
"Istriku, kamu baik-baik saja, kan?"
Rino datang tergesa-gesa memasuki ruangan, ia menunjukkan kekhawatirannya.
"Aku baik-baik saja, aku hanya kelelahan dan cuma butuh istirahat saja," sahutnya penuh penekanan dengan sarkas.
"Maafkan aku, aku tidak menduga akan seburuk ini."
Yuna memalingkan muka, tak suka. "Sudahlah, tidak usah dibahas lagi."
Rino menunduk menyesal, melirik makanan diatas meja. "Kamu mau makan? Aku suapin ya?"
Yuna tak menjawab, ia begitu kesal sampai meneteskan air matanya tak bersuara. Rino yang melihat istrinya menangis lantas memeluknya lalu mengecup keningnya.
"Maafkan aku, tolong jangan marah padaku!" pintanya.
"Kamu jahat Rin, kamu tidak pernah peduli padaku. Aku ini istrimu."
"Iya aku bersalah." menyeka air mata Yuna dengan jemarinya. "Maaf ya?"
Mendengar itu Yuna jadi sedikit tenang, dan Rino mengulas senyum melihatnya.
"Ku suapin ya? Aaaa!"
Dengan terpaksa Yuna membuka mulutnya, namun ketika mengunyahnya ia tahu itu masakan yang dibuat oleh Aga. Yuna masih mengingat citarasa masakan dari Aga, bahkan semuanya.
"Biar aku makan sendiri!" pintanya kemudian, dan Rino memberikan semangkuk makanan itu.
"Oh ya, apa kata dokter padamu?"
"Aku hanya mengalami infeksi pasca keguguran, besok aku sudah boleh pulang." sahutnya masih mengunyah makanan.
"Syukurlah. Besok malam aku akan menghadiri undangan pesta keluarga besar. Kamu harus ikut bersamaku!"
"Tapi kondisiku belum cukup stabil Rin." keluhnya.
"Jika aku tidak datang, aku tidak enak dengan yang lainnya. Ayolah hanya pesta kecil saja! Yang penting kita hadir kesana."
Yuna begitu kesal, apa dia kira sakitnya itu ringan dan main-main, pikirnya. "Baiklah, kalau kamu memaksa."
"Baguslah kalau kau mau ikut bersamaku. Kalau begitu aku pamit pulang dulu, aku ingin beristirahat dan kamu juga beristirahatlah!"
Yuna mengangguk mengiyakan, sebelum kemudian suaminya meninggalkan ruangan tanpa beban.
"Sebatas itukah perhatian mu sekarang?"
Gumam Yuna begitu kesal, bagaimana tidak? Bukan seorang suami yang perhatian, melainkan seseorang yang ia campakkan dan dipatahkan.
****
"Aga, apa kamu sibuk? Aku ingin mengajakmu makan bersama diluar." ajak Jessy menghampiri.
"Aku sibuk." sahutnya.
Namun Jessy tak menyerah, dia mengulas senyum manis didepan kekasihnya. "Ayoklah! Kali ini saja aku mohon! Semenjak kita jadian, tidak sekalipun kamu mengajakku berkencan."
Aga menghela nafas, sebal. "Apa kamu tidak lihat aku banyak pekerjaan? Lagi pula aku tidak lapar."
"Ya ampun kakunya." Jessy berdecak sebal, lalu bergumam. "Yuna bilang pria dingin kalau memperlakukan pasangannya itu sangat hangat dan juga lembut, ah sepertinya dia bohong."
"Apa?! Yuna bilang gitu?" tanya Aga, memastikan yang ia dengar.
__ADS_1
"Iya, dia pernah berkata begitu. Tapi sepertinya pria di depanku ini berbeda." sindirnya, bersindakap.
Aga jadi berfikir dan mengerti, bahwa selama ini Yuna masih memperhatikannya, ia sedikit lega.
"Jadi mau menemani ku makan tidak? Pacarmu yang cantik ini sedang mengajakmu loh!"
"Lupakan!" sahut Aga, kembali menoleh pada layar komputer di depannya.
Jessy jadi kesal, ingin menangis rasanya. Kalau Aga masih bersikap dingin, membuat dirinya ingin meninggalkan pria itu, pikirnya.
"Aku menyukaimu." ucapnya kemudian meyakinkan, dengan mata sembab.
Aga jadi menoleh kembali, melihat wanita menangis membuatnya tak tega. Ia kalah. "Baiklah, hayo kita makan bersama!"
Jessy langsung merubah mimik wajahnya, begitu tersenyum lebar. "Ayo!" memeluk lengan Aga ketika lelaki itu berdiri dari kursi kerjanya.
Ketika Aga sampai didepan itu ia menemui sekretaris nya Leni sambil berbisik. "Lain kali jangan membiarkan Jessy masuk tanpa persetujuan dariku!"
"Baik Tuan." Leni menunduk, merasa bersalah.
****
Kini Aga dan Jessy sudah sampai disebuah restoran.
"Saya pesan Tartar Potatoes Salad, Biskvitena Torta dan juga Fried Herring Sandwich tanpa acar kesukaan pacarku." ucapnya pada Waitress.
