
Ketika dua keluarga itu sedang asik berbincang-bincang, kemudian Joni mengajak Bu Neni untuk pergi ke KUA untuk mengurusi persyaratan pernikahan mereka. Dan meninggalkan Arif dirumah bersama Indra dan Leni.
"Nen, ayo kita pergi ke KUA untuk mengurusi persyaratan pernikahan kita, karna pernikahan kita sebentar lagi akan di laksanakan jadi kita harus secepatnya mengurusi pernikahan kita" (ucap Joni kepada Bu Neni)
"Yasudah mas, aku siap-siap dulu" (ucap Bu Neni)
Sementara Bu Neni sedang bersiap-siap, Joni pun berbicara kepada Arif agar menunggu dia disini.
"Rif, kamu disini saja yah bersama Indra dan leni. Tunggu ayah sampai kembali." (ucap Joni kepada Arif putranya)
"Iyah yah, aku akan disini menunggu ayah" (ucap Arif kepada ayahnya)
Ketika Bu Neni dan Joni sudah pergi untuk mengurusi persyaratan pernikahan mereka, Arif dan Indra sedang asik mengobrol di ruang tamu, sementara Leni berada di kamar. Tetapi ntah mengapa Arif berharap agar Leni pun keluar dan mengobrol dengan dia. Kemudian Indra memanggil Leni agar keluar kamar, tujuan Indra cuma ingin supaya Leni dan Arif semakin dekat karna mereka sebentar lagi akan menjadi kakak dan adik.
"Dek..." (ucap Indra kepada Leni)
__ADS_1
"Iyah ka?" (Leni pun menjawab hanya di dalam kamar)
"Kemarilah, jangan di kamar saja." (ucap Indra kepada adik yang sangat ia sayangi)
Leni pun terpaksa keluar kamar, ntah mengapa saat dia ingin keluar kamar dan pergi ke ruang tamu, jantung Leni sangat berdebar kencang. Perasaan dia seperti belum siap untuk bertemu dengan Arif, Leni pun tidak mengerti apa yang terjadi kepada dirinya, padahal selama ini jika Leni bertemu dengan orang baru dia selalu santai dan asik untuk di ajak ngobrol. Ntah mengapa dia menjadi gadis pendiam saat bertemu dengan Arif.
"duduk sih dek sini, jangan di kamar saja" (ucap Indra sambil menarik tangan adiknya itu untuk duduk bersama dirinya dengan Arif)
Leni pun cuma bisa tersenyum, dia tidak tau harus mulai pembicaraan dari mana. Arif pun mencoba bertanya kepada Leni, menanyakan dimana Leni kuliah.
"Di kampus hijau" (ucap Leni sambil bermain handphone miliknya)
"Jawabannya singkat, yasudahlah tidak apa-apa mungkin dia masih belum bisa menerimaku" (ucap Arif di dalam hati)
Kemudian keadaan menjadi hening, cuma Indra yang hanya bisa mencairkan ke adaan. Indra pun sedikit aneh kepada adiknya, biasanya dia tidak seperti ini. Apa jangan-jangan dia sebenarnya belum bisa menerima ibunya untuk menikah lagi dan dia harus memiliki sodara tiri.
__ADS_1
"Ahhh tidak mungkin, Leni pasti sudah bisa menerima ibu untuk menikah lagi dan dia juga bisa menerima bahwa dia akan memiliki sodara tiri" (ucap Indra di dalam hati)
Kemudian Indra menyuruh adiknya untuk membuatkan cemilan karna Indra ingat kemarin ibu sudah membeli pisang.
"Dek, kayanya bikin pisang goreng enak deh" (ucap indra sambil tersenyum kepada adiknya)
"Yasudah, aku bikinkan dulu yah ka" (ucap Leni kepada Indra, dan dia pergi ke dapur untuk membuatkan kakaknya pisang goreng)
Sementara itu ketika Leni sudah pergi ke dapur, Arif pun bertanya kepada Indra. Apakah adiknya itu adalah gadis yang pendiam.
"Inn.. emang adik lu pendiam? kok ketus banget sih hahaha" (Arif pun bertanya kepada Indra dengan nada tertawaan)
"Engak lah, adik gue tuh sebenernya mudah bergaul, mungkin karna dia masih malu kali yah sama lu. Apa mungkin muka lu nakutin" (ucap Indra sambil tertawa)
Sementara itu Leni yang sedang di dapur mencoba menarik napas dan mengeluarkan nya perlahan.
__ADS_1
"Huuuuhhhh..." (ucap Leni yang sedikit sudah mulai merasa lega)