AGA DAN YUNA

AGA DAN YUNA
20


__ADS_3

Yuna melemparkan sebuah undangan pernikahan didepan sahabatnya, Rino.


"Ini apa?" tanyanya tanpa menoleh.


"Bisa kau baca! Tertulis namaku dan Aga disitu."


"Jadi kamu akan menikah dengannya?"


"Menurutmu bagaimana?"


"Cih!" Rino acuh, tetap melemparkan bola didepannya, tak peduli.


"Kamu bisa datang ke pernikahanku jika mau, aku akan menunggumu."


"Aku tidak akan datang." tolaknya.


Yuna jadi tertawa. "Apa-apaan, ke acara pernikahan sahabatnya masa kamu tidak mau datang. Itu keterlaluan."


"Oke, baiklah Nona. Tapi kamu jangan menyesal ya!" menundukkan wajahnya, menatap Yuna.


"Tentu Tuan muda."


****


Hari ini Aga dan Yuna datang kesebuah boutique khusus gaun pernikahan, mereka memilah gaun yang akan dikenakan beberapa hari lagi.


"Aku akan mencoba ini." ucap Yuna pada Aga.


"Dan aku yang ini."


Mereka berdua kemudian saling mencoba pakaian masing-masing, tentu dibantu oleh pemilik boutique sekaligus perancang busana.


Setelahnya mereka saling berdiri berhadapan namun tertutup sebuah tirai untuk penghalang.


Dengan perlahan tirai penghalang itu terbuka dan mereka saling menatap kagum satu dan lainnya. Aga memakai stelah jas hitam yang begitu pas dengan tubuhnya yang tinggi dan kekar. Sementara Yuna berbalut gaun putih tulang yang begitu sederhana namun terkesan mewah.


Aga tak bisa mengedipkan matanya ketika melihat Yuna penuh kagum, begitu cantiknya.


Dengan canggung mereka berdua berdiri bersamaan menghadap kamera untuk menjadi sebuah kenangan.


"Kamu begitu cantik." bisik Aga.


Yuna menoleh dengan senyum. "Terimakasih, aku tidak sabar ingin segera memakainya."


"Aku juga sama, tidak sabar ingin kamu segera menjadi milikku."


Yuna menggandeng lengan Aga. "Aku mencintaimu." bisiknya ditelinga Aga, sebelum kemudian mereka mengabadikan foto mereka bersama.

__ADS_1


****


Kini sudah beberapa hari berlalu, dan besok Aga dan Yuna akan resmi menjadi suami istri.


"Aku kangen." kata Yuna diseberang.


"Bersabarlah, besok kita akan bertemu dan tidak akan terpisahkan lagi."


"Ah, tapi kenapa harus berpisah dulu sih. Sehari saja tidak bertemu aku sudah rindu," rengeknya.


Aga jadi tertawa mendengar suara manja Yuna. "Aku juga rinduuuuu sekali, aku tidak sabar untuk bertemu denganmu besok pagi."


"Ah sebal, aku kan ingin bertemu denganmu sekarang meski hanya sebentar."


Aga memutar otaknya untuk berfikir. "Baiklah, kalau begitu bagaimana kalau kita akan bertemu secara sembunyi-sembunyi? Aku akan menemui mu sekarang."


"Asik! Oke aku tunggu ya!" Yuna berteriak begitu gembira, sebelum ia memutuskan sambungan teleponnya.


"Dasar!" Aga gemas dibuatnya.


Tanpa membuang waktu, Aga langsung mengambil sebuah mantel untuk ia kenakan sebelum kemudian segera pergi menemui Yuna.


Sesampainya disana, Aga menyelinap masuk pagar, lalu mengetuk jendela kamar Yuna.


"Yun, Yuna." bisiknya seraya memanggil.


Aga pun masuk melalui jendela kamar Yuna susah payah, namun Yuna begitu senang ketika bisa melihat wajah tampan Aga.


"Oh calon suamiku." memegang kedua pipi Aga dengan gemas.


Aga tertawa dengan tingkah Yuna, ia pun juga memegang kedua pipi milik Yuna namun mencubitnya.


"Ih sakit." menepuk bahu Aga dengan kesal.


"Ha ha maaf, lagian kamu begitu menggemaskan jadi aku tidak tahan untuk tidak mencubit pipimu ini."


"Ih, tapi sakit tahu. Kamu kan bisa melakukan hal lain?"


"Hm, misalnya?" Aga bingung.


Yuna menyodorkan pipinya kedepan. "Mencium pipi calon istrimu misalnya."


"Cup!"


"Yang ini." menunjuk pipi sebelahnya lagi.


"Cup!"

__ADS_1


Yuna jadi tertawa lalu ia sendiri berinisiatif untuk membalas kecupan dikedua pipi Aga, lalu memeluknya.


"Hangat, aku menyukainya."


Mereka saling berpelukan, saling menghangatkan satu sama lain.


"Aku juga, rasanya berat berpisah meski hanya beberapa jam saja." sahut Aga.


Yuna mendongakkan wajahnya, lantas Aga mencubit hidung mancung milik Yuna dengan gemas.


Mereka semula saling bertatapan, saling berdekatan dan akan menautkan bibir masing-masing namun ketukan pintu membuat keduanya berjingkrak kaget.


"Yuna, kamu sudah tidur?" tanya paman dibalik pintu.


Aga kebingungan dan memilih bersembunyi dibawah tempat tidur, sedangkan Yuna membuka pintu.


"Iya paman, ada apa?"


Sang paman mengedarkan pandangannya. "Ah tidak, barusan paman mendengar ada suara."


"Oh itu, aku baru saja menonton video." sahut Yuna beralasan, gelagapan.


"Jangan tidur terlalu larut, besok kamu harus bangun pagi pagi!"


"Iya paman."


"Kalau begitu paman permisi. Selamat malam."


"Malam, paman."


Ketika melihat Ayahnya pergi dan Yuna menutup pintu kamarnya kembali, Aga menghela nafas lega.


"Yun, kalau begitu aku akan pergi. Sampai bertemu besok pagi." pamit Aga kemudian.


"Tunggu, Aga!" Yuna memeluk Aga kembali, mencurahkan isi hati. "Ijinkan aku sebentar lebih lama memelukmu."


Aga merasa Yuna begitu aneh, bahkan Yuna mengeratkan dan enggan melepas pelukannya.


"Yun, kamu menangis?" tanya Aga ketika Yuna melepas pelukannya.


Yuna memalingkan muka, menyeka cepat air matanya sebelum menoleh. "Aku hanya sedikit gugup saja untuk acara besok."


Aga menggenggam jemari Yuna lalu mengecupnya. "Aku mengerti kamu pasti gugup karena pernikahan kita terlalu cepat, tapi aku berjanji, aku akan menjagamu dan selalu membuatmu nyaman bersamaku."


Yuna mengangguk. "Iya, aku tahu kamu pasti akan melakukan yang terbaik untuk ku."


"Kalau begitu aku pergi, ya! Sampai jumpa besok."

__ADS_1


Yuna hanya terdiam mengangguk, melambaikan tangan pada Aga yang melangkah pergi. "Hati-hati dijalan."


__ADS_2