AGA DAN YUNA

AGA DAN YUNA
46


__ADS_3

"Terimakasih atas tumpangannya ya Bu, Leni."


Yuna berpamitan untuk pulang ketika pagi hari, karena ia tidak mau suaminya khawatir karena sudah tidak pulang semalaman.


"Nona yakin tidak mau saya antar?"


"Tidak usah Len, kamu juga harus bekerja hari ini."


"Baiklah, kalau begitu hati-hati dijalan ya Nona."


Mereka saling melambaikan tangan, begitu lega ketika melihat Yuna sudah baik-baik saja.


Sepanjang jalan Yuna hanya bisa terdiam, melihat beberapa orang melintasi jalan. Begitu saja terasa melelahkan.


Ketika sampai dirumah, Yuna tak kaget ketika suaminya sudah tak ada ditempat. "Tuan kemana, Bi?"


"Tuan baru saja berangkat kerja Non."


"Ah, begitu."


Ternyata tak seperti bayangannya, Rino tetap tak peduli padanya. Bahkan para pekerjanya tak tahu bahwa dirinya tidak pulang semalaman.


****


"Tuan, para pemegang saham sebentar lagi akan mengadakan rapat untuk menentukan posisi jabatan. Sebaiknya Tuan segera pergi untuk menemui beberapa pemegang saham untuk meminta dukung." ucap sekretaris Rino memberitahu.


"Ya kamu benar, aku tidak boleh kalah. Perusahaan ini dibangun sendiri oleh orangtuaku, dan aku membangunnya sampai sebesar ini. Dan si brengsek itu akan mengambilnya dari ku, itu tidak boleh terjadi."


Rino sungguh frustasi, posisinya di perusahaan benar-benar terancam karena perusahaan mengalami kemunduran yang signifikan.


Sedangkan Aga diluar sana sudah menduga bahwa Rino akan meminta dukungan pada para pemegang saham lainnya.


"Kamu tidak khawatir kalau Rino akan mengambil suara para pemegang saham?" tanya Vale penasaran, pasalnya Aga bersantai saja.


"Apa yang perlu ku khawatirkan? Perusahaan itu akan segera menjadi milikku."


"Lihatlah! Kamu terlalu percaya diri."


Aga tertawa. "Perusahaannya beberapa tahun terakhir mengalami penurunan, jadi aku yakin aku akan mendapat dukungan. Yah, kecuali dia bisa mengembalikan keadaan perusahaannya dalam waktu cepat."


"Kamu benar."


Vale mengakui bahwa Aga memang begitu sangat cerdas dan kompeten, dia bisa membangun perusahaan dari nol hingga menjadi sebesar sekarang. Apa dia menggunakan sihir, pikirnya.


"Oh ya bagaimana hubunganmu dengan Jessy?" tanya Vale kemudian.


"Aku sudah memutus hubungan." sahutnya singkat.


"Kamu benar-benar gila ya! Dia itu gadis yang sangat baik, kenapa kamu sia-sia kan." umpatnya.


Aga menoleh heran. "Kenapa kau yang marah? Seharusnya dia bersyukur karena bisa mendapatkan seseorang yang memperhatikannya dan peduli padanya."


"Cih! Bualan macam apa itu?"


"Kalau kau menyukai Jessy, katakan saja Vale! Bersamamu sepertinya lebih baik."


"Ha ha ha, omong kosong apa ini? Bagaimana bisa aku menyukai Jessy."


"Tidak usah berbohong, sikapmu menunjukkan itu."

__ADS_1


Seketika Vale jadi terdiam, dia sebenarnya tidak mengerti dengan sikapnya selama ini. Ketika Jessy sedih, ia akan begitu sedih. Namun ketika Jessy bahagia, perasaannya pun ikut bahagia.


Apa aku menyukai Jessy?


Vale bertanya-tanya tak mengerti.


"Lalu kamu sendiri bagaimana dengan si Yuna?"


"Jangan sebut nama perempuan itu lagi dihadapan ku! Aku tak peduli."


"Wah, baru kali ini aku salut denganmu. Akhirnya kamu tahu diri juga ya." ledeknya.


"Sialan!" melempar kertas yang ia ***** ke wajah sepupunya. "Anggap saja aku bodoh karena mengharapkannya, dia tak sebaik yang ku pikir, tak pantas ku perjuangkan."


Mendengar itu, mengapa Vale merasa miris sekali. Begitupun dengan Leni yang mendengar dari luar pintu.


"Apa ku beritahu Tuan ya kalau Nona juga tersiksa." gumamnya.


Tapi Leni juga bingung, karena ia tak punya hak untuk mencampuri kehidupan pribadi seseorang. Apalagi dia sudah berjanji pada Yuna kalau tidak akan menceritakan kepada siapapun perihal Yuna bermasalah dengan suaminya.


