
Setibanya Bu Ratna di rumah, Bu Ratna menyuruh agar Iin bermalam dirumahnya untuk malam ini dan menyuruh Iin untuk tidur di kamar Arif.
Sedangkan Bu Ratna pun pergi ke kamar Alif untuk membersihkan bekas darah yang berada di tempat tidur dan di lantai kamar Alif.
_
"*Maafkan aku, aku harus meninggalkan mu tapi aku akan kembali karna aku sangat menyayangimu"
"Aaaaaaaa..Rriiiiifff*"
Leni pun terbangun dari tempat tidurnya, badannya penuh dengar keringat, jantungnya berdebar kencang, dan tangannya begetar.
"Ternyata hanya mimpi" Leni pun menarik napasnya dan mencoba mengambil air minum yang berada di atas meja dekat tempat tidurnya.
_
Sementara itu Iin pun segera masuk ke kamar Alif untuk beristirahat, ia pun langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur Arif dan ketika ia akan tertidur, tangannya pun tidak sengaja memegang handphone Arif yang berada di atas tempat tidur arif. Iin pun mencoba untuk membuka handphone nya Arif, dan Iin pun melihat beberapa panggilan tak terjawab dari nama Leni Sayang, Iin pun tidak berani untuk membuka pesan dari Leni. Iin pun lebih berani untuk membuka galeri Arif dan berharap ia bisa melihat poto Leni.
"Oh ini yang namanya Leni adik tiri Arif yang sekarang jadi pacarnya Arif, cantik juga sih. Anaknya manis ada lesum pipi nya juga" ucapnya dengan terus melihat lihat galeri Arif.
"Tapi gua ga bakalan nyerah, gua bakalan berjuang agar Arif bisa jatuh ke pelukan gua meskipun dia sudah mencintai gadis lain, gua ga peduli semua itu. Malam ini gua sudah bisa tidur di kamar airf yah meskipun sendiri tapi gua yakin secepatnya gua bisa tidur di kamar ini bersama Arif" Gumam Iin yang selalu optimis bisa mendapatkan cintanya Arif.
Keesokan harinya Bu Ratna sudah menyiapkan sarapan untuk di bawa ke rumah sakit.
"ibu udah masak?" ucap Lina menemui ibunya
"*Iyah nak, ibu sudah buatkan kalian sarapan dan akan membawa untuk Arif sarapan di rumah sakit"
"Oh iyah Bu, Lina kayanya ga bisa ikut ke rumah sakit, soalnya Lina harus mengantar Lidia ke sekolah, dan hari ini juga mas agung harus kerja, tapi sebelum berangkat ke kantor mas agung terlebih dahulu akan mengantar ibu ke rumah sakit*" ucap Lina sambil membantu ibunya memasak.
"Iyah nak terimakasih"
Iin pun segera terbangun dari tempat tidur Arif dan segera merapikan tempat tidur Arif dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya sebelum ia keluar dari kamar Arif dan menemui Bu Ratna dan kak Lina.
__ADS_1
Setelah Iin sudah selesai merapihkan dirinya, ia pun segera keluar untuk menemui Bu Ratna dan berpamitan pulang untuk berganti baju sebelum ia berangkat kerumah sakit untuk menemui Alif dan membawakan handphone Arif.
"Bu, Iin mau pamit pulang dulu yah. Iin mau ganti baju nanti Iin ikut ibu ke rumah sakit untuk menemui mas Alif" ucap Iin kepada Bu Ratna.
"Yasudah nak, kamu naik motor Alif aja supaya cepat kembali lagi dan membatu ibu untuk menyiapkan keperluan Alif selama di rumah sakit"
Bu Ratna pun segera memberikan kunci motor Alif yang berada di atas meja kamarnya Alif. Iin pun segera pergi untuk pulang kerumahnya dan kembali kerumah Bu Ratna dengan ke adaan yang sudah rapih.
Setibanya Iin di rumah Bu Ratna, Bu Ratna pun menyuruh Iin untuk memasukan baju Alif ke dalam tas dan tak lupa membawakan salin untuk Arif. Dan mereka pun segera pergi kerumah sakit untuk bertemu dengan Alif.
