
Setelah di kamar Leni pun menangis seakan-akan dunia ini akan hancur, mengapa di saat ia baru saja menyukai laki-laki dan berharap laki-laki itu akan menjadi pasangan hidupnya, tapi takdir berbicara lain, mereka di pertemukan untuk menjadi satu keluarga, bukan di pertemukan menjadi pasangan kekasih. Leni pun terus mengurung dirinya di kamar seolah-olah tidak memperdulikan keadaan di sekeliling nya. Leni terus meratapi nasibnya, Leni menyesal mempunyai perasan lebih kepada Arif. Hati Leni pun sangat rapuh dan sakit, dia membutuhkan sosok ibunya untuk menjadi penguatnya tapi Leni tidak mungkin untuk bercerita kepada ibu bahwa ia sedang patah hati karena tidak bisa bersama Arif.
Sudah seharian Leni mengurung diri di kamar, sampai acara syukuran yang ibunya adakan selesai tapi Leni tak kunjung keluar kamar. Ibunya pun merasa cemas, apa yang terjadi dengan anak gadisnya itu.
Joni dan Arif pun berpamitan untuk pulang, memang acaranya sudah selesai jadi Joni dan Arif memutuskan untuk pulang dan mempersiapkan diri untuk melaksanakan akad nikah pagi nanti.
"Nen, aku pamit pulang dulu yah" (ucap Joni kepada Leni)
"Yaudah mas hati-hati sampai bertemu besok mas" (ucap Bu Neni yang tersipu malu)
Setelah Joni pulang dari rumahnya, Bu Neni pun langsung mengetuk pintu kamar anak gadisnya itu.
__ADS_1
"Lenn.. kamu sedang di kamar?" (ucap ibunya sambil mengetuk pintu kamar Leni)
Leni pun lama tidak membuka pintu kamarnya ternyata ia tertidur, matanya sangat berat karena ia terus menangis. Bu Neni pun terus mengetuk pintu kamar Leni sampai Leni membukakan pintunya, Leni pun mendengar bahwa ibu nya sedang memanggilnya dan terbangun dari tidurnya untuk membukakan pintu kamarnya.
"Naaak, buka pintunya" (ucap Bu Neni yang terus memanggil Leni)
"Iyah bu sebentar, maaf Bu aku tadi tertidur badan ku rasanya sedang tidak enak" (ucap Leni yang sudah membuka pintu kamarnya)
"Tidak Bu, sepertinya hanya masuk angin saja. Oh iyah Bu acaranya sudah selesai yah?" (ucap Leni karna bersedih tidak bisa membatu ibunya dan mementingkan ego)
"Iyah nak yang lain sudah pada pulang, yaudah kamu istirahat lagi yah agar besok pagi badannya pit kembali" (ucap ibunya yang sangat memperdulikan keadaan anaknya)
__ADS_1
Indra pun masuk ke rumah sambil mabawa gulungan tikar, dan melihat adiknya seperti orang yang sudah menangis. Indra memang kakak yang sangat peka terhadap adiknya, dia bisa membedakan mana adiknya yang sedang berbahagia dan mana adiknya yang sedang bersedih. setelah ibunya menyuruh Leni beristirahat dan Leni pun masuk kembali ke kamarnya, Indra mencoba untuk menemui adiknya itu dan berbicara dengannya ada apa yang terjadi dengan adiknya itu.
"Kamu sebenarnya kenapa sih dek? kakak lihat dari pagi kamu tuh aneh, seperti ada masalah tapi kamu ga mau cerita kesiapapun, cerita sama kakak dek" (ucap Indra yang mendesak adiknya untuk berbicara)
"Engak ka, aku ga kenapa-kenapa" (ucap Leni sambil menunjukan bahwa hatinya sedang rapuh)
"Apa semua ini ada sangkut pautnya dengan pernikahan ibu" (ucap Indra yang terus bertanya kepada adiknya)
"Engak ka aku ga kenapa-kenapa, aku cuma masuk angin saja"
Leni pun tetap dengan keputusannya untuk tidak memberitahukan kepada Indra bahwa Leni dan Arif saling menyukai, dan Indra pun tidak mau memaksa kepada adiknya jika adiknya tidak mau bercerita kepadanya.
__ADS_1
"Yaudah kalo kamu benar-benar sedang tidak enak badan, kamu istirahat saja supaya besok pagi badanmu sudah enakan" (ucap Indra kepada adiknya, dan Indra pun pergi meninggalkan kamar adiknya itu)