Aku Menikahi Kakak Tiriku

Aku Menikahi Kakak Tiriku
eps 58


__ADS_3

"Yatuhaaaaaan, Arif kemana lagi sih susah banget buat di kabarinnya, hampir 1 jam gue nungguin balesan dari dia"


Leni pun hanya bisa membaringkan dirinya di atas tempat tidur dan terus menatap layar handphonenya tapi tetap sampai malam Arif belum membalas pesan dari Leni, Leni pun akhirnya tertidur sambil memegang handphonenya.


Sementara itu Joni pun mencoba mengetuk pintu kamar Leni dan ini kali pertamanya Joni memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Leni.


Tok....tokkk....tokkk


"Nak, ini ayah, bisa keluar sebentar"


Leni pun membuka pintu kamarnya "eh ayah ada apa?" ucap Leni kepada Joni.


"Gini nak, ayah cuma ingin bertanya kepadamu, apakah ada kabar lagi dari Arif?"


"Engak ada ayah, Leni pun sampe tertidur nunggu kabar dari Arif, nanti Leni coba hubungi Arif lagi deh. yaudah ayah istirahat lagi yah ini sudah malam" jawab Leni yang menyuruh ayahnya tertidur agar ayahnya tidak terlalu mengkhawatirkan keadaan anaknya Alif.


Joni pun kembali ke kamarnya, dan Leni pun sudah masuk ke kamarnya dan terus menelpon Arif tapi tetap Arif belum menjawab telpon dari Leni.


_


Sementara itu keluarga Arif sedang panik memikirkan keadaan Alif yang semakin parah, Bu Ratna pun terus menangis di depan ruangan UGD, dan dokter pun belum keluar untuk memberitahukan keadaan Alif.


"Sudah Bu jangan nangis terus, kita harus berdoa untuk kesembuhan mas Alif" ucap Iin yang terus menenangkan Bu Ratna sambil terus mengusap tangan Bu Ratna.


"Bagaimana ibu bisa tenang, di dalam sana anak ibu sedang berjuang untuk hidup nak, selama ini yang selalu menemani ibu adalah Alif, ibu ga mau kehilangan dia"

__ADS_1


Arif terus menatap mata ibunya yang terus menangis, ia merasa bersalah karena selama ini Arif belum bisa memberikan waktunya untuk bersama dengan ibunya, sedangkan selama ini ibunya belum pernah meninggalkan nya seorang diri. Arif pun segera menemui ibunya dan terus memeluk ibunya dengan erat dan penuh kasih sayang.


"Bu maafkan Arif, ibu jangan nangis lagi yah, benar kata Iin kita harus berdoa untuk kesembuhan Alif"


Arif pun terus mengusap pundak ibunya, dan ibunya pun terus memegang tangan Arif dengan erat.


"Ibu ga mau kehilangan kamu lagi Rif, ibu ingin berkumpul dengan anak-anak ibu, ibu ga mau kalian tinggalkan ibu seorang diri disaat ibu sudah menua"


Lina pun menemui ibunya dan menyuruh Iin berdiri dan Lina pun duduk di samping ibunya sama seperti Arif.


"Kita ga akan pernah tinggalkan ibu, karna kita semua sayang dengan ibu. Lina, Arif, Alif, mas agung dan Lidia kita semua akan selalu di samping ibu"


Akhirnya dokter pun keluar dari ruangan UGD, dokter memberitahukan kondisi Alif sekarang karna paru-paru yang di derita Alif semakin parah dan Alif pun harus di rawat di rumah sakit beberapa hari. Alif pun sudah masuk keruangan rawat inap dan keluarganya pun sudah bisa menemui Alif.


Kak Lina orang pertama yang masuk keruangan adiknya itu karna ibu dan Arif sedang berbicara dengan dokter


"Aku baik kak, maaf yah kak udah ngerepotin kalian dengan penyakit aku sekarang*"


Kak Lina pun hanya bisa tersenyum mendengar perkataan adiknya itu, ia pun langsung menjewer kuping adiknya itu "*Kamu tuh yah lagi sakit juga tetep aja bilangnya ga apa apa"


"Hehehe aku kan strong kak, oh iyah ibu dan yang lain dimana kak?"


"Ibu sama Arif lagi berbicara dengan dokter di depan UGD, sedangkan mas agung sedang menjaga lidia di luar, karna pihak rumah sakit melarang Lidia untuk masuk dek. Tapi bentar lagi juga ibu sama Arif kesini kok*"


Tiba-tiba pintu kamar Alif terbuka dan ternyata Bu Ratna dan Arif yang masuk keruangan Alif. Bu Ratna pun segera berlari dan memeluk anaknya yang terus menangis.

__ADS_1


"ibu sayang sama kamu nak, kamu harus cepet sembuh yah" Bu Ratna pun terus memeluk anaknya itu dan terus mencium Alif.


"Iyah ibu Alif juga sayang banget sama ibu, maafin Alif yah Bu selama ini selalu membuat ibu khawatir dengan keadaan Alif yang sering jatuh sakit"


Ketika Bu Ratna sudah terlihat tenang dengan melihat kondisi Alif, Arif pun menyuruh ibunya segera pulang bersama kak Lina, mas agung, Lidia dan Iin.


"Oh iyah Bu, ibu sama kak Lina pulang yah bersama mas Agung, kasian Lidia di luar, ini sudah malam, biar Arif saja yang disini untuk menjaga Alif" ucap Arif kepada ibunya.


Akhirnya Bu Ratna pun mau untuk beristirahat di rumah dan mempercayakan Arif untuk menjaga Alif di rumah sakit.


Ketika semua keluarga sudah pulang, Alif pun mencoba bangun dan duduk untuk bersender di tempat tidurnya.


"Lu mau ngapain bangun" ucap Arif sambil membantu Alif


"*Pegel gua pengen bangun, oh iyah Rif gua mau nanya sama lu soal pertanyaan gua sewaktu di rumah"


"Pertanyaan apa*?" Arif pun mulai terlihat bingung.


"Lu mau nikahin Iin demi gua?"


Arif pun hanya bisa menarik napasnya, ia bingung harus menjawab dengan perkataan apa.


"Gua mohon sama lu, lu mau kan nikahin iin? Dengan lu menikah dengan Iin, lu bisa menjaga ibu di sini, tapi jika lu dengan Leni lu bakalan pergi ninggalin ibu, terus siapa yang bakalan jagain ibu di saat gua udah pergi, dan itu semua ga bakalan bikin kepergian gua tenang Rif, sekali lagi gua mohon sama lu, ini permintaan terakhir gua." ucap Alif yang terus menerus memohon kepada Arif.


"Yaudah iyah gua mau nikahin Iin, ini semua demi lu dan ibu, karna gua sayang sama kalian semua"

__ADS_1


Tanpa pikir panjang akhirnya Arif pun menyetujui dengan sangat terpaksa, karna ini menyangkut dengan kesehatan sodara kembarnya karna dokter sudah memberitahu kondisi Arif yang semakin parah dan dokter pun berpesan agar selalu membuat hati Alif bahagia. Dan selain itu Arif pun memikirkan soal ibunya, karna ia sudah berjanji kepada ibunya akan terus menjaga nya dan selalu ada sisi ibunya.


__ADS_2