
Malam gelap penuh bintang bertaburan di langit, dan sebuah rembulan putih bersinar menjadi penghias langit malam.
Di bawah langit malam, aku melayang di sekitar Elisa melihat dia melakukan latihan pedang. Dia saat ini sudah berada di paviliun tempat tinggalnya.
Elisa sedang berlatih menggunakan sword dance lebih baik lagi, dia tidak bisa meningkatkan kultivasinya saat ini.
Menurut informasi yang di dapat saat menjadi juri adalah peserta tidak boleh lebih dari ranah foundation building level empat. Untuk Elisa yang mempunyai bakat kultivasi mengerikan, juga tubuh bawaan pedang Xiao sha kemampuan nya akan menjadi lebih keterlaluan.
Bisa saja baru sebentar kultivasi tiba-tiba saja dia sudah menarik awan Tribulation thunder.
Tidak lama berselang Elisa menghentikan latihan nya, dia menatap layar biru sistem ku dengan wajah khawatir.
"Harun, menurut mu apa Meng meng sudah menemukan dompet nya?"
Benar juga, Meng meng sebelum nya saat kembali pulang dia merasa dompet nya hilang, gadis itu sudah mencari di sekitar rumah namun tidak menemukan.
Akhirnya dia menduga bahwa dompet nya tertinggal di jalan menuju rumah atau di dekat alun alun kota, lebih tepatnya bangku penonton.
[Aku juga tidak tahu, mungkin saja belum dia temukan. Kamu sebaiknya jangan terlalu khawatir Elisa, bukan kah sebelum pergi kamu memberikan beberapa talisman?]
"Kamu benar Harun, aku sudah memberikan talisman Lighting strike, Wind voice, flame Phoenix, dan mystery ice shield."
Setelah mengatakan hal tersebut Elisa kembali melanjutkan latihan pedangnya, dia melakukan itu juga untuk persiapan misi kedua nya.
Karena setelah selesai turnamen, Elisa hendak menghajar keluarga Li. Itu juga karena Elisa merindukan Liliac adiknya, makanya hendak menyelesaikan tugas secepatnya.
...
Di tempat makan sebelum nya, terlihat Meng meng memasang wajah bingung melihat sekitar seperti mencari benda yang hilang.
Di sana tempat makan sudah tutup juga kebetulan sangat sepi karena malam sudah sangat larut, hal itu mustahil orang biasa berjalan jalan.
Tetapi karena terpaksa Meng meng bertindak nekat walaupun tahu akan berbahaya bila seorang gadis berjalan jalan sendiri.
"Dimana dompet ku?"
Meng meng berkeliling di tempat tersebut melihat di setiap sudut dan tempat dia datangi sebelumnya, dia dengan teliti mencari ke sekitar tempat.
"Apa mungkin di Alun-alun?"
Meng meng berpikir dompet nya tidak mungkin jatuh di alun-alun, dia sebelum mencari di rumah makan dia sudah mencari di Alun-alun.
"Tidak mungkin jatuh di sana, aku sudah mencari di sana. Lalu dimana dompet ku jatuh?" kata Meng meng dengan raut wajah sedih.
"Padahal di dalam dompet ku itu terdapat kenang kenangan ibu, aku tidak boleh kehilangan nya!"
Setelah merenung sejenak Meng meng kembali mencari dompet nya, dia juga mulai bertanya kepada orang di sekitar tempat.
"Huh? bukan kah anda pelayan Nona Xiao sha?"
Tiba-tiba suara pria mengejutkan Meng meng dari belakang, dia merasa suara nya sedikit tidak asing di telinga nya.
Meng meng pun segera membalikan badannya, dia kemudian melihat seorang pria berambut... tangan kanannya di perban.
__ADS_1
"Kamu apakah pendekar Mo fan lawan Nona di panggung tadi siang?" kata Meng segera bersiap menggunakan talisman dari Nona nya.
"Ya, itu aku." Mo fan membalas perkataan Meng meng dengan senyum hangat.
"Kamu mau apa?" Meng meng yang masih belum menurunkan kewaspadaan nya.
Saat ini dia berpikir pria di depan nya memiliki tujuan buruk padanya, dia berpikir Mo fan berniat balas dendam atas kekalahan.
Melihat Meng meng waspada Mo fan langsung sedikit tertawa.
"Haha, jangan begitu waspada! aku tidak memiliki tujuan buruk." Mo fan menyentuh kepala Meng meng menggunakan tangan kirinya.
"Huh? apa maksud mu- tidak tunggu! jangan menyentuh kepala ku!" Meng meng kesal kepala nya di sentuh seenaknya.
"Lagian kamu terlalu waspada, padahal tujuan ku bukan seperti itu." Mo fan berhenti menyentuh kepala Meng meng.
"Lalu apa maksudmu?" Balas Meng meng dengan bingung.
