
Yuna tahu bahwa Aga tak rela dirinya pergi seorang diri, akan tetapi Yuna yakin bisa mengatasi masalahnya sendiri.
"Aga, tolong jangan marah!" pintanya, ketika ingin berpamitan.
"Aku tidak sedang marah, lakukanlah sesukamu!"
Dengan melihat ekspresinya saja sudah ketahuan kalau marah. "Aku akan secepatnya kembali."
"Iya, aku juga akan kembali ke apartemen ku. Disana lebih nyaman untukku."
"Aga."
"Pergilah! Aku tidak perlu menawari mu supir pribadiku, kan? Kau bisa kembali lagi dengan suamimu itu seorang diri."
Yuna menghela nafas, ia tak tahu akan menjelaskan seperti apa lagi pada lelaki didepannya ini. "Tunggulah aku! Aku tidak akan pergi lagi darimu."
Yuna hanya mampu mengucapkan kalimat janji itu sebelum iya melangkah pergi menemui Rino, karena ia tak tahu lagi bagaimana caranya membuat Aga percaya lagi dengan kata-katanya.
"Yang aku butuhkan bukan janji, tapi sikapmu seolah bisa mengatasinya seorang diri." gumam Aga bersedih.
****
Sekarang Yuna menghela nafas, menenangkan perasaan serta pikirannya ketika menginjak kembali ketempat dimana ia biasa dengan Rino.
"Yuna."
Rino kaget begitu bahagianya ketika Yuna pulang kembali kerumah, akan tetapi Yuna langsung melangkah mundur saat Rino akan memeluknya.
"Maaf, aku datang kesini karena ada satu hal yang ingin aku bicarakan."
Rino sedih mendengarnya. "Baiklah, masuklah terlebih dahulu!"
Yuna pun masuk kedalam rumah yang biasa ia tinggali itu bak orang asing, ia juga tak sengaja melihat kondisi rumah yang begitu berantakan serta botol minuman berjejeran.
Kenapa rumah ini berantakan sekali, kemana bibi dan yang lain.
Yuna juga melihat dengan seksama penampilan Rino yang acak-acakan, dan ia begitu sedih melihatnya. Mata sembab, wajah pucat serta lingkar mata hitam khas orang tak tidur terlukis di wajah Rino saat ini.
"Yun, kamu ingin membicarakan apa?"
Yuna pun tersadar dari lamunan. "Aku datang kesini hanya ingin memberimu ini, tolong tanda tangan agar proses perceraian kita lebih mudah!"
__ADS_1
"Aku tidak akan tanda tangan." sahut Rino tegas, dengan wajah frustasinya.
"Rino, bukankah kita sudah setuju untuk bercerai?"
"Tidak, aku tidak pernah menginginkan hal itu. Aku tidak ingin kita pisah, Yun." memegang jemari Yuna, namun Yuna melepasnya.
"Maaf, aku tidak bisa lagi."
"Apakah ini karena Aga?" tebaknya.
"Perceraian kita tidak ada hubungannya dengan Aga, kamu tahu sendiri kenapa aku ingin berpisah darimu."
"Apa hanya karena kesalahan kecilku lalu kamu ingin pergi meninggalkan rumah tangga yang baru saja kita bangun? Itu tidak masuk akal."
Yuna jadi geram. "Itulah kamu, selalu menganggap perasaan ku itu remeh. Setiap kali kami mengatakan dan bersikap menyakiti hatiku, aku tak tahan karena itu. Tapi sekarang kamu menunjukkan bahwa perasaan ku itu memang tidak lagi penting bagimu."
"Jangan hanya menyalahkan ku! Aku tahu kamu tidak pulang kerumah dan beberapa hari ini dengan Rino, iya kan?"
Yuna membelalak kaget mendengarnya, ia terdiam tak mampu mengelaknya.
"Ah ternyata benar." imbuh Rino, tersenyum miris karenanya. "Ingatlah! Pria itu sudah membuat ibumu meninggal, bahkan kamu harus mengubur impianmu hanya karena dia."
"Yuna." Rino mengeram, kesal.
"Jadi, kamu tidak perlu menyalahkan dia lagi." Yuna menimpali. "Aku akan meninggalkan berkas ini disini, aku akan menunggumu tanda tangan darimu. Oh ya satu lagi, aku tidak akan pernah menuntut apapun darimu, aku hanya ingin proses perceraian kita dilaksanakan secepatnya."
Yuna meninggalkan Rino tanpa ragu, ia melangkah dengan dada tegap, sementara Rino ******* berkas tersebut dengan frustasi lalu membuangnya.
Ketika Yuna sudah diluar pintu, badannya terhuyung hampir terjatuh. Ia memegangi dadanya yang sesak seakan berhenti bernafas.
"Pada akhirnya kita akan merusak persahabatan hanya karena sebuah rasa."
****
"Kamu sudah beberapa hari ini tidak ke kantor." ucap Vale, ketika menemui Aga.
"Apakah terjadi masalah?"
"Hm tidak, tapi tidak seperti biasanya." sahutnya, pasalnya yang ia tahu Aga itu sangat menggilai pekerjaannya.
"Kamu menemui ku hanya ingin menanyakan hal itu?" tanya Aga dingin.
__ADS_1
"Yah! Kenapa kau kasar sekali, aku kan hanya ingin menanyakan kabarmu."
"Ya kabarku baik."
Aga duduk termangu, jelas sekali ada sesuatu yang dipikirkannya. Suasana hatinya tak baik, jelas sekali dari raut wajahnya.
"Oh ya, kau bilang tempo hari ingin memberikan kabar bahagia untukku. Apa itu?"
"Sudah lupakan!" sahut Aga, meneguk gelas berisikan air didalamnya.
Vale jadi mengernyitkan dahinya bingung. Aneh, baru kali ini Aga seperti ini. "Kamu lagi mengalami masalah kah? Kamu bisa bercerita padaku."
"Tidak ada masalah, tapi aku lagi memikirkan sesuatu."
"Apa ini tentang Yuna?" tebaknya.
Aga mengangguk. "Aku tidak mengerti jalan pikirannya, dia baru saja kembali padaku tapi aku pikir dia ragu akan hal itu."
"Ragu? Maksudmu?"
"Dia tidak pernah mengandalkan ku, sepertinya aku hanya mainan baginya."
Vale menepuk bahu sepupunya pelan. "Kenapa kau jadi berpikiran seperti itu sih? Dengan mendengar bahwa kalian bersama lagi sudah membuatku takjub."
Aga tersenyum pahit. "Semenjak kejadian saat itu, ketika dia meninggalkan ku. Aku tak bisa lagi percaya pada seseorang, bahkan termasuk diriku sendiri."
"Apa kamu masih mencintainya, Ga?"
"Entah, bersamanya aku selalu dirundung gelisah. Namun tak bersamanya juga menyakitkan bagiku."
"Tapi bukannya Rino sangat mencintai Yuna, ya?"
"Ya, dan itu yang membuatku takut." sahut Aga. "Ketika Yuna mengatakan akan bercerai, aku tak yakin padanya."
Vale menghela. "Sudah ku katakan untuk menjauhi perempuan itu, dia hanya bisa membuatmu tersiksa saja."
"Aku tak bisa melakukannya."
"Mengapa?"
"Karena hatiku bilang begitu."
__ADS_1