
Rino memasangkan cincin di jemari Yuna, begitu pun Yuna memasangkan cincin di jemari milik Rino meski dengan berat hati, sekarang mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri.
"Yuna, aku berjanji akan selalu mencintai dan menjaga mu."
"Terimakasih," hanya satu kata yang mampu terlontar dari bibirnya.
Entah, dia harus merasa bahagia atau bersikap biasa saja, karena hatinya begitu berat tak menentu arahnya.
Baru saja semalam dia menghabiskan malam buruk namun terlihat panas bersama Aga, seseorang yang ingin dia lupa. Namun, tiba-tiba Rino datang langsung mengajaknya menikah secara mendadak hanya bersaksikan bawahannya saja.
Semula Yuna mau menikah dengan Rino karena dia menyadari bahwa Rino selalu ada untuknya. Kebaikan sahabatnya itu, ia yakini akan meluluhkan hatinya dan bisa menghapuskan rasa cintanya terhadap Aga.
Tapi takdir begitu kejam. Ketika Yuna mulai melupa, Aga tiba-tiba datang kembali lalu memberi luka yang sama.
Bersama Aga menyakitkan. Namun jika tidak bersamanya maka akan jauh lebih menyakitkan. Bukankah kita butuh seseorang yang melukai untuk menghapus luka yang dihasilkan? Takdir memang tak pernah sejalan.
Kini petang kian menyambut, namun bayangan panas itu tetap menyambut. Yuna begitu gelisah karena ia bingung apa yang harus ia lakukan saat ini, suaminya menunggunya dikamar bersama malam ini.
"Istriku," bisik Rino ditelinga sang istri yang masih berbalut gaun pengantin.
Yuna begitu gelisah, dia sangat takut kalau tiba-tiba Rino meminta Yuna menjalani tugas sebagai seorang istri. Sedangkan dia sendiri belum bisa lupa dengan apa yang pernah ia lakukan dengan Aga.
"A-aku mau ke kamar mandi," pamitnya tiba-tiba beranjak berdiri dengan panik, ketika Rino mulai menyentuhnya.
Tanpa menunggu jawaban, Yuna langsung pergi ke kamar mandi lalu duduk terkapar lemas memegang jantungnya yang deg-degan.
__ADS_1
"Ya Tuhan, aku harus bagaimana?"
Setelah cukup tenang, Yuna pergi ke wastafel untuk membasuh wajahnya. Kemudian segera keluar karena tidak ingin mengecewakan suaminya.
Rino yang sangat paham kalau Yuna belum siap, dia mengulas senyum sambil menatap istrinya yang sedang gemetar itu.
"Kemarilah! Aku akan membantumu mengganti pakaian."
Tanpa menjawab, Yuna melangkah duduk disamping ranjang dekat suaminya.
Dengan hati-hati Rino membuka resleting gaun istrinya, sehingga memaparkan punggung jenjang nan mulus milik Yuna.
Cup!
Yuna memejamkan mata, meringis kaget ketika Rino tiba-tiba mengecup punggung leher serta punggung miliknya.
Mendengar itu seketika Yuna berbalik badan menoleh, lalu memeluk suaminya. "Terimakasih sudah mau menerima dan mengerti aku."
Rino membalas pelukan. "Itu bakan masalah besar." mengelus rambut Yuna. "Yang terpenting sekarang adalah kita sudah menikah, tidak akan ada yang bisa memisahkan kita berdua."
Yuna mengangguk. "Aku berjanji padamu, aku akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu."
"Kalau begitu, cepat ganti bajumu. Sepertinya kamu sudah lelah, mari istirahat saja malam ini!"
"Iya."
__ADS_1
****
Disisi lain Aga begitu tampak gelisah dan bersedih. Baru saja dia mendapatkan informasi dari orang suruhannya bahwa Rino dan Yuna sudah melangsungkan pernikahan.
"Maafkan aku sepupu, aku tidak berpikir panjang," ucap Vale, duduk disampingnya.
Aga meneguk minumannya, sembari menenangkan pikirannya. "Sudah lah, apa yang sudah terjadi tidak mungkin kita ubah lagi."
Vale menunduk, merasa bersalah. Ia pun merasa kasihan karena sepupunya terlihat begitu sedih dan frustasi.
"Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya? Bukankah ini saatnya bagimu mencari wanita lain, karena kalian sudah tidak mungkin lagi bersama."
Aga tersenyum miris. "Kamu benar, mungkin inilah saatnya aku menyerah. Tapi,...." Aga menoleh. "Aku tidak akan pernah mau menghapus Yuna dari ingatanku. Awalnya ku pikir hanya merasa bersalah padanya, makanya aku berbuat baik padanya. Tapi ternyata aku salah, aku mencintai semua yang ada padanya. Tak terkecuali. Bahkan, aku merasa lebih baik mati daripada tidak bersamanya."
Ia tertawa geli dengan kebodohannya sendiri. "Aku begitu bodoh, bukan? Bahkan saat dia menipuku, mengucapkan kata cinta padaku. Aku begitu percaya padanya. Ha ha ha, lucunya aku masih mencintainya walau tau itu semua."
"Aga, kau sepertinya mabuk?"
Aga tersenyum pasi, sudah setengah sadar. "Iya, sepertinya dia membuatku mabuk."
Setelah melontarkan kata itu, seketika Aga ambruk karena pengaruh alkohol. Untung saja Vale didekatnya hingga Aga tak terjatuh ke lantai karena Vale menggapai tubuhnya.
"Bagaimana bisa karena ke egoisan, seorang wanita bisa menghilangkan hal yang begitu langka seperti ini." gumam Vale, ketika membopong tubuh sepupunya.
Sungguh sangat disayangkan ketika seseorang yang benar-benar mencintai kita dengan tulus di sia-siakan, betapa meruginya kita.
__ADS_1
Tidak ada yang salah dengan perpisahan, hanya saja caramu menyampaikan begitu kejam. #Aga