Sesampainya mereka di rumah sakit, ternyata semalaman Arif sudah memikirkan dengan matang-matang untuk menikahi Iin. Arif pun sudah siap menerima resiko untuk kehilangan Leni wanita yang sangat ia cintai demi kebahagiaan keluarganya. ini bukan hal yang mudah untuk melepas orang yang di cinta, tapi Arif harus memilih satu dari dua wanita, dan terpaksa harus mengorbankan perasaan Leni. Arif tau apa yang terjadi jika Leni mengetahui bahwa Arif akan menikahi wanita lain, Leni akan merasa tersakiti dan hatinya akan hancur karena Arif sudah menghianati cinta Leni.
Iin pun segera memberikan handphonenya kepada Arif, karna Iin sangat mengetahui bahwa Arif sangat membutuhkan handphone nya saat ini.
Arif pun langsung menarik tangan Iin keluar dari ruangan Alif.
"Aku mau ngomong sama kamu"
Iin pun sangat terkejut dengan perlakuan Arif kepadanya, tadinya Iin merasa takut Arif akan marah karena ia sudah lancang membuka handphone Arif.
"Mas, aku ga baca pesan dari pacar mas kok" ucap Iin kepada Arif.
"Bukan itu yang aku mau omongin" Arif pun segera mengajak Iin duduk di depan ruangan Alif.
"Aku mau ngomong soal perasaan aku ke kamu" ucap Arif sambil menundukkan wajahnya dan tak berani menatap wajah Iin.
"Hah... perasaan? maksudnya mas?" Iin pun di buat penasaran oleh Arif, Iin pun mencoba mengangkat dagu Arif agar Arif bisa memandang wajah Iin.
"Apakah kamu mau menjadi istri ku?"
Sontak Iin pun sangat terkejut, ia tidak menyangka bisa mendengar perkataan itu dari mulut Arif sendiri, hatinya melayang ke udara, ia sangat bahagia akhirnya keinginannya untuk memiliki Arif bisa terwujud tanpa ia harus bersusah payah untuk memperjuangkan cintanya.
"Apa kamu serius? bagaimana dengan kekasih mu?" ucap Iin dengan memasang wajah bersedih.
__ADS_1
"Masalah Leni biar itu urusanku, apakah kamu mau menerima ku sebagai suamimu, aku ingin secepatnya menikah denganmu?"
"Iyah aku mau mas.." Iin pun tersenyum kepada Arif dan langsung memeluk Arif dengan sangat erat.
Ketika Arif dan Iin sedang berpelukan, hati Arif sangat hancur ia terus memikirkan Leni. arif sudah menyakiti hati gadis yang tidak bersalah dan bahkan sangat menyayangi nya.
Arif pun langsung menyuruh Iin segera masuk keruang Alif, dan Arif pun segera pergi ke parkiran rumah sakit untuk menelpon Leni.
Tuuutt...tuuutt...tutt....
dan akhirnya telpon dari Arif di angkat oleh Leni.
(+)"Halloooo ..."
(-) "Sayang kamu lagi apa? maaf kan aku, aku baru sempat menghubungi kamu"
(+) "Oh iyah kamu dari mana aja, kayanya sibuk banget sampe lupa buat ngabarin aku"
(-) "Maaf sayang, aku lupa ngabarin kamu, handphone aku tertinggal di rumah, semalam Alif masuk kerumah sakit, tapi kamu jangan bilang sama ayah yah, Alif pun sudah mulai membaik kok"
(+) "Hah, Alif masuk ke rumah sakit, terus gimana sekarang keadaannya"
(-) "Iyah sayang kondisinya drop, kamu janji yah jangan bilang sama ayah"
(+) "Yaallah, Iyah aku ga bakalan bilang sama ayah"
(-) "Yaudah yah sayang, aku balik lagi ke ruangan Alif soalnya Alif ga ada yang jaga keluarga ku semuanya belum pada datang"
(+) "Oh iyah sayang, kamu jaga diri baik-baik yah"
(-) "Iyah sayang"
Arif pun segera menutup telponnya, Arif tidak bisa menahan tangisannya, tangisannya pecah di halaman rumah sakit, perasaannya sangat sakit harus menyakiti hati wanita yang sangat ia sayangi.
__ADS_1