"Ck! Dasar rumit." gumam Leni.


"Apanya yang rumit, Len?"


"Eh Tuan, he he tidak ada." Leni jadi salah tingkah ketika tiba-tiba Aga muncul dihadapannya. "Maksud saya mengatur jadwal seperti ini sedikit rumit."


"Kau tidak suka pekerjaanmu?"


"Bukan, bukan begitu."


Aga jadi tertawa, "Aku hanya bercanda Len. Yuk ikut aku makan! Aku lapar."


Leni buru-buru membereskan berkas didepannya yang berserakan.


"Sudah biarkan saja! Ayo kita makan lebih dahulu, kau kan sangat hobi makan. Kalau kita makan seafood hari ini bagaimana?"


"Tapi kan Tuan tidak menyukai seafood."


"Tidak menyukai bukan berarti tidak bisa memakannya, lagian kau sangat suka. Aku akan mentraktir mu sampai puas, tenanglah!"


"Tuan serius?"


"Kapan aku berbohong?"


Leni jadi begitu senang, begitupun Aga ketika melihat sekretaris setianya ini. Begitu menyenangkan melihat oranglain bahagia.


****


"Hmm. Hmm."


"Apa sih? Kau ingin berbicara apa Ha Hem Ha Hem begitu dari tadi?" tanya Aga heran, disela makannya.


Sungguh Leni ingin bercerita mengenai Yuna, tapi ia juga tak enak hati, karena tak berhak ikut campur. Tapi hal itu mengganggu pikirannya, tak tenang.


"Apa makanan ini mahal?" tanya Leni sengenanya.


"Aku mentraktir mu karena makanan disini murah," sahut Aga becanda.


"Dih, dasar pelit."

__ADS_1


Aga tertawa cekikikan, sebelum kemudian ia tak sengaja melihat seorang pria dimeja sebelah tersenyum sambil memperhatikan Leni.


"Len, pria itu aneh tidak sih? Sedaritadi senyum-senyum melihatmu." bisik Aga.


Leni pun menoleh, membuat pria itu mengedipkan matanya. "Tidak aneh, cukup manis."


Aga berdecak ketika Leni juga ikut tersenyum.


"Heh! Apa kau lirik-lirik pacarku?" Merangkul Leni, sambil mendelik pada pria tersebut.


"Yah Tuan! Kapan aku bisa laku kalau begini?" Leni sebal, menyenggol dada Aga hingga lelaki itu melepas rangkulannya.


"Tidak usah pacaran! Jatuh cinta itu tidaklah menyenangkan. Melihat wajahku setiap hari kan cukup."


"Cih, mentang-mentang kau tampan."


"Oh terimakasih Leni ku, pacaran saja denganku yuk!" candanya.


"Tidak mau!"


"Lihat kau baru saja menyia-nyiakan orang tampan seperti ku dan memilih pria mesum seperti itu."


"Yah! Bukan begitu."


"Terus?"


"Mari kita gelut saja!" tantang Leni, gadis yang mempunyai gestur tubuh tinggi dan sangat gemuk itu.


"Ayok siapa takut! Tapi habiskan dulu aku sudah bayar mahal." memasukkan daging kepiting ke mulut Leni.


"Hey!" Leni tak terima, ia pun ingin memasukkan cumi-cumi kedalam mulut Aga karena tahu Aga tak menyukainya.


"Ampun Len! Jangan Len!" mohonnya sembari merengek.


"Aaaa makan!"


Melihat wajah seram Leni siapa yang tak meringis, membuat Aga terpaksa membuka mulutnya ketika sekretarisnya menyodorkan sepotong cumi-cumi dengan garpu.


"Enak kan, sayang?"


Aga hampir tersedak ketika Leni mengucapkan kata-kata menggelikan itu, "Putuslah kita putus!"


Leni jadi tertawa cekikikan, bersamaan dengan Vale yang datang.


"Kalian berdua kalau sedang diluar kantor, kalau tidak berantem ya aneh-aneh saja tingkahnya."


Vale menggeleng-gelengkan kepalanya heran.


Aga berpura-pura merengek. "Dia mengkhianati ku Vale, dia memilih pria mesum itu." menunjuk.


"Dia tidak mesum kok." sahut Leni menyela.


"Kan kan, kau membelanya. Ah, aku patah hati. Kita bersama bertahun-tahun tapi kamu malah memilih dia."


"Aduh kasihan sekali, Leni jahat." Vale menimpali.


"Kalian berdua dasar!"


Leni memukul lengan keduanya, hingga Aga dan Vale jadi tertawa.

__ADS_1


__ADS_2