
"Vale."
Jessy datang dengan Isak tangis, dan Vale menyambutnya dengan pelukan guna memberinya ketenangan.
"Kenapa menangis? Apa karena Aga?"
Jessy mengangguk, "Aku membencinya, aku juga membenci Yuna."
Vale mengelus rambutnya sebelum kemudian memegang kedua pipinya agar menatapnya. "Jika kamu tahu perjuangan mereka, kesedihan mereka, kamu tidak akan pernah membenci mereka."
"Apa maksudmu?"
"Bukankah aku sudah pernah menceritakan kalau mereka dahulu pernah bertunangan karena sebuah perjodohan?"
"Lantas, apa yang membuat aku tak berhak membencinya?"
"Mereka dijodohkan karena mendiang mama Yuna mengorbankan dirinya untuk menolong Aga, sedangkan Yuna tak tahu hal itu. Yuna sangat mencintai Aga namun Aga mengkhianatinya. Disaat itu pula Aga membuat Yuna kehilangan impiannya lagi karena ia menolong Aga dan menyebabkan keretakan di tulang bahunya sehingga Yuna harus mengubur impiannya sebagai atlet. Sekarang kamu bisa merasakannya kan? Bagaimana kebencian Yuna dahulu pada Aga serta penyesalan Aga yang terlambat?"
"Jadi, Yuna menikah dengan oranglain hanya untuk balas dendam?"
Vale tersenyum. "Akhirnya kamu mengerti. Mereka berdua terikat pada takdir dan tidak bisa dipisahkan. Bahkan Aga pernah jadi gila dan jatuh sakit karena Yuna meninggalkannya."
Jessy menunduk. "Ternyata mereka sudah melalui kisah yang sulit, dan aku dengan entengnya menyuruh Yuna untuk meninggalkan Aga."
Vale menarik lembut kepala Jessy agar bersandar kembali pada dadanya yang bidang. "Syukurlah, akhirnya kamu mengerti. Aku tidak suka melihatmu sedih apalagi menangis."
"Kenapa?" Jessy mendongak menatap wajah Vale.
"Karena aku mencintaimu."
Jessy membelalak kaget, ia tertegun dengan pernyataan Vale. Bahkan ketika Vale langsung menyatukan bibirnya dan Jessy perlahan mulai membalasnya.
Vale tersenyum ketika melepas ciumannya, sebelum kemudian ia menempelkan bibirnya kembali dan mencurahkan semua isi hatinya.
****
"Tuan sudah siap?" tanya Leni pada Aga.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, aku sekalipun tidak pernah goyah." sahutnya enteng, dengan angkuh.
Leni sangat mengenal Tuannya ini, ia bisa mengatasi segala hal dan pasti hari ini akan menang.
Ketika mereka memasuki ruang rapat, semua mata tertuju pada Aga. Tak terkecuali Rino yang telah menunggunya sembari mengetatkan rahangnya.
"Bisa kita mulai sekarang?" tanya Leni pada para pemegang saham.
"Hm, bagaimana soal citra Tuan Aga mengenai isu yang beredar?"
"Itu diluar dari..."
"Bukankah sudah jelas?" sahut Aga menyela, membuat Leni tegang dengan jawaban entengnya. "Itu masalah pribadi, dan tidak akan mempengaruhi reputasi perusahaan."
__ADS_1
"Berarti rumor itu benar kan, Tuan?" Rino melemparkan pertanyaan.
Aga menatap tajam sambil memberikan senyuman entengnya. "Bukankah sebelumnya aku juga mendapat rumor yang lebih dari ini?Bahwa aku menjalani pengobatan dan bolak-balik ke psikiater. Lalu, hanya dalam kurun waktu beberapa tahun aku bisa sampai pada posisi ini. Seharusnya masalah hal sepele ini bukan lagi masalah untukku bahkan perusahaan, bukan?"
"Iya benar." para pemegang saham pun saling berbisik dan membenarkan.
Sedangkan Rino yang kali ini kalah, mengepalkan jemarinya penuh amarah.
"Jadi, apakah kita bisa mulai sekarang?" tanya Leni, menstabilkan suasana.
"Baik, mari kita lakukan pemilihannya sekarang!"
Para pemegang saham pun melakukan pemilihan siapa yang berhak memimpin perusahaan menggantikan Rino sebagai pemilik perusahaan.
Dan ya, sudah pasti sembilan puluh persen suara memilih Aga menjadi pemimpin perusahaan sekaligus pemegang saham terbesar. Sehingga posisi Rino saat ini tersingkirkan.
Aga pun menaiki mimbar untuk memberi sambutan. "Terimakasih bagi kalian yang sudah mempercayakan perusahaan ini padaku. Aku akan memberikan wajah baru yang lebih baik untuk perusahaan ini, dan ku pastikan tidak akan membuat kalian kecewa. "
Hanya perkataan singkat membuat segalanya tersihir dan memberikannya tepuk tangan yang meriah.
"Oh tidak!"
