AGA DAN YUNA

AGA DAN YUNA
53


__ADS_3

Hari ini Yuna pergi ke makam sang paman ditemani Aga, ia membawa bunga tabur serta seikat bunga mawar.


"Paman."


Suara serak serta isakan tangis keluar dari sudut bibirnya, ia menunduk sedih dan menyesali semua.


"Maafin aku paman, kalau tahu paman akan pergi secepat ini. Aku tidak akan pernah pergi meninggalkan paman."


Aga pun duduk menemani, memegang pundak Yuna lalu memeluknya. "Sudah jangan bersedih lagi, nanti ayah ikut bersedih!"


"Semua ini karena aku."


"Tidak Yuna, jangan menyalahkan dirisendiri! Semua ini sudah takdir, memang sudah waktunya ayah pergi dan tidur dengan tenang." memegang pipi Yuna lalu menyeka air matanya. "Asal kamu tahu, ayah sangat menyayangimu daripada anaknya sendiri. Ayah akan bahagia jika kamu juga bahagia, jadi jangan bersedih lagi, kamu adalah segalanya bagi ayah."


Mendengar penuturan itu, Yuna semakin terguncang hatinya, ia memeluk Aga begitu eratnya. Aga pun mengelus rambutnya yang terurai panjang.


"Aku akan menjagamu semampuku, seperti kata ayah kepadaku sebelum beliau meninggal." tuturnya.


"Aga, aku tidak tahu lagi harus mengucapkan kata terimakasih seperti apa pada paman dan juga kamu. Terimakasih padamu karena sudah mau menerima ku kembali dan menjadi sandaran ku, terimakasih juga untuk paman yang sudah membesarkan anak yang tak tahu diri ini dengan penuh kasih sayang."


"Aku mengerti perasaanmu, maka dari itu, hiduplah dengan bahagia agar ayah bisa tenang di alam sana!"


Yuna mengangguk. "Aku akan bahagia."


Aga tersenyum tenang, menatap wajah Yuna dengan dalam.


****


"Arrgh!"


Lagi-lagi Rino kesal membanting barang, dia begitu emosi saat mengetahui bahwa Yuna dan Aga tinggal bersama.


"Bisa-bisanya mereka berdua mengkhianati ku seperti ini." geramnya. "Buatkan isu pada mereka berdua, ah tidak, katakan saja pada media bahwa Tuan Aga tinggal bersama dengan istri orang tapi jangan sampai mereka tahu bahwa itu adalah Nyonya!" pintanya.


"Baik Tuan."


Ia pun segera pergi meninggalkan Rino seorang diri diruang kerjanya.


"Kali ini citra mu akan hancur dan aku bisa mempertahankan posisiku." gumamnya, tersenyum sinis.

__ADS_1


Disisi lain, Aga dan Yuna berjalan bersama bergandengan.


"Ada sosis bakar, kita beli yuk!" ajak Aga.


"Yuk! Sepertinya enak."


Merekapun menghampiri dan memesannya, kebetulan pedagangnya adalah seorang wanita paruh baya.


"Nek, kita pesan dua tusuk ya!" pinta Aga lalu menoleh pada Yuna. "Cukup tidak, sayang?"


"Cukup kok, sosisnya besar. Jadi, satu saja sudah cukup buatku."


"Tapi..." mengelus perut Yuna. "Yang didalam sini kan juga butuh makan."


Sontak Yuna menepuk bahu Aga. "Jangan becanda!" gumamnya.


Aga jadi tertawa, begitupun nenek yang melihatnya.


"Aduh, pengantin baru memang selalu mesra ya. Kalian berdua sangat serasi." pujinya.


"Terimakasih Nek, kita berdua memang sangat cocok ya, sayang?" menoleh pada Yuna.


"Eh, itu bukannya Tuan Aga? Yang ada di televisi itu loh, pengusaha muda sukses." ucap salah satu anak sekolah SMA.


"Iya kamu benar, ah dia tampan sekali. Lebih tampan ketika bertemu langsung." sahut temannya.


"Yuk kita hampiri mereka! Aku penasaran wanita disampingnya itu siapa."


"Ya pasti pacaranya lah, dari tubuhnya mungkin salah satu artis." tebaknya.


"Itu pasti. Aku ingin mengambil foto bersama Tuan Aga."


"Sama, kita bisa tunjukkan ke teman sekolah kalau kita bertemu Tuan Aga he he he."


"Yuk!"


Merekapun mendekati keduanya, begitu heboh serta malu-malu.


"Pe-permisi Tuan."

__ADS_1


Aga pun menoleh pada mereka berdua. "Iya?"


"Kita adalah penggemar Tuan, kalau boleh, bisakah kita foto bersama?"


"Maaf, tapi wanitaku ini sangat pecemburu." memeluk bahu Yuna yang tengah menyembunyikan wajahnya. "Jadi, maaf ya."


"Ah, tidak apa-apa. Kalau begitu kita permisi Tuan." sahut para gadis itu, kemudian melangkah pergi.


"Aaa, Tuan Aga begitu perhatian dengan pacarnya. Aku jadi iri." bisiknya kegirangan.


"Iya, dia manis sekali."


"Kasian mereka, mereka kan hanya ingin foto bersama." ucap Yuna, ketika dua gadis tersebut melangkah pergi.


"Apa aku harus memanggil mereka kembali?"


"Tidak perlu!" cegah Yuna, membuat Aga tersenyum geli.


"Aku tahu kamu itu sangat pecemburu. Ah, manisnya istriku ini." mengelus rambut Yuna, sedikit mengacaknya.


Yuna jadi mendelik mendengar perkataan seperti sebuah candaan itu.


"Ya ampun, jangan melotot dong! Kalau aku tambah jatuh hati bagaimana?"


Lagi-lagi Yuna menepuk bahu Aga tapi kali ini sedikit kasar. "Ya! Orang-orang memandangi kita, sebaiknya kita jaga jarak, sudah cukup bercandanya!"


"Aku tidak peduli, yang penting bisa bersamamu." sahut Aga tenang, membuat Yuna jadi terharu hanya karena jawaban sesederhana itu.


"Ini Nak, sosis bakarnya sudah selesai." menyodorkan.


"Loh Nek, kenapa ada tiga?" tanya Aga heran, ketika menerimanya.


"Itu buat bayi diperut istrimu," sahutnya tersenyum.


"Wah, kalau begitu aku tidak bisa menolaknya. Terimakasih atas kebaikan Nenek."


"Iya, sama-sama. Jangan lupa mampir kalau kalian jalan-jalan lagi ditempat ini!"


"Pasti Nek, kalau begitu kita pamit pergi." pamit mereka berdua. "Sekali lagi terimakasih."

__ADS_1


"Iya. hati-hati dijalan."


__ADS_2