
Kamu tahu benar aku luluh dengan tatapan penuh cinta. Aku selalu saja luluh dan percaya akan semua kata yang kamu lontarkan tanpa memikirkannya. Apa karena itu kamu tidak ragu untuk melukai ku? Apa karena salah ku di masa lalu membuat mu tak ragu untuk menyakiti ku?
Kamu pikir aku baik-baik saja tanpamu? Kamu salah, aku terluka. Cinta yang ku berikan dengan tulus kamu lukai dengan sengaja. Apa kamu pikir aku masih bisa bertahan karenanya?
Aku bahkan tidak dapat menelan apapun, tidak peduli apapun dengan dunia. Yang ada saat ini aku melawan untuk menyembuhkan luka.
Aku tak mengira, cinta yang ku beri dengan sepenuh jiwa justru kamu menjadikan alasan untuk melukai ku dengan sengaja.
"Bagaimana keadaan Aga, dok?"
"Ia hanya perlu beristirahat dan makan yang cukup, sepertinya pasien ketertekanan dan tidak ada niat untuk sembuh."
"Itulah masalahnya dok, saat kejadian itu dia jarang tertidur bahkan makan pun jarang."
"Saya menyarankan untuk ke psikiater guna mengembalikan kesehatan mentalnya." ucap dokter yang menangani Aga sebelum ia berlalu pergi.
Sejak hari pernikahan sepupunya, Vale tidak kembali ke negaranya karena ia begitu khawatir serta prihatin dengan keadaan Aga. Belum lagi ia mendengar kabar atas kematian pamannya selang beberapa hari dari kejadian tersebut, tentu hal itu membuat Aga semakin frustasi dan tak mempunyai seseorang untuk berkeluh lagi.
"Apa dia mengira sepupu ku sakit mental?" gumam Vale kesal.
Ia lalu menatap Aga yang duduk termangu didekat jendela, tatapannya penuh duka dan tak hentinya berderai air mata.
Rasa penyesalan yang menyeruak didalam dadanya masih tersimpan rapi didalam sana.
Tubuh Aga kian kurus, bahkan wajahnya pucat pasi serta tatapannya selalu kosong. Ia buka hanya ditinggal oleh orang yang ia cinta, tapi ia juga telah kehilangan orangtuanya.
"Kamu seorang pria, sampai kapan kamu tetap begini, Aga?"
****
Kini sudah dua tahun berlalu, Aga tak seperti dirinya yang dulu. Ia menjadi pria pendiam dan bahkan tak peduli apapun.
"Hei sepupu, nanti malam kau ada waktu tidak? Aku ingin mengenalkan mu dengan seorang teman ku."
Vale duduk didepan Aga yang tengah menyibukkan diri dengan tumpukan berkas di depannya.
__ADS_1
"Tidak ada." sahutnya singkat.
"Temanku ini seorang gadis yang cantik, bahkan dia seorang model. Kau pasti menyukai nya."
"Aku tidak bisa, aku sibuk."
"Ck! Sampai kapan kau akan terus begini? Bukalah hatimu meski sedikit, setidaknya temui temanku itu meski hanya satu kali. Bagaimana?"
"Tidak Vale, aku sudah mengatakan berulang kali pada mu. Aku tidak berminat." geramnya.
"Ah gimana? Aku sudah membuat janji dengan temanku itu, dia bahkan rela datang jauh-jauh dari luar kota hanya untuk berkenalan dengan mu."
"Kau ya! Bisa-bisanya kau membuat janji dengan seseorang tanpa memberitahu terlebih dahulu." melemparkan bolpoin mengenai dahi Vale hingga mengaduh.
"Jika tidak begitu kau akan terus menolak," sahutnya beralasan. "Setidaknya kali ini saja, dia orang yang pandai berbicara dengan orang yang baru, jadi kau tidak akan kesulitan. Ku mohon, kau mau ya?"
Aga menghela nafas kasar, dia sendiri berfikir bahwa tidak ada salahnya mencoba bertemu dengan seseorang yang baru. Lebih lagi ia tidak ingin mengecewakan Vale yang sudah lama menemaninya, bahkan tanpa bosan menawarkan beberapa wanita untuknya.
"Baiklah, akan ku coba."
Vale sangat senang usahanya kali ini berhasil untuk menjodohkan Aga dengan temannya. Setidaknya ini selangkah lebih maju.
****
Aga berdiri didepan cermin yang membentang, ia mengenakan kemeja serta menyisir rambutnya kebelakang begitu rapi. Namun setelah ia berpikir kembali, untuk apa dia repot-repot seperti ini.
"Yang harus ku lakukan hanya datang lalu menolaknya."
Ia pun kembali membuka kemejanya, mengganti dengan kaos putih polos lalu menggunakan sweater berwarna coklat muda guna menghangatkan tubuhnya. Aga pun tak lupa untuk mengacak rambutnya yang telah rapi, memberi sentuhan poni yang terkurung di dahi.
Kini ia telah sampai di suatu caffe yang sudah temannya rencanakan. Aga mengedarkan penglihatannya mencari wanita yang akan ditemuinya itu.
"Permisi, kau Aga teman Vale, ya?" tanya seorang wanita, mendekatinya.
"Iya benar."
__ADS_1
"Kenalin, aku Jessy," mengeluarkan tangan, namun Aga mengacuhkannya.
Tanpa malu Jessy menarik tangan Aga agar mau berjabat dengannya, tentu Aga kaget karena wanita ini begitu lancang padanya.
"Tidak perlu kaku, aku sudah banyak tahu tentang mu dari Vale. Jadi aku tidak akan marah jika kamu dingin kepadaku." ucapnya tersenyum tanpa dosa.
Aga mengerut kening bingung. Apa-apaan wanita ini, gila ya?.
"Aku sudah memesan meja untuk kita, sebaiknya kita duduk sambil mengobrol lebih nyaman." Jessy menunjuk sebuah meja yang berada dekat dengan jendela.
Tanpa menjawab Aga melangkah dan duduk di kursi saling berhadapan dengan Jessy.
Dengan mengulas senyum malu Jessy menatap lekat wajah Aga yang memesona. Dengan penampilannya yang sederhana saja sudah mambuat hatinya berdebar.
"Sempurna." ucap Jessy tanpa sadar.
Aga menoleh. "Apa yang kau bicarakan?"
Jessy membelalak kaget dengan tingkahnya sendiri. "Ah tidak, maksudku kamu mau pesan makanan apa?"
"Aku minum saja."
"Baiklah."
Jessy pun memberi tahu pelayan beberapa menu yang ia pesan, sedangkan Aga menatap keluar jendela melihat beberapa kendaraan yang berlalu lalang ditengah gerimis yang baru saja turun.
Ketika itu pula ia melihat sesosok gadis yang sudah lama ia rindukan berada diseberang jalan seorang diri.
"Sudah ku duga akan turun hujan, untunglah aku membawa payung." gumam Jessy, membuka pembicaraan.
"Kau bawa payung?" tanya Aga dengan tiba-tiba.
"Iya, aku membawanya untuk berjaga-jaga."
Aga langsung beranjak berdiri dan mengulurkan tangannya. "Berikan padaku!"
__ADS_1
Tanpa menjawab Jessy memberikan payungnya, dan Aga langsung lari keluar caffe tanpa mempedulikan Jessy yang memanggil namanya.