AGA DAN YUNA

AGA DAN YUNA
54


__ADS_3

"Tumben Leni menelfon."


Aga bergumam heran, karena jarang sekali Leni menelfon diluar jam kerja. Pasti ada sesuatu yang buruk, pikirnya.


"Hallo Len, ada apa?" tanya Aga, ketika mengangkat panggilan teleponnya.


"Begini Tuan, aku mendengar kabar yang tak enak. Apakah Nona sedang bersama Anda sekarang?"


Aga menoleh pada Yuna yang tengah duduk santai dekat jendela. "Iya, aku bersamanya. Ada apa?"


Berarti benar, dugaan Leni. "Saya mengirim sebuah artikel, tolong Anda segera membaca pesan saya!"


"Baiklah."


Aga pun segera membuka pesan dari Leni, ia sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi. Dan beruntunglah identitas Yuna disamarkan, jadi Aga bisa menebak itu semua ulah siapa.


"Siapa yang menelfon, Ga?" tanya Yuna, melihat raut wajahnya panik tergambar jelas di wajah Aga.


"Ah dari Leni, dia baru mengabari ku kalau besok ada pertemuan penting dan aku melupakannya."


"Ah begitu." Yuna jadi lega, ketika Aga memberi senyum padanya.


Ketika mengambil remote control lalu menghidupkan televisi, dengan sigap Aga langsung menghampiri dan mematikan siaran televisi.


"Kenapa dimatikan? Hari ini drama kesukaanku tayang, dan lagi seru-serunya tahu." gerutunya.


"Aku ingin jalan-jalan, temani aku keluar, yuk!"


"Tidak mau ah, tadi kan sudah jalan-jalannya. Aku capek." sahut Yuna, mencoba menghidupkan televisi kembali.


"Aku lapar."


Seketika Yuna menoleh, tak jadi menghidupkan televisi. "Kamu lapar?"


Aga mengangguk, "Aku sangat lapar."


Yuna tertawa gemas dengan ekspresi yang ditunjukkan Aga. "Baiklah, aku akan memasak untukmu."


Di dapur Yuna mencoba membuat masakan sederhana untuk Aga, meski itu masakan sederhana namun terbilang lambat karena Aga terus saja menempel padanya.


"Aga, kapan selesai masaknya kalau begini? Aku saja sulit bergerak." keluhnya.


"Ya maaf, tapi aku kan tidak bisa jauh darimu." masih memeluk tubuh Yuna dari belakang.


"Aku tahu, tapi kalau begini kan susah masaknya. Katanya kamu sangat lapar?"


"He he iya." seketika melepas pelukannya. "Memangnya kamu masak apa, sih?"


"Masak omelette telur daging, setidaknya bisa mengisi perutmu yang kosong."


Selesai, Yuna menaruh masakannya disebuah wadah lalu memotong dan mencicipinya.

__ADS_1


"Kelihatannya enak." ucap Aga.


"Kamu mau cobain?" menyodorkan sepotong lagi untuk ia berikan pada Aga. "Nih coba!"


Cup!


"Eh?"


"Enak."


Bukannya memakan potongan yang disodorkan tersebut, tapi Aga malah mencicipinya langsung dari bibir Yuna. Sontak hal itu membuat pipi Yuna lagi-lagi memerah.


"Ka-kamu kan lapar, sebaiknya kamu makan lebih dulu."


Aga jadi tertawa. "Kenapa kamu jadi gugup begini? Malah membuatku ingin memakan mu saja." godanya.


Tanpa ragu Aga semakin mendekat, mengangkat tubuh mungil Yuna duduk di meja dapur agar sejajar dengannya.


Ia juga menarik pinggang Yuna agar mendekat, serta memintanya melingkarkan kedua lengannya dileher miliknya.


"Aga, kenapa kamu selalu menggoda ku?"


"Tapi kamu menyukainya, kan?" bisiknya, dengan niat menggoda.


Lagi-lagi Yuna jadi tersenyum malu, dan tanpa menunggu waktu Aga mengecup bibir Yuna berulang sebelum akhirnya menyatukannya.


Gairah mereka berdua begitu bergelora, tak pernah ada bosannya. Seperti memetik buah segar dari cinta.


