AGA DAN YUNA

AGA DAN YUNA
48


__ADS_3

Minum, sekarang adalah kebiasaan Yuna guna menjernihkan pikirannya. Sama halnya saat ini, ia menundukkan kepalanya setengah sadar.


"Aga." gumamnya, pada sosok bayangan menyerupai Aga.


Ia juga menoleh pada bayangan pamannya yang tiba-tiba datang. "Yun, paman membawa oleh-oleh untukmu. Lihat! Kamu pasti sangat menyukainya."


Setiap sudut ruangan penuh dengan gambaran serta kenang-kenangan. Yuna begitu tampak senang walau hatinya sakit karena kerinduan, ia sampai meneteskan air matanya ketika mengingat itu semua.


"Si Ringkih sangat cengeng."


Aga berucap dalam bayangan Yuna, lelaki itu seakan duduk disampingnya menemani serta memperhatikannya.


Yuna menatap lekat pada bayangannya, bahkan ia meneteskan air mata tanpa berkedip karena tak ingin bayangannya ini hilang.


Rumah ini, tempat dimana ia dibesarkan bersama dengan orang yang ia sayang. Paman dan juga Aga. Begitu menyakitkan ketika dihadapi kenyataan mereka semua harus berpisah.


"Aga, Paman. Aku rindu kalian. Hiiiiks."


Dada terasa sesak, begitu pilu seakan tak ingin bernafas. Menanggung semua beban sesal sangat menyakitkan ketika melihat kenyataan. Bahkan tak ada seorangpun yang mampu mengerti dan menjadi pelipur hati, Yuna hidup seorang diri.


Disisi lain Aga juga merasa gundah, ia ingin melupakan Yuna. Ia berjalan tak tahu arah, namun entah kenapa ia menuju rumah kediaman mendiang ayahnya.


Disana Aga sedikit terheran karena lampunya menyala. "Kenapa lampunya nyala?"


Karena rasa penasarannya, ia memasuki rumah yang kebetulan tak terkunci dan betapa kagetnya ia menemukan Yuna duduk dilantai bersandar kaki sofa.

__ADS_1


"Yuna."


Aga datang menghampiri, duduk sebelah Yuna yang sudah mabuk. Sedangkan Yuna hanya menoleh dan tersenyum, sebelum kemudian ia menangis kembali karena ia pikir itu hanya halusinasinya saja.


"Aku merindukanmu sampai seperti orang gila begini," ucapnya dalam tangis. "Maafkan aku!"


Aga hanya terdiam, ia tertegun dengan sikap Yuna. Perkataan itu membuat hatinya pilu, matanya pun nanar.


"Kenapa kamu seperti ini, Yun? Aku sudah merelakan mu bahagia. Lalu kenapa kamu menangis dihadapan ku seperti ini?"


"Hiiiikss."


Yuna hanya bisa menangis tersedu-sedu, Aga yang melihatnya ikut bersedih. Ia lalu memeluk Yuna, membawa wanita itu kedalam pelukannya.


"Maafkan aku yang tidak bisa menjaga anak kita."


"Aku memang jahat dan bodoh." umpatnya pada dirisendiri.


"Tidak Yuna! Akulah yang bodoh karena membiarkan mu pergi, seharusnya aku tetap tinggal agar kamu tidak menangis seperti ini."


"Aga, apa ini benar perkataan mu? Ini bukan hanya halusinasi ku kan?" tanya Yuna ketika Aga melepas pelukannya.


Aga mengangguk, menghapus air mata Yuna dengan jemarinya. "Setelah semua usaha yang kamu lakukan. Semua air mata yang terpaksa kamu sumbangkan. Ternyata, kenyataan membuka matamu untuk menerima kegagalan atas hidup mu. Apa yang bisa kamu perbuat? Siapa yang berhak kamu salahkan? Tidak ada yang bisa kamu hujani cacian, meskipun itu dirimu sendiri. Sebab, dalam hidup tidak ada yang benar-benar bisa kamu rencakan. Jadi tidak perlu menyesal Yuna! Kamu hanya berusaha yang terbaik untuk hidupmu."


"Aga."

__ADS_1


Yuna jatuh dalam pelukan Aga, mencurahkan semua isi hatinya dalam kehangatannya.


"Jangan bersedih hanya karena seorang yang menyia-nyiakan mu! Mulai sekarang kamu hanya boleh bersedih untukku, menangis juga karena ku!"


"Mengapa?"


"Karena aku masih mencintaimu."


"Bukan kah kamu sudah sangat membenciku?"


Aga tersenyum miris, ia hanya berkata karena hatinya waktu itu terluka. Namun sampai sekarang dia tidak bisa mengubah rasa yang masih sama.


"Ya, aku membencimu."


Yuna jadi menundukkan wajahnya dan menangis kembali, disaat itu pula Aga menangkup wajah Yuna dengan kedua tangannya dan langsung menghadiahi ciuman di bibirnya.


Semula Yuna kaget dan terdiam, sebelum kemudian ia perlahan membalas ciuman itu. Mencurahkan segala perasaannya yang kian menggebu.


"Yun."


Aga berucap seraya memanggil ketika ia melepas pagutannya. Karena Yuna tiba-tiba bersandar pada dada bidangnya dan tak sadarkan diri karena terlalu mabuk.


Ia berdecak kesal, lalu menggendong tubuh Yuna membawanya keatas ranjang dan mengistirahatkan tubuhnya.


"Aku lebih menyukaimu begini Yun, karena ketika kamu sadar, aku takut kamu pergi meninggalkan."

__ADS_1


Aga menyelimuti tubuh Yuna, berbaring disampingnya dan memeluk tubuhnya.


__ADS_2