"Aku tidak menyukai masakan it..." Aga teringat, bahwa itu kesukaan Yuna. Ia dulu berbohong karena tidak ingin Jessy curiga. "Aku pesan minum saja." imbuhnya pada Waitress.
"Baik Tuan."
"Aga, kau tidak lapar?" tanya Jessy heran.
"Sudah ku katakan, aku tidak lapar."
Aga memutar bola matanya jengah. Kau sendiri yang memaksaku, pikirnya.
"Aku pamit ke toilet sebentar!" pamitnya.
Jessy mengangguk. "Oke."
Aga beralasan, ia malah mengambil kesempatan itu untuk memesan menu kesukaan Yuna untuk dibungkus. Setelahnya ia kembali pada Jessy.
"Maaf aku lama." ucapnya ketika kembali.
"Iya tidak apa-apa."
Aga kemudian berpura-pura melirik jam ditangannya. "Jes aku minta maaf, ada sesuatu yang sangat penting jadi aku harus pergi."
"Iya tidak apa-apa, jika itu penting maka kamu harus pergi. Kita bisa berkencan lain kali." sahut Jessy penuh pengertian.
"Terimakasih."
Tanpa menunggu waktu Aga langsung pergi, membawa makanan yang sudah ia pesan tadi menuju rumah sakit untuk bertemu Yuna kembali.
****
Dirumah sakit Yuna masih sendiri, ia menutup kedua matanya dengan jemarinya.
"Aku lelah."
Meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Setiap hari aku berusaha untuk melupakan, dan pada akhirnya aku seperti ini lagi."
Bibirnya bergetar karena isakan, ia kemudian menatap dinding-dinding langit.
Yuna kemudian tidur memiringkan tubuhnya, menatap jemari yang terdapat cincin melingkarinya.
Ia sangat ingat betul dulu ia juga memiliki cincin yang melingkar ditempat yang sama. Dan ia ingat betapa singkatnya kebahagiaan itu, dan hancur karena egonya sendiri.
Namun, sekarang ia memiliki cincin yang lain dan terikat hanya karena untuk memenuhi janji. Janji untuk menikah dengan sahabatnya sendiri karena sudah membantunya membalas sakit hatinya pada Aga.
Ternyata dendamnya tak berguna, karena dia sendiri yang menderita.
"Aku ingin membencimu tapi aku sadar, rasa cintaku masih sebesar dulu."
Yuna masih larut dalam kesedihannya, tanpa mengetahui bahwa seseorang memperhatikannya dari luar.
"Permisi, saya akan memeriksa Nona Yuna." ucap salah satu perawat, ingin memasuki ruangan.
Aga melangkah minggir agar tak menghalangi jalan. "Sus, tolong sekalian berikan ini untuk pasien di dalam!"
"Baik, saya akan memberikannya."
"Terimakasih Sus."
Aga pun pergi, tak ingin tahu bahwa dirinya masih peduli pada Yuna. Aga sendiri begitu marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa untuk tidak peduli.
"Nona, ada yang memberimu kotak makanan ini." menyodorkannya kehadapan Yuna.
Ia pun membukanya, dan Yuna tahu betul siapa orang yang sangat tahu makanan kesukaannya.
"Dimana orangnya sekarang, Sus?" tanyanya ingin meyakinkan dugaannya.
"Tadi pria itu berdiri didepan pintu, tapi sepertinya sekarang dia sudah pergi." sahutnya.
Yuna sedikit kecewa ketika ia tidak bisa memastikannya, tapi ia yakin bahwa itu Aga.
Tak lama kemudian Jessy datang tiba-tiba untuk menjenguk teman barunya, yaitu Yuna.
Jessy datang dan seperti biasa langsung memeluk Yuna. "Yuna, gimana keadaanmu sekarang?"
"Saya sudah lebih baik, besok sudah boleh pulang." sahutnya.
"Ah syukurlah." Jessy lega mendengarnya. "Aku sekarang lagi kesal."
"Kesal kenapa?"
"Aku mengajak pacarku makan bersama, tapi dia tiba-tiba pamit karena urusan penting. Tapi, sebagai pacar yang baik aku harus mencoba pengertian." memuji dirinya sendiri.
Yuna tersenyum pasi. "Saya pamit ke kamar mandi sebentar."
"Apa perlu ku antar kan?"
"Tidak perlu, saya bisa sendiri."
Yuna pun beranjak dari tempat tidurnya menuju ruang kamar mandi yang tak jauh. Sedangkan Jessy tak sengaja melihat kotak makanan pembungkus khas restoran yang baru saja ia datangi.
Ia kemudian membuka kotak makan itu dengan curiga, betapa anehnya ia menemukan bahwa makanan itu sama dengan menu kesukaan pacarnya, Aga.
****
Insyaallah Author bakal UP 3xsehari. Bantu Vote yah kakak😘
__ADS_1
ohya, maapin kalo bahasa kepenulisan Author agak Formal. Karena suka menyelinapkan kata-kata bahkan puisi. Biasa Author suka SS lalu dijadiin SW 🤣 wkwkw maapkan.