AGA DAN YUNA

AGA DAN YUNA
43


__ADS_3

"Aga."


Yuna keheranan ketika laki-laki itu datang dengan muka merah padam, lebih lagi tanpa mengucap satu kata patahpun langsung mencengkram pergelangan tangannya dan menariknya untuk mengikutinya.


Aga tak peduli ketika Yuna memekik kesakitan karena cengkraman tangannya begitu kuat.


"Aga, Yuna," Jessy ingin mengejar mereka berdua akan tetapi Vale menghentikannya.


"Jangan ganggu mereka, Jes!"


"Tapi Vale..."


"Aku akan menjelaskannya padamu."


Vale akan menceritakan semua kisah tentang mereka berdua, sekarang sudah tidak bisa ditutup-tutupi dari Jessy.


Sedangkan Aga menuntun Yuna keruangan khusus yang biasa ia gunakan untuk beristirahat, sesampainya disana Aga langsung menarik tubuh Yuna dengan kasar sehingga wanita itu terbanting diatas ranjang.


"Aga, ada apa?" tanya Yuna dalam kebingungan.


Aga tak mampu menjawab, ia sungguh terbakar. Jadi ketika Yuna melontarkan kata itu, Aga seketika mengambil vas bunga diatas meja lalu melemparkannya ke cermin hingga cermin itu pecah berserakan, sama seperti perasaan Aga saat ini yang telah luluh lantah tanpa arah.


Yuna meringis ketakutan ketika melihatnya, namun ia jadi tersadar akan kesalahannya.


"Kamu kejam, Yun."


Aga berucap sembari duduk dilantai, menundukkan kepalanya yang telah berderai airmata, ia tidak bisa menahan kesedihannya.


"Aga, maafkan aku."

__ADS_1


Seketika Aga menepis jemari Yuna ketika menyentuhnya, guna memberinya ketenangan.


"Singkirkan tanganmu! Aku tak menyangka kamu setega itu."


"Maaf, aku bersalah."


Aga beranjak berdiri, memegang kedua pundak Yuna dan sedikit mengguncangnya. "Apa kamu sadar yang kamu lakukan, Yun? Kamu sudah membunuh bayi yang tidak bersalah."


"Maafkan aku." Yuna hanya bisa menunduk, terisak begitu kerasnya, hatinya pun terluka.


"Aku tak mengira hatimu sekejam ini. Apa aku mau mamamu menyelamatkan ku? Apa juga keinginanku kamu menyelamatkan ku? Aku tidak pernah meminta itu, Yun," ucapnya penuh penekanan. "Kalau boleh memilih, biarkan aku saja yang mengalami kecelakaan, biarkan aku saja yang mati tertabrak. Apa kamu berpikir aku selama ini tidak menderita dan merasa bersalah pada kalian padahal itu semua bukanlah keinginan ku? Tapi yang kamu lakukan sekarang lebih menyakitkan ku, kamu tega."


Mendengar penuturan itu membuat Yuna lemas, ia duduk terkapar dilantai penuh isakan dengan bibirnya yang bergetar.


"Hanya karena kamu mengira aku mengkhianati mu, sehingga kamu tega mempermainkan perasaan ku. Dan lebih kejamnya lagi kamu membunuh bayiku. Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu."


"Maafkan aku!"


"Hentikan kata maaf mu itu, itu tidak akan merubah apapun!" ucapnya penuh penekanan. "Lebih baik kamu pergi sekarang, jangan pernah menunjukkan wajahmu dihadapan ku lagi!"


"Tapi Aga.."


"Pergilah! Hiduplah dengan bahagia dengan suami sampah mu itu!" ucap Aga dengan sarkas, penuh kemarahan.


****


Yuna masih terisak, dia menidurkan kepalanya diatas meja rumahnya.


"Yun, kamu sudah pulang?" tanya Rino.

__ADS_1


"Aku sudah berhenti bekerja." sahutnya, tanpa menoleh.


"Baguslah, lebih baik kamu dirumah saja atau lakukan kegiatan yang lain." sahutnya.


Rino menuangkan segelas air ke dalam gelas lalu meneguknya, "Aku akan kembali lagi ke kantor, mungkin aku akan pulang terlambat."


"Iya." sahut Yuna lemah, ia tak peduli lagi.


Yuna tetap menidurkan kepalanya yang terasa pening diatas meja, tak menoleh pada suaminya.


"Oh ya, saat jadwal mu check up. Aku akan pergi mengantarmu karena kebetulan aku tidak sibuk."


"Iya." sahutnya sengenanya.


"Kalau begitu aku pergi ya." mengecup pipi istrinya dari belakang sebelum ia melangkah pergi.


Yuna jadi semakin terisak, bukan kah dari suara saja ia sudah tidak baik-baik saja. Kenapa suaminya begitu tidak peka, tidak seperti dirinya yang dulu.


Sudah berhari-hari dari kejadian waktu itu, Yuna masih terngiang bagaimana ekspresi kemarahan dari Aga, bagaimana ekspresi kekecewaan besarnya, lebih lagi sumpah serapahnya.


"Hiduplah berbahagia dengan suami sampah mu itu!"


Hatinya terasa sakit mengingat itu, karena pada kenyataannya. Rumah tangganya hampa dan kesepian. Rino tak lagi peduli padanya, bahkan sedikit perhatiannya saja tidak pernah Yuna dapatkan.


"Aku tidak bahagia."


Yuna selalu menghabiskan hari-harinya dengan minum tanpa mempedulikan kesehatannya, ia berpikir itu hanya salah satu cara agar dia melupakan kesedihannya dan bisa tertidur pulas tanpa merasakan apa-apa.


Begitupun dengan Aga, ia tidak pernah lagi berbicara pada siapapun. Ia membatasi dirinya, bahkan Jessy sulit untuk menghubunginya.

__ADS_1


Berkali-kali Vale datang menemui Aga untuk menghibur sepupunya itu, namun Aga memilih diam tak peduli. Bahkan, Aga memilih dikamar dan tertidur. Ia tidak ingin memikirkan apapun, mengingat Yuna adalah sebuah kesakitan untuknya, jadi ia tidak ingin membahasnya atau sekedar mengingatnya.


__ADS_2