Orangtua Rino tercengang atas berita ini, yang mereka lihat melalui siaran televisi secara langsung.
"Bagaimana ini, Pa? Anak kita kalah."
"Itu sudah resikonya Ma, semua ini karena wanita itu sehingga Rino jadi tak becus mengurus perusahaan."
"Yang Papa katakan benar, Mama harus menemui wanita itu agar mereka segera bercerai. Wanita itu hanya memberi kesialan pada Rino." geramnya.
****
"Sepertinya Aga suka ini."
Ia mengambil sebuah pasta lalu ia masukkan kedalam keranjang belanjaannya. Disaat itu pula tiba-tiba ada seseorang yang tengah menjambak rambutnya dari belakang lalu mendorong tubuh Yuna hingga jatuh terkapar.
"Aw!"
"Maaf tidak sengaja." ucap wanita bertubuh jenjang, yang tak lain adalah Irish.
"Apaan, dia jelas sengaja." bisik para pengunjung yang melihatnya.
Mereka berdua menjadi tontonan para pengunjung yang ada. Karena itu pula Yuna langsung bangkit dan tak mau dipermalukan.
"Kenapa kamu melakukan ini?"
"Masih tanya kenapa?" bersindakap angkuh. "Karena kamu pembawa sial buat Rino, gara-gara kamu Rino banyak mengalami hal buruk."
Yuna mengernyitkan dahinya bingung. "Ah, mungkin maksudmu Rino menolak mu? Tenang saja, aku juga ingin bercerai darinya."
"Wanita sialan! Angkuh sekali."
__ADS_1
Ketika Irish hendak melemparkan tamparan, Yuna dengan sigap menahan tangan Irish tersebut dengan tangannya, sedang kan tangan lainnya ia gunakan untuk balik menampar Irish dengan kuatnya.
"Bagaimana? Setimpal kan?"
Yuna menatap tajam, mengejeknya dengan angkuh pada Irish yang menahan kesakitan di pipinya hingga ingin menangis.
"Kamu.. Urgh!" geramnya, merengek.
Disaat itu pula, suara wanita paruh baya membuat Yuna menoleh.
"Aku ingin bicara denganmu, bisa ikut aku sebentar?"
****
"Ada apa mama, maaf. Ada apa Tante menemui ku?"
"Sepertinya aku tidak perlu basa basi, kedatangan ku kesini untuk memintamu segera menceraikan anakku, Rino."
"Kalau hanya itu maksud tujuan Tante menemui ku, Tante salah. Karena aku memang sudah melayangkan surat gugatan cerai kepada Rino tapi dia menolak untuk menandatanganinya."
"Apa maksudmu? Apa sekarang kamu ingin mengatakan bahwa kamu sudah mencampakkan anakku?" geramnya.
"Bukan itu maksudku Tante."
"Cih! Kau pikir kau itu siapa, hah? Wanita rendahan seperti mu tak berhak mencampakkan anakku. Aku akan meminta pengacara untuk mengurus perceraian kalian. Aku tak Sudi punya menantu sundal sepertimu."
"Tolong jaga ucapan Tante!"
"Hah, kamu mau mengelak? Jelas-jelas aku dengar sendiri dihari kamu menghilang, kamu itu kabur bersama pria lain. Mungkin hari ini kamu meminta cerai karena demi lelaki yang kabur bersamamu waktu itu, kan? Ah bodohnya anakku, dia terlalu baik masih mau menikahi mu."
Yuna hanya bisa menunduk, menahan emosi atas penghinaan yang dilontarkan.
"Akhirnya kamu sadar, kemana seharusnya kamu tinggal. Pasti lelaki itu sama sampahnya seperti mu. Ha ha ha, kalian pasti begitu serasi."
"Terimakasih pujiannya."
Tiba-tiba terdengar suara berat nan dalam milik lelaki yang dikenal menyela pembicaraan mereka. Datang dan langsung merangkul Yuna, membawa wanita itu lebih dekat dengannya.
"Aga."
Aga tersenyum renyah tanpa beban. "Terimakasih sudah mengatakan kita pasangan serasi, tapi maaf, sebuah sampah tidak layak mengatakan yang lainnya sampah. Bukan kah seperti itu?" sarkasnya.
Seketika Mama Rino terdiam, begitu kaget ketika tahu lelaki yang diremehkannya itu ialah Aga yang baru saja menyingkirkan posisi anaknya.
"Ma-maaf." hanya kata itu yang mampu dilontarkan dan langsung menunduk memberi hormat.
"Jangan membuang tenaga hanya karena seorang seperti ini!" menoleh pada Yuna. "Mari kita pergi!"
Yuna mengangguk lemah, mengiyakan. Merekapun pergi tanpa permisi. Namun, meninggalkan bekas pada Mama Rino yang sudah dipermalukan itu.
****
__ADS_1
Yuna : "Bagiku Aga adalah kekuatanku."
Aga : "Bagiku Yuna adalah duniaku."