
Saat ini Elisa sedang tidur.
Sebelumnya, aku memberikan saran untuk tidur. Bukan karena kesehatan, tetapi untuk menghemat pengeluaran poin sistem.
Lagian tubuh manusia biasa sangat berbeda jauh dengan kultivator, untuk seorang Elisa yang sekarang seorang kultivator tidak tidur satu hari tidak masalah.
Terlebih Elisa tidak memiliki hal lain yang dilakukan. Di tambah, saat ini dia tidak boleh berlebihan saat latihannya, karena sebentar lagi menghadapi tribulation.
Elisa cukup hebat, walaupun menderita sakit kepala, karena energi mental. Gadis ini masih dapat tidur, kalau itu aku pasti mau tidur saja sangat sulit.
[Selamat malam Elisa!]
...
Mentari pagi awal pertengahan musim dingin kali ini tidak memunculkan sinarnya. Udara di luar mansion menjadi lebih dingin, berbeda dengan di dalam mansion yang terasa hangat karena alat sihir tertentu.
Elisa dia sudah bangun tidur dari sejak awal pagi, sekarang dia sedang berjalan membawa pedang frost flower di pinggang di koridor mansion.
"Kak Eli/ Kakak tunggu!" suara serempak tiga orang.
Elisa mendengar itu berhenti berjalan, dia segera menoleh bukan karena melihat tetapi karena kenal suara tersebut. Mereka adalah Liliac, Anisa dan Asta pasti hendak mengajak Elisa kembali bermain.
"Ah, kalian! Kebetulan ada hal yang ingin aku katakan sebelumnya.
"Aku mau kembali berpetualang dan untuk Lili kalau mau tidak mau ikut tidak apa-apa." kata Elisa menjelaskan.
"Aku mau ikut!" Lili meninggikan suaranya.
"Bukankan kakak bilang akan merawat ku?" Lili menatap Elisa dengan tajam. "Apa kakak kamu berbohong?" tegas Liliac.
Mendengar hal itu Elisa menghela nafasnya, aku paham Elisa dan memahami apa yang di pikirannya.
Elisa segera menaruh tangan kanan diatas kepala Lili, kemudian dia mengelus kepalanya dengan hangat seraya berkata, "Kamu sudah cukup nyaman di sini dan kalian juga keliatan akrab, bila kamu bersama aku mungkin tidak akan senyaman ini Lili."
"Tetapi pokoknya aku mau ikut kakak!" kata Lili dia tetap tegas pada pendiriannya.
"Baik, kamu boleh ikut. Kamu tidak masalah karena ikut denganku berpetualang lebih jauh.".balas Elisa dia sambil mengangguk.
"Eeeeh!"
"Kak Eli dan Lili mau berpetualang di musim dingin ini? apa kalian yakin?" kata Anita dia keliatan terkejut.
Asta melihat saudari nya agak telat merespon dia menghela nafas seraya berkata, "Anita saudariku, kamu telat respon!"
"Tetapi apa kak Eli dan Lili akan berkunjung suatu saat bila nanti berpetualang?"
Lalu bagaimana caranya kita menghubungi Kak Eli nanti bila aku dan Anita rindu?"
Saat ini Asta bertanya dengan sungguh dengan pertanyaannya, dia benar-benar sangat menyayangi Elisa dan Lili. Bahkan terlihat matanya memasang ekspresi sedih.
"Tentu saja, aku nanti akan berkunjung dan juga nanti bila merindukanku kamu boleh mengirim surat sihir!"
"Kamu tahu? Dahulu saat aku masih tinggal di daerah kumuh. Aku pernah mencuri dengar seorang penyihir menghubungi orang yang akan melakukan transaksi ilegal dengan sihir pesan." kata Elisa.
"Kak Eli benar, tetapi untuk kemampuan sihir aku sekarang, sepertinya harus sering latihan agar dapat dengan benar menggunakan sihir pesan!" balas Anita sambil berpikir.
__ADS_1
"Lalu ayo pergi!" kata Lili, dia menarik tangan Elisa.
Elisa yang tiba-tiba di tarik tangannya oleh Lili. Segera menahannya kemudian seraya berkata, "Sabar Lili aku mau ke Tuan Count dahulu, kemarin dia sudah janji."
"Baiklah, aku akan menunggu di depan!" kata Lili.
Lili pergi bersama kembar, aku lihat mereka seperti ingin mengucapkan beberapa kata perpisahan. Sedangkan Elisa dan aku menuju ruangan Count. Elisa saat ini sudah pernah kesana dan dia masih ingat jalan nya.
Kenapa bisa begitu? itu karena Elisa kultivator memiliki intuisi ilahi yang kuat, dan bila tidak ada formasi ilusi tingkat menengah, ataupun tinggi. Dia tidak akan tersesat.
...
Setelah beberapa saat akhirnya Elisa sampai di ruangan Count. Ngomong-ngomong Elisa sekarang di dalam ruangannya. Dia berdiri di depan Count yang terlihat biasanya. Meja yang penuh dengan tumpukan kertas.
"Tuan Count, ini sudah sehari dan aku sudah berpamitan dengan Asta dan Anita. Kemudian untuk adikku Lili, dia mau ikut denganku, jadi kami akan pergi sekarang." jelas Elisa.
"Baik! Aku paham." balas Count melihat Elisa.
Setelah itu Count mengambil sekantung uang dari laci mejanya. Kemudian memberika pada Elisa seraya berkata, "Ini untuk kamu jumlah nya ada 5 keping emas, 10 keping perak, dan 20 keping Cooper."
Tetapi dia tidak hanya mengambil sekantung koin. Count mengambil selembar kertas yang dia gulung seraya berkata, "Dan satu lagi ini surat rekomendasi penginapan dariku. Nama penginapannya West flower."
