mengingat pertamakali jatuh cinta dan bertahan hidup karena Aga. "Aku ingin menjadi atlit renang hanya semata ingin membuat Aga bangga, karena dialah orang pertama yang mengajariku caranya berenang dan aku mulai menyukai hal hal yang Aga pun suka."
"Anda pasti sangat mencintai, Tuan."
Yuna mengangguk. "Sangat, sebesar itu perasaanku, maka sebesar itu pula rasa sakit hatiku ketika aku melihat Aga mengkhianati ku. Mendengar kenyataan bahwa dia tidak pernah mencintaiku membuat ku begitu sakit." Ia menoleh pada Leni. "Karena sakit hati yang aku rasa, aku sampai kehilangan akalku. Menyesal? Sepertinya sudah terlambat untuk mengatakan itu, karena Aga pasti sangat membenciku."
Leni memegang jemari Yuna, guna menyemangatinya. "Saya yakin Tuan Aga pasti masih bisa memaafkan Nona."
"Aku tak yakin, Len." sahutnya pasrah, dengan nada putus asa. "Aku sekarang sudah menjadi istri orang."
"Tapi Anda tidak bahagia dengan suami Anda."
"Apa terlihat jelas dari wajahku kalau aku tidak bahagia?"
Memikirkan itu membuat Yuna terisak kembali.
"Jangan menyiksa diri Nona!"
"Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan, seakan semuanya sudah sia-sia dan berakhir saja. Mungkin ini juga bentuk hukuman untukku, dan aku pantas mendapatkannya."
"Tidak Nona, Anda berhak bahagia."
Yuna pun memeluk Leni, mencurahkan segala perasaannya. Leni pun membalas pelukan Yuna, menepuk punggungnya pelan guna memberi kekuatan.
"Menangis lah Nona, tidak apa. Tenangkan hatimu!"
Ibu Leni tak sengaja menyaksikan itu, merasa ikut pilu.
****
"Bu, boleh saya menginap disini semalam saja?" Yuna memohon, disela makan malamnya bersama.
"Nak Yuna boleh menginap disini kapanpun nak Yuna mau, anggap saja rumah sendiri." sahutnya, mengambilkan laut lalu menaruhnya diatas nasi milik Yuna. Ia tahu kalau Yuna butuh sendiri. "Makan yang banyak, biar sehat kembali! Lihatlah si Lina, dia terlalu banyak makan sampai gendut begitu."
__ADS_1
"Yah, ibu!" Lina merengut kesal. "Ibu selalu memasak banyak makanan, sayang kalau aku tidak menghabiskannya."
"Iya iya, ibu tahu. Makanlah!"
Yuna melihat keduanya jadi melukis senyum, sangat menyenangkan makan bersama dengan keluarga. Seperti halnya dirinya dulu setiap kali makan bersama dengan pamannya.
Aku rindu paman.
Setelah selesai makan malam, dan hari semakin larut malam. Yuna masih terjaga, ia duduk di bangku taman depan rumah Leni sambil melihat langit yang cerah malam ini.
"Kenapa belum tidur?"
Suara ibu Leni terdengar menghampiri, membuat Yuna menoleh.
"Saya masih tidak mengantuk." sahutnya, menatap langit kembali. "Ibu sendiri kenapa belum tidur?"
"Ibu juga belum mengantuk, entah mengapa malam ini langit begitu cerah."
"Iya, sangat indah." sahut Yuna, menatap langit malam.
"Nak." ucapnya seraya memanggil, membuat Yuna menoleh kembali.
"Iya?"
"Ibu tidak tahu apa yang terjadi padamu, tapi memendam semua sendirian itu tidak baik."
Yuna mengangguk sedih, "Iya, ibu benar."
"Dulu ibu sama seperti mu, suka memendam semuanya sendiri. Ibu memilih diam karena waktu itu ibu berpikir bahwa kebahagiaan Leni begitu penting, tanpa menyadari bahwa ibu memberi trauma pada anak itu."
Ibu Leni menghela nafas, sebelum kemudian melanjutkan bicaranya. "Tidak semua yang kita pikir baik, akan baik untuk diri kita. Jangan menyiksa diri!"
"Aku hanya bingung apa yang harus saya lakukan saat ini."
Memegangi dada Yuna. "Bertanyalah pada hatimu, Nak! Bergeraklah mengikuti hatimu, karena hati tidak akan mungkin berbohong! Mungkin semuanya terlambat untuk diperbaiki, tetapi kamu akan tenang ketika mengikuti kata hatimu sendiri."
"Ibu." Yuna jadi memeluk ibu Leni. "Terimakasih sudah mengingatkan ku!"
Disisi lain Rino begitu bingung dan kesal, sampai larut malam pun Yuna tidak pulang kerumahnya. Bahkan ponselnya tidak aktif sehingga Rino tidak bisa menghubunginya.
"Yuna, kamu dimana?"
__ADS_1