
"Yaampun handphone gue ketinggalan lagi, mana hari ini kuliah sampe sore"
Gumam Leni karna ia sudah menyadari bahwa ada sesuatu yang tertinggal di rumahnya.
Sementara itu Bu Ratna menyuruh agar Arif menjemput Iin di rumahnya dan membawanya ke rumah, karna Bu Ratna sangat membutuhkan Iin untuk membantunya, karna kak Lina sedang tidak ada dirumah. Arif pun segera pergi menemui Iin dan tanpa ia sadari Arif lupa untuk membawa handphone nya yang berada di dalam kamarnya.
Setiba Arif di depan rumah Iin, ia mencoba untuk mengetuk pintu rumahnya. "Asalammualaikum... tok...tok...tok..."
Iin pun langsung keluar kamar untuk membukakan pintunya, ia pun sangat terkejut melihat Arif yang berada di depan rumahnya.
"Mas aaa..riff??"
Arif pun tersenyum melihat Iin yang sudah berpakaian rapih menggunakan jeans panjang berwarna abu-abu dan atasannya memakai kaos berwarna hitam dan ramput pendek sebahu yang membuat penampilan nya sangat menarik.
"*Masuk mas.."
"Iyah in terimakasih kayanya aku tunggu di luar saja deh, oh iyah aku kesini di suruh ibu untuk menjemput kamu ke rumah, kamu bisa kerumah sekarang?"
"Tentu saja mas aku bisa, tunggu di sini dulu yah, aku mau ambil jaket sama tas dulu*"
Iin pun tersenyum mendengar perkataan Arif, mereka pun segera pergi dari rumah Iin untuk menuju rumah Arif. dalam perjalanan ke rumah Arif, Iin tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk berdua dengan Arif, Iin pun memeluk Arif dengan erat seakan ia ingin terus bersama dengan Arif.
Tapi Arif mencoba untuk melepaskan pelukan Iin dengan hati-hati agar Iin pun tidak tersinggung dengan perlakuannya.
"Maaf yah in malu sama orang, ga enak jadi di liatin sama orang-orang"
Iin pun hanya tersenyum dan ia pun melepaskan pelukannya dan hanya memegang pinggang Arif saja, Iin pun sedikit kecewa dengan apa yang di ucapkan Arif, tapi Iin tidak akan menyerah untuk mendapatkan cinta Arif karna itu lah tujuannya untuk bisa menguasai cinta Arif.
Merekapun tiba di rumah Arif, iin langsung menemui Bu Ratna yang sedang berada di kamar Alif, sedangkan Arif langsung pergi ke kamarnya untuk mengambil handphone.
Sangat terkejut Arif ternyata Leni belum membalas pesan dari Arif atau menelponnya kembali, Arif pun mencoba untuk menghubungi Leni kembali tapi ternyata Leni belum mengangat telpnnya.
__ADS_1
"Kamu kemana sih Len??" gumam Arif sambil melihat layar handphonenya.
Sementara itu Iin pun langsung masuk kedalam kamar Alif dan melihat Bu Ratna sedang menemani Alif di atas tempat tidurnya.
"*Buuuu.. mas Alif kenapa?"
"Alif sakit lagi nak, badannya drop*"
Alif pun tersenyum melihat kedatangan Iin, "*Duduk in sini"
"Iyah mas terimakasih, mas Alif gimana kabarnya?"
"Aku baik in, yaudah ajak ibu keluar. aku mau tidur*"
Iin pun menganggukan kepalanya dan membawa Bu Ratna keluar dari kamar Alif.
Setelah di luar kamar Alif Bu Ratna mengajak Iin untuk ke halaman belakang rumahnya, ia pun menangis terseguk-seguk melihat ke adaan Alif yang semakin parah.
"Ibu jangan ngomong kaya gitu Bu, kita harus optimis kalo mas Alif akan sembuh*"
Arif pun langsung masuk menemui Alif dan tidur di samping Alif, ternyata Alif menyadari ke datangan Arif di kamarnya, Alif pun langsung membuka matanya.
"*Ngapain lo disini, bukan temenin Iin di sana?"
"Males ah gua nemenin dia Lif"
"Kenapa?"
"Yah gua ga suka aja, cewenya agresif*"
Alif pun hanya tersenyum mendengar apa yang di ucapkan Arif.
__ADS_1
"*Gua boleh minta sesuatu ga sama lu?"
"Apa?"
"Lu mau ga jaga Iin buat gua*??"
"*Maksudnya??"
"Maksud gua lu mau ga nikahin Iin demi gua, jujur dari SMA gua udah suka sama Iin karna dia tuh adik kelas kita, tapi gua ga berani buat ungkapin semuanya ke dia apa lagi dalam kondisi gua yang seperti ini*"
Arif pun sangat terkejut mendengar apa yang di ucapkan Alif kepadanya, ia hanya bisa menatap wajah saudara kembarnya itu dengan mata tidak percaya.
"*Lu gila yah, gua kan udah punya Leni, gua ga mungkin ninggalin dia karna gua sangat sayang sama dia"
"Tapi cinta lu ke Leni ga akan pernah di setujui oleh ibu, lu mau kehilangan ibu di saat hubungan lu dan ibu baru membaik*??"
Arif pun terdiam, ia bingung harus bagaimana sekarang, apa dia harus mengiyahkan keinginan saudara kembarnya itu, apakah tetap dalam pendiriannya untuk memperjuangkan hubungannya dengan Leni.
"*Sepertinya gua butuh waktu buat mikirin ini semua Lif"
"Gua mohon sama lu Rif, tolong nikahin Iin secepatnya sebelum gua pergi ninggalin dia, karna Iin adalah gadis yang baik, gua sangat mencintai Iin dan gua mau lu yang menjadi suaminya Iin*"
.
.
.
.
Jangan lupa like nya yah 😊
__ADS_1
Terimakasih sudah mau mampir untuk sekedar membaca, semoga kita semua dalam keadaan sehat.