
"Eeiiits! Kau mau kemana?"
Yuna menghalangi Nisa ketika ia ingin menerobos masuk kedalam ruang kerja milik Aga.
"Mau masuk lah," ketusnya. "Minggir!"
"Oh tidak bisa, Tuan Aga sedang sibuk jadi dia tidak bisa diganggu."
Nisa menyunggingkan bibirnya kesal, "Memangnya kau siapa beraninya menghalangiku?"
"Heh kau buta, ya?" menunjuk papan nama diatas mejanya. "Aku ini sekretaris Tuan Aga, jadi kalau ada perlu dengan beliau kau harus ijin kepadaku terlebih dulu."
"Aku tidak peduli."
"Ups maaf, tidak sengaja." ucap Yuna seraya mengejek ketika sengaja menyenggol berkas Nisa hingga berkas itu jatuh berserakan dilantai.
"Kau menyebalkan," umpatnya.
Nisa duduk menunduk memunguti berkas yang berserakan, ketika itu pula Aga keluar dari ruangannya.
Melihat Nisa yang menunduk yang memperlihatkan lekukan dadanya, dengan cepat Yuna mengambil sapu tangan yang berada di sakunya dan ia selipkan didada Nisa dengan lancang.
"Jagalah pakaian mu!" sinis Yuna, berbisik. Kemudian beranjak berdiri menoleh pada Aga. "Tuan sudah makan siang?"
"Belum, aku baru saja akan mengajakmu." sahutnya pada Yuna. "Ada apa datang ke ruangan ku?" tanya Aga ketika melihat Nisa berdiri didepannya.
"Saya ingin memberikan berkas ini, tadi Tuan meminta Leni untuk memberikan laporan keuangan bulan ini." menyodorkan berkas.
"Aku akan menyimpannya." Yuna menyela, mengambil berkas tersebut, lalu menoleh pada Aga sambil memeluk lengannya. "Mari kita makan siang terlebih dahulu!"
"Kamu bisa pergi sekarang, aku akan pergi untuk makan siang bersama Yuna!" pintanya pada Nisa.
"Baik Tuan."
Nisa hanya bisa menunduk kesal melihat mereka berdua melangkah pergi sambil bergandengan. "Sial! Sial! Dasar perempuan sialan!" umpatnya frustasi, membuang sapu tangan yang terselip di dada.
Ketika didalam lift Aga menatap lekat wajah Yuna yang tertekuk, ia mengulas senyum membuat Yuna sedikit takut.
Aga mendekatkan wajahnya pada wajah milik Yuna, hingga gadis itu melangkah mundur dan terhimpit. "A-apa?"
"Kau tadi cemburu, ya?"
"Si-siapa yang cemburu?"
Sontak Aga jadi tertawa melihat Yuna gelagapan begitu. "Tenanglah! Aku tidak akan tertarik dengan wanita lain, selain kamu."
"Cih, siapa juga yang cemburu? Aku hanya tidak suka cara berpakaiannya, seperti kurang bahan saja." ketusnya.
"Ah baiklah, mulai besok aku akan membuat peraturan untuk semua pegawai wanita dilarang memakai pakaian ketat."
__ADS_1
"Dan harus rapi." imbuh Yuna.
Aga tertawa. "Iya."
Yuna jadi lega, sekarang perempuan itu tidak bisa lagi menggoda Aga dengan tubuhnya bak gitar spanyol itu.
"Oh ya, nanti malam kau ada acara tidak?" tanya Yuna disela makannya.
"Aku? Tidak ada," sahut Aga.
"Bagus! Aku akan mengajakmu ke suatu tempat."
Aga tersenyum. "Oke."
****
Kini pun sudah malam hari, Yuna sudah berada didalam mobil menunggu Aga keluar rumah.
"Kita mau kemana?" tanya Aga.
"Kau masuk saja dulu!" pintanya.
Aga pun masuk duduk di kursi depan disamping Yuna. "Biar aku saja yang menyetir, Yun!"
"Ah tidak, aku yang mengajakmu jadi aku yang akan menyetir. Kau tinggal duduk santai saja."
"Oke lah."
Mereka saling bergandengan tangan, berjalan dengan hangat ditengah keramaian.
"Aku ingin membeli gulali kapas," ucap Yuna sembari menunjuk.
"Tunggu disini, aku akan membelikannya untukmu."
