AGA DAN YUNA

AGA DAN YUNA
18


__ADS_3

Aga kini tengah merapikan pakaiannya, ia memasang sebuah Bros hadiah ulang tahun dari Yuna, ia letakkan di jasnya.


"Aku akan selalu memakainya," ucapnya sambil bercermin di kaca yang membentang.


Yuna tiba-tiba masuk kedalam kamar, "Aga, kau sudah siap?" tanyanya sambil memasuki kamar. "Hari ini kau tampan sekali."


Aga hanya tersenyum mendengar pujian itu. "Rambutmu masih basah, biar ku bantu keringkan."


"Ah tidak perlu." tolaknya.


"Kemarilah!" menarik tubuh Yuna, menuntunnya duduk didepan cermin, lalu membantu mengeringkan rambut Yuna yang masih basah diujung dengan hairdryer.


Aga mengambil helai rambut Yuna untuk ia cium. "Rambutmu wangi sekali."


"Bener kah?" Aga mengangguk. "Aku hanya memakai shampoo dan conditioner saja."


"Benar kah? Kenapa wanginya berbeda?"


"Ah, kamu ada-ada saja. Ini hanya bau shampoo biasa." Yuna jadi malu.


"Serius, ini berbeda. Aku pikir kali ini sangat wangi."


"Memang biasanya bagaimana?"


"Kecut, kau pasti jarang keramas sebelumnya." sahutnya becanda, malah mendapat pukulan dari Yuna.


"Yah! Aku sering keramas tahu." teriaknya, menebalkan bibirnya, kesal.


Aga tertawa. "Ha ha ha aku hanya becanda tahu."


"Dih, makanya seringlah mencium rambutku ini biar kamu tidak menuduhku bau kecut lagi."


"Oke siap, aku akan mencium wangi rambutmu setiap hari."


"Eh, bukan begitu juga." Yuna jadi salah bicara, dan Aga malah menyukainya. "Tidak, aku tidak mau. Jangan berani-beraninya menyentuh rambutku lagi!"


"Sudah terlambat! Kamu harus membiarkan ku menyentuh rambutmu setiap hari." tolak Aga, Yuna jadi pasrah karena salah bicara. "Sini biar ku ikat rambutmu!"


"Memangnya kau bisa?"


"Sudah jangan banyak tanya, mana ikat rambutmu?" Yuna menyodorkannya, lalu Aga mengambilnya.

__ADS_1


Dengan perlahan Aga menggenggam rambut panjang terurai milik Yuna, lalu mengikatnya menjadi satu. "Bisa kan?" tanyanya ketika selesai menguncir rambut milik Yuna.


"Keren! Kamu pandai memasak, mengurus perusahaan, dan sekarang pandai mengikat rambut. Benar-benar keren." puji Yuna, mengacungkan dua jempol.


"Kamu juga pandai memikat hati ku." sahut Aga, membuat Yuna jadi merona. "Mari kita berangkat sekarang!"


"Yuk!"


****


"Aga."


tiba-tiba Nisa masuk menerobos keruangan Aga ketika Yuna tengah pergi.


"Ada apa datang kemari?"


"Aku ingin berbicara dengan mu."


"Aku sibuk, tidak ada waktu. Sebaiknya kamu keluar saja!" ucapnya acuh, menatap laptop didepannya.


"Aga, sampai kapan kamu akan bersikap seperti ini pada ku? Kenapa kamu terus tidak peduli padaku? Bukan kah kita masih saling mencintai?"


"Tapi aku mencintaimu Aga, aku sudah memutuskan hubunganku dengan pria itu hanya demi untuk bersama kamu."


Nisa mencoba menggapai jemari Aga, tapi Aga seketika menepisnya.


"Aga aku mohon, jangan tinggalin aku!" Nisa memohon memeluk kaki Aga.


"Jangan lakukan ini lagi, Nis! Akan percuma karena aku tidak akan pernah kembali bersama mu."


Mendengar penuturan Aga, Nisa dengan marah beranjak berdiri dan menyeka air matanya. "Ini pasti karena gadis itu, jika aku tidak bisa memilikimu maka oranglain juga tidak akan bisa."


"Apa maksudmu?"


"Aku akan memberitahu Yuna sekarang kalau kamu pernah mengkhianatinya, bahkan kecalakaan yang dialaminya hingga menghancurkan impiannya, itu semua gara-gara kamu, Aga." ancamnya.


Seketika Aga menjadi kaku, ia terbayang kembali pengkhianatan yang ia lakukan itu. Aga takut kalau Yuna sampai tahu semua itu, Yuna akan pergi meninggalkannya.


Ia kemudian berlari menyusul Nisa, mencoba mencegah perempuan itu untuk tidak menemui Yuna.


Disisi lain Yuna tengah berbincang dengan teman dikantornya, membahas beberapa surat masuk dan keluar.

__ADS_1


"Aku ingin berbicara denganmu."


Tiba-tiba Nisa datang dengan tatapan serius, membuat Yuna bertanya-tanya. "Berbicara mengenai apa?"


"Sebenarnya aku dan Tuan Aga...."


"Yun!" Aga datang menyela dengan nafas terengah-engah, membuat Yuna menoleh. "Kamu keruangan ku sekarang, sepertinya aku harus mengubah jadwalku untuk besok."


"Harus sekarang, ya?"


"Iya, sekarang."


"Baiklah Tuan." tanpa bertanya lagi, Yuna langsung melangkah pergi tanpa menghiraukan Nisa yang ingin menyampaikan sesuatu padanya.


"Kau! Kau dipecat hari ini." ucap Aga pada Nisa, lalu pergi menyusul Yuna.


"Aaaaaaaaa!" Nisa sudah kehilangan kewarasannya, ia membanting beberapa dokumen dan benda kantor yang berada diatas meja kerja, membuat yang lain begidik ngeri ketika melihatnya.


"Aku akan membalasnya Yuna, dasar wanita sialan!" umpatnya.


****


"Tuan, untuk besok akan diadakan rapat pada jam siang." ucap Yuna membacakan jadwal.


"Batalkan."


"Baik. Kemudian kita ada janji untuk bertemu relasi bisnis.."


"Batalkan!"


"Hah?" Yuna heran, bukannya hal ini begitu penting.


"Batalkan semua janji untuk beberapa minggu kedepan." tegasnya. "Dan satu lagi, jangan berbicara formal padaku ketika kita sedang berdua."


"Ya, baiklah." Angguk Yuna mengindahkan.


Aga kemudian melirik jam ditangannya, "Mari kita pulang, cukup sampai jam segini saja kita bekerja."


"Eh, tapi_"


Aga langsung merangkul Yuna. "Aku akan mengajakmu jalan-jalan."

__ADS_1


__ADS_2