AGA DAN YUNA

AGA DAN YUNA
21


__ADS_3

Tibalah kini di hari yang begitu spesial, di hari pernikahan. Para tamu sudah datang, bahkan sanak saudara Aga yang jauh pun datang.


"Aku tidak menyangka sepupu ku ini akan segera menikah, selamat ya."


"Terimakasih, Vale. Aku juga tak menyangka kamu akan datang."


"Ah, di hari spesial sepupu ku yang satu ini aku pasti mengusahakan datang." menepuk bahu Aga.


Vale tinggal di luar negeri, tentu Aga terkesan atas kedatangannya. Apalagi dia orang yang bisa menghidupkan suasana.


"Bagaimana penampilanku?" tanya Aga dengan jantung yang berdebar.


Vale mengacungkan kedua jempol nya. "Perfect." dan Aga tampak begitu lega.


Aga kini sudah rapi dibantu oleh para penata busa dan perias, poninya disisir kebelakang, memakai setelah jas warna hitam, tak lupa sepatu hitam mengkilap agar tampak lebih elegan dan sempurna.


Senyum terus terukir di wajahnya, apalagi saat ia mendengar bahwa para tamu sudah tiba dan memenuhi gedung pernikahan. Beberapa saat lagi ia akan berstatus menjadi seorang suami.


Dengan perasaan berdebar Aga menunggu Yuna datang. "Dia pasti sangat cantik." gumamnya, membayangkan gaun putih membaluti tubuhnya.


"Aga, kenapa Yuna belum datang?" tanya sang Ayah.


"Dia tidak datang bersama dengan ayah?"


"Tidak, dia tadi sedang bersiap-siap dan berdandan. Yuna mengatakan akan menyusul tapi ini sudah hampir satu jam."


"Mungkin dia masih diperjalanan ayah, kita tunggu saja."


Aga pun menunggu dengan gelisah, melirik jam tangannya berulang. Tamu undangan sudah pada berdatangan, bahkan acara akad nikah akan segera dimulai tapi Yuna belum kunjung datang.


Karena telah lama menunggu, bahkan pengunjung sudah bertanya-tanya kenapa acara belum dimulai, lantas Aga berinisiatif untuk menghubungi Yuna namun nomornya tidak aktif.


Aga mulai panik, bahkan matanya sudah nanar. Ia berulang mencoba menghubungi Yuna meski nihil, bahkan ia selalu melirik jam ditangannya.

__ADS_1


"Kenapa pengantin wanitanya belum datang?"


Aga yang cemas dan khawatir langsung pergi dari gedung pernikahan untuk menyusul Yuna, dia tidak bisa hanya menunggu dan berdiam diri saja.


Ia melajukan kendaraannya untuk menyusul calon istrinya itu, namun sesampainya dirumah Yuna sudah tidak ada.


Begitu tahu Yuna sudah tidak ada, pikiran Aga menjadi kemana-mana. Bahkan ia berpikir hal buruk sekalipun.


Dengan buru-buru Aga menuju beberapa rumah sakit dan puskesmas, ia mendatanginya karena takut bahwa Yuna mengalami kecelakaan saat akan pergi ke gedung pernikahan.


"Apa ada pasien bernama Yuna? Dia memakai gaun pengantin." tanya Aga cemas, dengan nafas tersengal-sengal karena sudah mengelilingi setiap rumah sakit yang ada.


"Maaf, tidak ada."


Aga menghela nafas kasar, ia pun bercucuran keringat kelelahan. Ia sedikit lega karena Yuna tidak dirawat dirumah sakit ini namun ia pun kecewa karena belum menemukannya.


"Ayah, apa Yuna sudah datang?"


"Tidak Aga, bahkan sekarang Ayah harus membubarkan acara karena kita sudah menunggu lama." sahutnya diseberang.


Aga menutup sambungan teleponnya, dan kembali mencari Yuna meski lelah.


Entah sudah beberapa jam lamanya ia mengitari wilayah itu, bahkan berkunjung dibeberapa rumah sakit dengan perasaan was-was.


Sampai dirumah sakit yang terakhir, ia menemukan seorang wanita yang baru saja mengalami kecelakaan dan ia cemas mendengarnya.


"Ada pasien wanita baru saja mengalami kecelakaan."


"Dia sekarang dimana, sus?"


"Sedang dirawat di UGD."


Tanpa menunggu waktu, Aga langsung berlari menuju UGD berharap wanita itu adalah Yuna. Namun sayang, ketika Aga membuka pintu terlihat jelas itu bukan Yuna.

__ADS_1


Aga sekarang tak tahu lagi harus mencari Yuna dimana, ia mencoba menghubungi Yuna berulang namun tetap tidak ada kabar.


"Aga, cepat pulang!"


"Apa Yuna dirumah ayah?"


Ia tak menjawab. "Cepatlah pulang!"


"Baik ayah, aku pulang sekarang juga."


Dengan penuh harap dan sedikit kelegaan Aga buru-buru melajukan mobilnya untuk pulang menemui Yuna, mungkin Yuna gugup seperti yang dikatakannya semalam, makanya dia tidak bisa datang. Aga akan memaklumi hal itu.


Setibanya di rumah, Aga buru-buru melangkah masuk kedalam. "Ayah, Yuna dimana?"


Tanpa menjawab, ia menyodorkan sebuah surat. "Bacalah! Ayah menemukannya dikamar Yuna."


Dengan gemetar Aga menerima surat itu, ia melangkah memasuki kamar Yuna, lalu perlahan membacanya.


Air mata yang tertahan pun bercucuran keluar, hal yang tak pernah melintas sedikitpun dipikirannya terjadi. Aga tak mengira bahwa Yuna pergi meninggalkannya dengan sengaja.


Aga berteriak, menangis sejadi-jadinya, bahkan ia memukul dadanya yang terasa sesak. Sesekali ia membenturkan kepalanya yang hanya terisi penuh oleh bayangan Yuna, begitu sakit.


Bagaimana bisa dia sering mengucap kata cinta, lalu dengan mudahnya menipu.


"Yuna."


Hanya nama gadis itu yang terucap oleh bibirnya yang gemetar, ia tak menyangka bahwa selama ini Yuna membohonginya.


Aga, tidak perlu lagi mencariku karena aku tidak akan pernah kembali untuk menemui mu. Anggap saja kita impas, inilah caraku untuk membalas mu. Setiap hari aku tersiksa karena mu dan aku menginginkan hal sama terjadi padamu. Aku ingin kau menderita setiap kali memikirkan ku.


Ku harap kita tidak akan pernah bertemu lagi.


"Caramu terlalu kejam, Yun." tangisnya.

__ADS_1


****


Kena prank Yuna bedebah wkwk


__ADS_2