Aga pun berlari untuk membeli dua gulali kapas, sedangkan Yuna berdiri menunggu sembari mengedarkan penglihatannya.
Selesai membeli, Aga kembali menemui Yuna, menyodorkan satu gulali kapas untuknya.
"Wah, terimakasih Ga. Aku sudah lama sekali tidak memakan gulali."
Yuna tampak begitu senang, membuat Aga tersenyum lebar. Gulali kapas berwarna pink berbentuk bulat, begitu cantik dan menggiurkan.
"Terus aku mau menaiki komidi putar, boleh kah?"
"Boleh, aku akan memesan tiket."
Setelahnya mereka berdua menaiki komidi putar dan saling berhadapan.
"Gulali ku sangat manis, punyamu gimana?" tanya Yuna sembari makan perlahan.
__ADS_1
"Nih!" menunjukkan gulali miliknya tapi malah berakhir menyatu dengan gulali milik Yuna dan susah dilepaskan.
"Yah, gimana caranya ngelepasinnya?" Yuna jadi tertawa.
"Ini terbuat dari gula jadi tidak bisa terlepas, jadi kau makan saja milikmu."
Yuna kembali melahap gulalinya, begitupun Aga yang kini harus mendekatkan dirinya sambil menatap wajah Yuna begitu dekat.
Ketika mereka berdua tak sengaja saling menatap, Yuna dan Aga jadi salah tingkat. Mereka tak jadi memakan gulali itu lagi, justru malah melihat kesembarang arah guna menghilangkan kegugupannya.
Wajah keduanya merona, pikirannya sudah kemana-mana.
"Kenapa kamu mengajak ku kemari?" tanya Aga memecah suasana, ketika mereka lama terdiam.
"Ada sesuatu yang ingin ku tunjukkan padamu, tapi tidak sekarang." sahutnya. "Tempat ini adalah kenang-kenangan ku bersama kedua orangtuaku. Aku suka sekali menaiki komidi putar sambil memakan gulali kapas."
Aga mengelus kepala Yuna, ketika gadis itu terlihat sedih. "Maaf aku sudah menanyakan hal yang membuat mu sedih."
"Tidak apa-apa," menyeka air matanya yang tak sengaja menetes. "Aku hanya merindukan mereka."
Ketika itu pula, komidi putar telah berhenti dan mereka keluar. "Aku ingin mengajak mu ke suatu tempat." ucap Yuna, menarik tangan Aga agar mengikutinya.
Yuna menuntun Aga berada disebuah bukit yang dari sana mereka bisa melihat taman hiburan yang baru saja mereka kunjungi.
"Aku baru tahu ada tempat bagus seperti ini disekitar sini." ucap Aga penuh takjub.
"Mendiang papa ku suka sekali mengajakku kemari, untung saja tempat ini tidak berubah meski sudah bertahun-tahun."
"Wah, jadi aku begitu sangat beruntung karena mengenalmu, aku bisa melihat pemandangan langka seperti ini."
Yuna melirik jam tangannya, dan inilah waktunya. Ia membalikkan badan menghadap Aga, sambil menyodorkan sebuah kotak yang ia simpan didalam tasnya.
"Aga, selamat ulang tahun."
Aga menoleh, ia tak menyangka bahwa Yuna mengingat hari ulang tahunnya yang bahkan ia sendiri lupa.
"Ini untukmu." menyodorkan sebuah kotak hadiah lalu Aga menerimanya.
"Terimakasih, aku sendiri lupa hari ulang tahunku."
"Aku yang berterimakasih. Terimakasih karena kamu sudah lahir dan menjadi bagian dari hidupku, menjadi bagian dari hari-hari ku yang membosankan, lalu mau menjadi bantal ku agar tertidur lelap." Aga jadi tertawa mengingatnya. " Terimakasih Aga, sudah menjadi seseorang yang aku cintai dan mencintai ku."
"Aku mencintaimu, Yun."
"Aku juga sangat, sangat dan sangat mencintaimu." sahut Yuna penuh yakin.
Aga kemudian mendekatkan dirinya, mengecup kening Yuna lalu tanpa ragu mencium bibirnya dengan hangat. Ciuman kali ini berbeda dengan sebelumnya yang begitu kasar dan tanpa sadar.
Dua manusia saling mencurahkan perasaannya, saling memeluk dan manaut kan bibirnya tanpa terlepas.
__ADS_1
"Yuna, maukah kamu menikah dengan ku?"