"Nanti bila sudah sampai, kamu berikan surat ini agar kamu bisa menginap di sana!"
Elisa segera mengambil barang yangi Count berikan. Kemudian Elisa berjalan menuju luar ruangan. Aku sempat melihat Count keliatan menghela nafas panjang. Kemudian kembali mengisi beberapa tumpukan kertas.
Sepertinya dia akan sangat sibuk hingga satu hari penuh.
'Harun apa kamu ingat kejadian semalam saat aku latihan?'
[Itu berarti kamu sudah mulai mengumpulkan energi kehendak.]
[Selain dengan cara latihan, energi kehendak dapat di kembangkan dengan memakan buah kehendak.]
[Di toko harganya 20.000 poin sistem.]
[Atau membeli rumput niat pedang.]
[Harganya : 10.000 pon sistem]
Elisa mengangguk. kemudian mengepalkan kedua tinjunya seraya berkata, ''Mm, baiklah nanti aku coba."
Melihat Elisa bertekad. Sepertinya metode Mind of sword, untuk mencapai tahap semua menjadi pedang. Hanya menjadi hitungan minggu.
Bakatnya dengan pedang cukup mengerikan, bila Elisa ada di dunia waktu itu. Aku yakin dia akan di puja sebagai dewi pedang.
...
Setelah berjalan menelusuri koridor mansion dan berbincang tentang kultivator pada Elisa. Akhirnya sampai di pintu keluar. Aku melihat Lili memakai jubahnya, dan juga membawa dua buah tas selempang. Entah dari mana dia dapat? apa dari kembar? atau mungkin Karin.
Salain itu aku melihat Asta, Anita dan Karin memakai setelan baju hangat. Mereka pasti ingin mengucapkan selamat tinggal secara pribadi.
Aku terkesan mengakui, keluarga bangsawan Count sangat ramah terhadap Elisa dan Liliac, yang rakyat biasa.
"Kakak ayo!" kata Liliac.
__ADS_1
Elisa tersenyum kemudian mendekati Lili. Dia kembali mengelus kepalanya dengan lembut seraya berkata, "Lili tunggu sebentar."
Begitu Elisa selesai mengatakan itu mereka berlima berjalan bersama menuju gerbang mansion.
Sebelum menginjakkan kaki keluar gerbang mansion. Asta, Anita, Lili dan Elisa sempat berpelukan dengan hangat. Elisa juga saat itu mengusap kepala mereka masing-masing.
***
Awal pertengahan musim dingin. Sepanjang jalan sangat cukup sepi. Hanya ada beberapa orang lewat. Salju kian menumpuk entah yang ada di atap rumah warga, atau jalanan.
Aku melihat Elisa dan Liliac berjalan. tujuan mereka ke penginapan atau guild petualang. Mungkin saja langsung menuju hutan.
'Harun, kamu di sana? Aku ingin meminta saran, menurutmu kita kemana dulu?' tanya Elisa dalam pikiran.
[Menurutku langsung ke Guild petualang untuk menjual beberapa kristal mana.]
[Soal bangkai monster yang di inventori, sebaiknya jangan di keluarkan. Karena bisa saja memicu beberapa keributan.
[Kamu sekarang memiliki tas selempang, saat nanti mengambil barrang dari inventori coba berpura-pura mengeluarkannya dari tas.]
"Baik, aku mengerti Harun!"
Setelah aku memberikan saran apa yang lebih baik dilakukan. Mereka memutuskan berjalan menuju guild petualang, namun karena Elisa dan Lili masih baru tiba di kota Berlan.
Mereka berdua tidak tahu arah, memutuskan bertanya pada pejalan kaki sekitar.
Setelah berjalan beberapa kilo meter akhirnya mereka sampai. Aku melihat bangunan lantai tiga yang cukup megah.
Juga terlihat beberapa orang, dengan armor berbagai model. Mereka berjalan dengan kesibukan tersendiri.
Tanpa berlama-lama mereka masuk ke dalam gedung guild petualang. Elisa dan Lili begitu masuk di sambut dengan suasana fantasi, seperti anime yang pernah aku tonton.
...****************...
Lili sedikit kagum melihat-lihat sekitar, begitu juga aku melihat lihat sekitar, tempat ini ramai dengan para petualang. Walaupun sekarang telah di awal pertengahan musim dingin.
Mereka sepertinya cukup kuat dan juga rajin mencari nafkah, tepat tidak lama seorang gadis memakai seragam menghampiri.
"Permisi, apa ada yang bisa saya bantu?"
Mendengar sambutan Lili segera menoleh seraya berkata, "Kami di sini ingin menjual beberapa magic stone dan mendaftarkan diri sebagai petualang!"
"Maaf, tetapi apa boleh tahu berapa usia kalian?" kembali gadis itu bertanya.
"Aku berusia 9 tahun dan kakakku Elisa berusia 14 tahun." kembali Liliac menjawab.
"Kalau begitu maafkan aku, karena kami memiliki kebijakan bahwa syarat berumur 17 tahun di bolehkan mendaftar. Mau itu kamu memiliki crest level cukup tinggi sekalipun."
"Tetapi kalau ingin menjual magic stone kami bisa memberikan layanan kami!" jelas gadis itu.
Elisa dan Liliac berpikir sebentar, setelah itu memutuskan menerimanya.Sekarang mereka menuju loket, untuk melapor misi sekaligus menjual barang dari buruan monster.
Karena Elisa dan Liliac bukan bagian dari guild, mereka di kenakan pajak saat menjual magic stone.
Pihak guild hanya membayar sebanyak 70% dari harga aslinya. Termasuk pendapatan dari penjualan 30 mana stone, dari ras monster yang berbeda senilai 10 koin perak.
__ADS_1