
Seperti biasa Yuna memeluk suaminya ketika tidur, namun kali ini tempat disebelahnya kosong. Ia kemudian membuka matanya yang masih berat dengan susah payah.
"Kenapa Rino belum pulang."
Yuna jadi bertanya-tanya, ia menguap berkali-kali menahan kantuk. Namun ia mencoba terbangun dan melirik jam yang masih menunjukkan pukul 05.00 pagi.
"Sepertinya dia menginap dirumah orangtuanya, yaudahlah mau tidur lagi juga nanggung. Lebih baik aku membuat bekal untuknya, sepertinya dia langsung ke kantor."
Yuna pun membuat masakan yang ia buat sepenuh hati dipagi hari, sebelum para pembantu dirumahnya datang.
"Rino pasti suka."
Yuna cekikikan sendiri sembari menghiasi bekal yang dibuatnya.
Sebelum ke tempat kerja, Yuna memilih mengantarkan bekal untuk suaminya dikantor. Ia begitu gembira membayangkan bahwa suaminya akan menyukai masakannya ini.
Namun, ketika ia memasuki gedung, Yuna tak sengaja melihat dua orang sedang berada di dalam lift yang tak lain adalah Rino suaminya dengan Irish mantan kekasihnya.
Melihat pemandangan itu membuat Yuna pias seketika, akan tetapi ia ingin menepis hal negatif dipikirannya. "Aku percaya Rino."
Yuna lebih memilih pergi dengan membawa bekal yang sudah susah payah ia bikin. Akan lebih baik jika Rino tidak mengetahui kalau dirinya datang.
"Rino, terimakasih ya sudah mengijinkan ku untuk bekerja disini sementara waktu dan..."
__ADS_1
"Aku sudah menyiapkan sebuah apartemen untuk kau tempati, jadi kamu tidak perlu menginap dirumah orangtua ku lagi."
"Maafkan aku sudah merepotkan mu, apa kamu masih marah padaku?"
"Marah?" Rino mengernyitkan dahinya, bertanya dengan sikap mengejek.
Irish mengangguk, "Marah karena aku pergi meninggalkanmu."
"Sudahlah, itu hanya masalalu." tegasnya tak suka.
Namun, ketika melihat reaksi Rino hanya kesal. Irish tersenyum karena masih ada harapan untuknya, bahkan semalam Rino rela menemaninya ketika ia menangis tak ingin ditinggalkan.
Aku harus lebih mengambil hati mama Rino.
****
Tapi sekarang kenapa wanita itu tiba-tiba datang lagi, bahkan semalaman Rino tidak pulang kerumah. Apa jangan-jangan mereka berdua?
"Ah tidak-tidak! Aduh, pikiranku kenapa begini sih." Yuna memukul kepalanya, heran dengan pikirannya sendiri.
Ketika itu pula mobil Aga berhenti tepat didepannya, lalu langsung menarik lengannya.
"Masuklah, ada hal yang ingin aku tanyakan!"
__ADS_1
Aga meminta Yuna masuk kedalam mobilnya. Yuna tahu apa yang akan ditanyakan oleh Aga, ia pun juga tak ada pilihan lain selain menjawab keraguan itu semua.
"Jawab aku jujur Yun! Apa anak yang kamu kandung itu adalah anakku?"
"Bukan," sahut Yuna tanpa ragu.
Aga menatap Yuna dengan serius. "Tatap mataku Yun dan katakan yang sebenernya!"
"Memangnya apa yang ingin kamu harapkan? Kamu pikir jika ini benar anakmu, kamu akan bisa merebutnya dariku. Tidak akan bisa Aga!"
"Jawab aku Yun! Anak siapa dikandungan mu itu?" desak Aga tak peduli ocehan Yuna. "Jika benar dia anakku, ijinkan aku merawat dan membesarkannya dan jika bukan.... aku tidak akan pernah menaruh harap lagi padamu."
"Aku sudah menikah, tentu ini adalah anakku dengan Rino." sahut Yuna dengan susah payah.
"Ah, iya kamu benar, kamu sudah menikah." Aga jadi lemah, melepas genggamannya.
Yuna melihat Aga bersedih membuat hatinya ikut berkecamuk, bagaimana ia tega memisahkan seorang anak dengan orangtua kandungnya. Akan tetapi ia akan lebih bersalah pada suaminya yang telah banyak berkorban untuknya, jadi ia harus tega membiarkan Aga bersedih dan menjauh darinya.
Aga menghela nafas berat, guna menetralkan pikirannya sebelum ia menoleh dan berbicara kembali dengan Yuna, "Terimakasih sudah pernah mencintai ku, terimakasih sudah menjadikan ku bahkan bukan diriku sendiri. Terimakasih untuk semuanya Yun, mulai sekarang aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku akan melupakanmu!"
Yuna menahan tangis ketika mendengar kata menusuk relung hatinya, ia bahkan memalingkan wajahnya agar Aga tak mengetahui matanya yang sembab.
"Aku sudah melepas mu, jadi kamu harus bahagia!" ucap Aga terakhir kali, sebelum Yuna turun dari mobil lalu Aga melaju pergi.
__ADS_1
"Kamu pun juga harus bahagia Aga!" ucap Yuna penuh Isak tangis, ia menghancurkan hatinya sendiri.
Berapa kalipun ia mencoba untuk membenci, namun Aga yang selalu terparti didalam hati.