
"Yuna, kamu ngapain disini? Kenapa tidak masuk ke dalam?" tanya Rino heran pada Yuna yang tengah duduk ditangga depan rumahnya, pagi-pagi.
"Tidak perlu," sahutnya lemah.
Rino pun ikut duduk, melihat raut wajah Yuna yang tengah bersedih.
"Sejujurnya, aku pernah berpikir untuk bunuh diri," ucapnya tiba-tiba.
"Yuna," gumam Rino kaget sekaligus tercengang ketika mendengarnya.
"Aku ingin hidup bahagia tapi takdir begitu kejam, semua begitu menyakitkan ketika aku masih terbayang. Setiap malam aku bermimpi buruk, hingga setiap kali aku menutup mata selalu takut kalau akan bermimpi. Dan setiap kali aku melihat matanya, aku jadi lupa tujuan utama ku," ucapnya sambil melamun. "Aku menjadi bodoh ketika mengikuti perasaan ku."
"Yuna, aku tak paham maksud mu?"
Yuna pun menoleh. "Rino, ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu."
****
Aga kini sudah tiba di bandara, ia menatap boarding pass yang dipegangnya.
"Sebentar lagi aku akan pergi." gumamnya.
Sambil menunggu jadwal penerbangan, ia duduk di kursi tunggu. Kemudian mengeluarkan cincin milik Yuna sambil menatap benda itu dengan sedih.
Yuna...
meski awalnya kita tak sengaja mengenal, dan pada awalnya kau mengulurkan tangan ketika badan ku seakan terbaring koma karena sebuah penyesalan. Aku tetap ingin mengulang.
Sebelum kamu ada mengatakan cinta, aku tertatih meniti jalan itu dengan jutaan rasa. Sebuah rasa ketakutan dan penyesalan yang mengamuk di dalam dada.
Sedih, marah, kecewa bahkan bahagia nya jatuh cinta sudah ku rasakan itu semua ketika kita bersama, walau sekejap saja. Akan tetapi, pada akhirnya kita tidak akan pernah bisa bersama.
Dengan lekat Aga menatap cincin itu dan menggenggamnya erat, rasanya ingin meledak saja.
__ADS_1
Aga merenung, selalu berputar bayangan Yuna ketika mengutarakan perasaannya semalam. Memikirkan Yuna membuat hatinya sakit.
Setelah beberapa lama menunggu, kini tibalah waktunya bagi Aga untuk segera memasuki badan pesawat dengan perasaan yang berat.
Disisi lain Yuna berlari sambil terengah-engah memasuki bandara untuk segera mencegah Aga pergi meninggalkannya. Namun Yuna lemas seketika, ketika ia membaca announcement tujuan New York - Amerika telah berangkat lima menit yang lalu.
"Sudah terlambat," gumamnya dengan pasrah.
Yuna kemudian membalikkan badannya untuk pergi, namun tiba-tiba seseorang menarik tangannya membuat dirinya membalikkan badan dan langsung jatuh kedalam pelukan seseorang.
"Aga."
Yuna tak menyangka bahwa Aga belum pergi, dan ia malah memeluk dirinya dengan erat hingga Yuna sedikit sesak dibuatnya.
"Aku ingin serakah, aku ingin serakah untuk hidup bersamamu lebih lama." ucap Aga penuh makna.
"Serakah lah Aga! Karena aku pun sama. Aku ingin hidup sampai tua dan mati bersamamu. Jangan tinggalin aku!" sahutnya membalas pelukan Aga, dan mereka menangis dengan bahagia bersama.
"Yuna, aku mencintaimu." ucap Aga ketika melepas pelukannya, lalu dengan Lamat menatap Yuna.
"Aku ingin melihatmu."
"Lihatlah aku sampai kamu merasa bosan!"
"Aku ingin kamu disisi ku."
"Mari hidup bersama!"
Mendengar sahutan Yuna membuat Aga jadi tertawa. "Apa kamu serius mau hidup bersama dengan ku?"
Yuna mengangguk tanpa ragu, "Mau."
"Sekali pun aku ini jahat?"
__ADS_1
"Sekalipun kau mantan narapidana aku tetap mau."
Sontak Aga jadi kesal, lalu menjitak kepala Yuna membuat gadis itu mengaduh kesakitan. "Aduh sakit tahu!"
"Ya maaf! Lagian kau itu, memangnya tampang ku tampang seorang preman?"
"Iya," sahutnya Yuna cekikikan, hingga Aga merenggut dibuatnya.
Dengan gemas Yuna menjinjit kakinya agar sejajar dengan wajah Aga, dan dengan tiba-tiba mengecup bibir tegas lelaki itu.
Seketika Aga jadi membelalak kaget dan kaku dibuatnya.
"Yuk, kita pulang!"
Yuna menggenggam jemari Aga, menarik lelaki itu yang masih syok dan kaku untuk segera melangkah pergi dari bandara bersama.
"Yun, kamu sadar gak sih barusan kalau kamu mencium ku?" tanya Aga didalam mobil.
Yuna malah jadi memeluk erat lengan Aga dengan manja. "Memangnya kenapa? Ini bukan pertama kalinya kita berciuman."
"Hah? Memangnya kapan kita pernah berciuman sebelumnya?" Aga jadi bingung.
"Ah, jangan terlalu di pikirkan! Itu rahasia."
"Yah, kau pasti bercanda." Aga menyipitkan matanya. "Jangan-jangan saat aku tidur kamu mengambil kesempatan untuk menciumku?"
Seketika Yuna menepuk lengan Aga, "Cih, aku tidak segila itu. Kamu yang datang sendiri lalu menciumku."
"Ah tidak mungkin, mana pernah aku melakukan itu."
Yuna menebalkan bibir bawahnya, merenggut kesal. Tidak mungkin dia mengatakan kalau malam itu Aga datang padanya dalam keadaan mabuk berat lalu menciumnya dan berakhir tidur ditengah jalan karena Yuna meninggalkannya.
"Itu rahasia ku, yang intinya kita sudah berciuman sebelumnya."
__ADS_1
Aga jadi memutar otaknya berpikir dan mencoba mengingat kembali, "Ah gak mungkin." gumamnya ketika teringat peristiwa itu bagaikan sebuah mimpi.