"Ah!"


Aga pun mulai melucuti ikat pinggangnya, akan tetapi suara bel rumah berdering merusak suasana seketika.


"Argh! Siapa sih ganggu?" geramnya.


"Biar aku saja yang membuka pintu." pinta Yuna sembari merapikan pakaiannya yang sudah berantakan karena Aga.


Ia pun segera membukakan pintu, dan tentu saja si pengacau itu adalah Vale.


"Hai Yun, apa aku boleh masuk?" pintanya.


"Boleh, silahkan masuk biar Aga ku panggilkan!"


Vale pun duduk diruang tamu, ia sudah menduga bahwa Yuna masih belum dengar berita tentangnya dan Aga, dilihat dari ekspresi Yuna yang biasa saja.


"Ada apa?" tanya Aga tanpa basa-basi, sambil mengunyah omelette.


"Kau sudah tahu beritanya?"


"Sudah."


"Menurut Yuna bagaimana?"

__ADS_1


"Ah itu. Aku masih belum memberitahunya." sahut Aga tenang.


"Kau gila ya, Ga! Ini tuh masalah serius, sebentar lagi pemilihan pemenang saham. Bagaimana kau bisa seceroboh ini?"


"Kan ada kau yang mengurusnya. Beli semua berita tentangku, dan blokir semua artikel mengenai ku."


Vale menjinjit bibirnya geram. "Kamu pikir semudah itu, berita tentangmu sudah tersebar luas di internet. Jadi meski aku sudah membungkam semua media sekalipun, berita mu sudah terlanjur merembet luas."


"Jadi aku harus bagaimana?"


"Kau harus memindahkan Yuna, ah tidak, kau saja yang kembali ke apartemen mu! Lalu jelaskan pada media bahwa berita itu bohong."


"Aku menolak." entengnya.


"Ini pencapaian mu yang sudah lama kamu tunggu-tunggu, jangan hanya karena dia lalu kamu menyerah. Kamu gila!"


"Hah, gila?" mengelap bibirnya yang terdapat sisa makanan dengan tissue, kemudian mengulas senyum. "Jika kamu tidak sampai gila karena mencintai seseorang, berarti seseorang itu tak layak kamu perjuangkan. Dan Yuna bukan sekedar hanya."


"Aku mengerti, tapi..."


"Aga, aku yang akan pergi." tiba-tiba Yuna datang menyela pembicaraan. "Aku sudah dengar semua yang kalian bicarakan. Dan aku juga sudah membaca ini."


Yuna menunjukkan sebuah artikel mengenai Aga bersama istri orang. Pada akhirnya ia akan tahu juga.


"Yun, aku bisa mengatasinya jadi kamu tidak perlu pergi dariku."


"Aku tidak akan pergi kok, kita hanya harus berpisah sementara waktu sampai sidang perceraian ku selesai."


"Yang dikatakan Yuna itu benar, sebaiknya kalian berpisah untuk sementara waktu. Karena kamu tidak ingin kan Yuna mendapat cemoohan serta ucapan benci dari orang-orang?" imbuh Vale.


"Siapa yang berani menyakiti milikku? Mereka akan berhadapan langsung denganku."


Vale menghela nafas, ia harus bersabar menghadapi sepupunya yang tengah mengedepankan hati tanpa logikanya.


"Sebaiknya kita harus pergi sekarang, karena aku takut ada seseorang yang memata-matai Yuna dan menyebarkan rumor yang bukan-bukan!"


"Tugaskan beberapa penjaga untuk Yuna, aku tidak mau dia kenapa-kenapa!" pinta Aga.


"Kamu tenang saja, aku sudah mengaturnya."


Aga menoleh pada Yuna dan memegang kedua pipinya. "Jangan lupa untuk selalu menghubungiku, ya!"


Yuna mengangguk. "Iya."


"Kalau aku kangen, aku boleh menemui mu, kan?"


Yuna tersenyum. "Iya."


"Tidur yang nyenyak, jangan mimpi buruk!"


"Iya sayang."

__ADS_1


Aga langsung mencium bibir kekasihnya tanpa peduli ada Vale yang tengah sakit mata ketika melihatnya.


Ya ampun dua orang ini.


__ADS_2