AGA DAN YUNA

AGA DAN YUNA
Saling Menyakiti II


__ADS_3

Seandainya, jika aku boleh memilih, aku tak ingin mengenalmu sedalam ini. Aku tak ingin menyimpan tentangmu sebanyak ini. Sampai semua melekat erat sampai ke aliran darah juga nadi. Aku tersiksa setiap kali gagal melupa. Aku merana, setiap kali harus meyakinkan bahwa semuanya hanya sandiwara. Aku tak ingin kamu terluka, tapi aku harus melakukannya.


"Jangan mendekat!" pinta Yuna ketakutan.


Aga tetap mendekati Yuna tanpa peduli gadis itu berteriak sembari memohon padanya. Dengan segala kekuatan yang dimiliki Yuna, ia mencoba menerjang Aga menjauh dengan kedua kaki miliknya, namun malah berakhir memberi ruang pada Aga agar berada diantara kedua pahanya.


Ia menyunggingkan senyum sebelum ia mulai menjelajahi leher Yuna, mengecupnya lalu memberi bekas merah disana.


"Jangan sentuh aku, Aga!" liriknya kian lemah ketika Aga mulai melucuti gaun putih ditubuhnya. Sekeras apapun Yuna berteriak, tak ada seorangpun yang mendengarnya.


Melihat Yuna menangis memohon dengan bibirnya yang gemetar, menyulut keinginan Aga untuk melum4tnya.


Semula ciuman itu begitu lembut dan perlahan, hingga kemudian menjadi kasar ketika tersulut n4fsu yang menggairahkan.


"Akh!" pekik Aga kesakitan, ketika tiba-tiba Yuna menggigit bibir bawahnya hingga darah mengalir keluar.


"Aku tahu kau sudah tidak sabar Yunaku, aku pun begitu." goda Aga, sambil mengelap darah yang mengalir dari bibirnya.


"Badjingan! Lepasin aku!" Teriaknya.


"Baiklah."


Tanpa ragu Aga membuka ikatan dikedua tangan Yuna, akan tetapi ia langsung menarik tubuh Yuna agar berada dibawahnya.


Ia pun mulai membuka kancing kemejanya, menampakkan tubuh bidang nan kekar miliknya.

__ADS_1


Yuna mencoba memukul dada milik Aga dengan kedua tangannya. Namun sayang, kekuatan seorang pria melebihi seorang wanita hingga dengan mudah Aga mencengkeram kedua tangan gadis itu hingga berada diatas kepalanya hanya dengan satu tangan. Sedangkan tangan yang lainnya melucuti pakaian dalam yang tersisa.


"Akh sakit, Aga!" pekik gadis itu ketika Aga berhasil menyatukan tubuhnya.


Ia kaget dan tak mengira bahwa Yuna masih seorang gadis, ada perasaan senang didalam hatinya. "Ternyata kamu masih perawan."


Tanpa mempedulikan jeritan serta tangis penuh erangan gadis itu, Aga tetap melanjutkan menghentakkan miliknya dengan pelan penuh irama.


Ia mengecup dada serta leher Yuna, memberinya sentuhan agar tidak terlalu menyakitkan untuk Yuna, karena ini pertamakali baginya.


****


"Apa kamu tidak ingin ke kamar mandi untuk membersihkan milikmu? Aku tahu kamu pasti merasa tidak nyaman setelah beberapa kali aku menumpahkan milikku didalam mu."


Yuna tidur memunggunginya, ia tak menjawab hanya terisak tanpa bersuara.


"Aku akan membersihkan diriku sebentar, jika kau berubah pikiran. Kamu bisa menyusul ku dan mandi bersama denganku."


Ia mengecup punggung telanjang milik Yuna sebelum menggulingkan tubuhnya, beranjak berdiri dari atas kasur lalu segera melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


"PRANKK!!"


Saat Aga mulai membersihkan diri di pancuran air shower, terdengar suara pecahan kaca membuat dirinya lekas keluar hanya dengan berbalut handuk putih.


"Apa yang kau lakukan?"

__ADS_1


Bentak Aga, segera menepis tangan Yuna yang tengah memegang pecahan kaca dan berniat untuk menggores pergelangan tangannya.


"Biarkan aku mati!" teriaknya.


PLAKK!!


Aga langsung menampar Yuna agar gadis itu tersadar. "Bukannya kau ingin balas dendam padaku? Lakukanlah! Bukan dengan cara mengakhiri hidupmu seperti ini."


Yuna hanya menangis dan terdiam.


"Apa kau jijik terhadapku? Kau benar-benar membenciku?"


Aga mengeluarkan sebuah pistol di laci nakas dekat ranjang, kemudian ia menarik tangan Yuna untuk menggenggam dan mengarahkannya tepat di dahinya.


"BUNUH AKU SAJA YUN AGAR KAMU PUAS!" pintanya bersungguh-sungguh. "Tatap mataku dan lihatlah! Aku ini hidup tapi sebenarnya sudah mati, aku menangisi mu setiap malam penuh penyesalan bahkan aku lupa caranya untuk menelan makanan. Setiap hari aku menderita seperti tak bernyawa. Apa kau tahu? Aku berjalan di derasnya air hujan seakan aku tidak merasakan apa-apa, bahkan sakitnya jarum suntik tidak terasa ketika tubuhku lemah dan bisa berbaring saja. Apa kamu belum puas membuatku menderita, Yun?"


Aga kembali menegakkan tangan Yuna yang lemah. "Sekarang bunuh aku jika itu bisa membuatmu bahagia! Tembak aku sekarang!"


Ia memejamkan matanya pasrah, tapi tidak seperti yang ia kira. Yuna malah membuang pistol itu kelantai dan menangis penuh penyesalan.


"Aku hanya ingin pergi," pinta Yuna disela tangisnya. "Biarkan aku pergi!"


Setelah semua yang ia lakukan, masih saja Yuna ingin pergi darinya. tentu permintaan itu menyakiti hatinya.


"Maafkan aku, Yun. Aku tidak akan pernah membiarkan mu kembali bersama dengan pria brengsek itu."

__ADS_1


Aga menarik tubuh telanjang Yuna yang hanya tertutup selimut, ia kembali diatas Yuna dan melakukannya.


Desah4n serta erangan kembali menggema sepanjang malam.


__ADS_2