
Aga saat ini berada disalah satu club malam, ia mencoba menenangkan dirinya dan tersadar.
"Aku tidak boleh menaruh perasaan pada Yuna!" yakinnya pada diri sendiri, sembari meneguk minuman untuk menetralkan pikirannya.
Aga tahu betul bahwa dia harus membuang jauh perasaannya, karena kalau sampai itu terjadi hanya akan membuat dirinya terluka. Ketika ingatan Yuna kembali, tentu gadis itu akan sangat membenci dirinya. Hal itulah yang sangat ditakutkan Aga.
Beberapa kali ponselnya berdering, tapi ia mengabaikan panggilan dari Yuna. Sedangkan Yuna menunggunya pulang dengan gelisah.
"Sudah jam dua, kenapa dia belum pulang sih? Dia juga tidak menjawab panggilanku." gumamnya khawatir, mondar mandir sedaritadi memikirkan hal yang bukan bukan, pasalnya diluar sedang tengah hujan lebat.
Setelah menunggu sekian lama, akhirnya Yuna mendapatkan sebuah pesan dari Aga.
Aga : "Aku tidak akan pulang malam ini, tidurlah!"
Selesai membaca pesan dari Aga, membuat dirinya tersadar. "Aga pasti lagi bersama dengan pacarnya." ucapnya begitu sedih, tak bisa ia pungkiri lagi.
Ketika mendapat pesan itu, membuat Yuna semakin tidak bisa memejamkan matanya. Hatinya terasa begitu sesak sehingga ia harus memukul dadanya berulang.
"Sadarlah! Sadarlah Yuna!" yakinnya pada diri sendiri, sembari memukul dadanya.
Tujuan utama Yuna adalah membalas dendam atas kematian ibunya, bahkan ia harus mengubur impiannya akibat kecelakaan yang baru saja menimpanya. Mengingat hal itu membuat sakit didada, dan Yuna harus terus melawan perasaannya.
Memang terkadang hati dan logika tidak sejalan jika mengenai perasaan, apalagi akhir-akhir ini Aga bersikap terlalu baik padanya.
Setelah lama Yuna larut dalam sedihnya, ia pun ingin memejamkan matanya. Tapi, tiba-tiba dering ponselnya berbunyi, Aga menelfonnya.
"Yuna, keluarlah!" suara Aga diseberang, berteriak dengan kencang bersamaan dengan suara derasnya hujan.
__ADS_1
Tanpa mendapat jawaban dari Yuna, ia pun segera mematikan sambungan telfonnya dan Yuna segera melangkah keluar, tak lupa membawa payung untuk ia kenakan.
Setibanya diluar, ia dikagetkan dengan keadaan Aga yang sedang berada dibawah guyuran hujan dan basah kuyup.
Yuna berlari menuju Aga dan langsung memayungi lelaki yang tengah frustasi itu sambil mengomelinya.
"Aga, kamu sedang apa disini? Lihatlah kamu jadi basah kuyup begini! Udaranya begitu dingin dan kamu bisa_"
Seketika Yuna tertegun dan kaku sembari membelalakkan matanya, ia tak menyangka bahwa Aga langsung menangkup kedua pipinya dan langsung menciumnya.
Begitu syok dan tertegunnya, sehingga membuat tangan Yuna lunglai dan melepas payung yang sedang melindungi nya dari guyuran hujan.
Aroma manis dari bibir Aga ketika mencium bibirnya begitu terlihat jelas bahwa lelaki didepannya ini sedang mabuk. Entah apa yang sedang dipikirannya saat ini.
"Aga!"
"Maafkan aku, Yun." ucapnya berulang tanpa sadar sembari menangis sesenggukan.
Mendengar itu membuat Yuna jadi melepas pelukannya untuk menahan tubuh Aga yang lunglai hingga terkapar ke tanah.
Aku harus kuat, aku tidak boleh luluh begitu saja!
Yuna pun menyeka kasar air mata yang mengalir di pipinya tanpa permisi, ia mencoba mengingat kembali apa yang telah dilakukan Aga kepadanya. Dia tidak luluh semudah itu.
Dengan tega, Yuna meninggalkan Aga terkapar dihalaman sambil terguyur hujan. Sedangkan dirinya kembali melangkah memasuki gedung apartemen tanpa perasaan.
****
__ADS_1
Silaunya matahari menyinari dan menusuk mata Aga yang tengah terpejam, ketika ia membuka mata sudah banyak sekali orang-orang berkumpul dan memandanginya.
"Yah!"
Aga sendiri kaget, bisa bisanya dia tidur didepan gedung apartemen. Lebih lagi banyak orang yang melihatnya membuat dirinya tak punya muka, begitu malu.
"Anak muda, kamu tidak apa-apa?" tanya salah seorang nenek tua yang ikut berkumpul melihatnya.
Dengan cepat dan tegak Aga berdiri. "Aku tidak apa-apa nek." sahut Aga sengenanya, menunduk cepat memberi hormat lalu berlari memasuki gedung apartemen.
"Kasihan ya, mana masih muda." celetuk salah satu ibu ibu yang melihat tingkah laku aneh Aga, berlarian seperti orang gila.
"Iya, miris sekali."
Aga dengan tergesa-gesa memasuki lift dan buru-buru ingin sampai diruang miliknya. segera ia menekan tombol bel rumah dan Yuna membukakan pintu untuknya.
"Pagi Yun." sapanya dengan malu-malu.
"Pagi." jawabnya. "Dari mana saja semalam? Kenapa baru pulang?"
"Ah itu." Aga tak tahu harus menjawabnya apa, karena sendiri tak sadar telah tertidur dijalanan seperti orang gila. "Aku menginap dirumah temanku." sahutnya berbohong.
"Oh begitu." Yuna pura-pura mengangguk dan menelaah.
Aga lalu mencium aroma tak enak dari tubuhnya. "Aku mau mandi dulu." pamitnya.
"Baiklah, akan aku siapkan sarapan untukmu."
__ADS_1
Aga tersenyum. "Terimakasih."