"Aku ini pendekar pedang, hati harus bersih dan murni tampa rasa dendam! baik serta murah hati menolong sesama yang membutuhkan juga tidak ada diskriminasi." kata Mo fan.
"Dan juga kamu tahu bukan? seorang pendekar pedang harus memegang prinsip itu, bila tidak kekuatan kehendak pedang ku akan ternodai dan melemah." jelas keadaannya.
Setelah mengatakan hal tersebut sikap waspada Meng meng menurun, di pikiran sebelum nya dia berniat melemparkan talisman Flame Phoenix pada wajah Mo fan.
Tapi setelah mengatakan dia tidak memiliki tujuan buruk secara tulus, dia tidak jadi melakukan hal tersebut.
"Kamu benar, menurut apa yang ku dengar pendekar pedang harus memiliki hati yang mulia. Sama seperti Nona." Balas Meng meng.
"Jadi boleh tahu nama anda?" Mo fan menggunakan salam bela diri.
"Kalau begitu boleh aku tanya anda terlihat seperti mencari sesuatu, apa boleh aku tahu apa itu?" Kata Mo fan.
"Eh! ketahuan?" Meng meng terkejut dengan pertanyaan nya.
"Aku tadi sedang minum arak di atas atap rumah makan, aku melihat mu seperti mencari sesuatu. Boleh tahu apa itu?"
Setelah mengatakan hal tersebut, Meng meng menjelaskan dia kehilangan barang nya. Itu adalah dompet yang kebetulan berisi peninggalan Ibu nya.
Dia sudah mencari ke setiap tempat namun tidak menemukan nya.
"Dompet itu apa ini?" Mo fan sambil mengeluarkan sebuah dompet wanita dari balik bajunya.
Dompet tersebut memiliki warna merah dengan motif bunga, bentuknya agak tebal karena buka hanya menyimpan uang logam tapi juga sebuah barang peninggalan ibunya.
"Eh! itu dompet ku!" Kata Meng meng langsung mengambil dompet dari tangan Mo fan.
Setelah mengambil dari tangan Mo fan Meng meng langsung membuka dompetnya, dia mengeluarkan sebuah giok bulat hijau dengan ukiran burung phoenix.
Seketika itu dia mengeluarkan air mata nya, Meng meng merasa lega karena dia telah menemukan kembali benda peninggalan ibu nya.
"Aku menemukan nya beberapa saat sebelum kamu tiba, itu juga alasan kenapa aku minum di atas atap rumah makan." Kata Mo fan sambil melihat Meng meng mengeluarkan sebuah ukiran giok hijau.
"Terima kasih banyak pendekar Mo! karena telah menemukan benda ini!" Meng meng mengucapkan terimakasih nya.
__ADS_1
"Tidak apa, kamu boleh memanggil ku Mo fan- Eh!"
Belum sempat menyelesaikan perkataan nya, Meng meng langsung memeluk tubuh Mo fan, dia juga sambil menangis mengucapkan rasa terima kasih nya.
"Sudah jangan menangis." Mo fan menghibur Meng meng.
Seketika itu Meng meng tampa sadar memeluk Mo fan dia menjadi malu, dia segera melepaskan pelukan dengan wajah merah.
Mo fan melihat sikap malu Meng meng sedikit tersenyum, namun tiba tiba dia merasakan aura membunuh di sekitar.
Swis!
Beberapa jarum langsung terbang menuju Mo fan dan Meng meng, mendapat hal tersebut Mo fan memeluk Meng meng sambil menghindari serangan diam diam tersebut.
"Nona Meng meng, aku tolong kamu jangan terlalu jauh dari ku!" Mo fan mengeluarkan pedang dari spatial ring.
"Eh! ada apa?" Meng meng dengan bingung.
"Ada Assassin di sekitar!" Mo fan bersiap menggunakan pedang nya.
Seketika itu Assassin keluar dari persembunyian, jumlah mereka ada 5 orang mengenakan pakaian serba hitam.
"Apa mau kalian?" tanya Mo fan.
"Kamu laki-laki di sana menyingkir lah!" kata salah satu Assassin.
"Urusan kami dengan gadis itu!" Assassin lain melanjutkan perkataan nya.
'Huh? apa hubungannya dengan Meng meng?' pikir Mo fan.
Swis!
Crank!
Sebelum Mo fan berpikir lebih jauh salah satu Assassin menyerang Mo fan dengan pisau, namun Mo fan berhasil menahan nya.
Mo fan menahan serangan Assassin dengan pedang yang menggunakan tangan kirinya.
Walaupun begitu luka dalam Mo fan membuat dia kesulitan menahan serangan. Mo fan tiba-tiba batuk darah dari mulut nya.
Melihat Mo fan masih terluka Meng meng menggunakan talisman Flame Phoenix untuk membakar Assassin itu.
Dia langsung menempelkan Talisman pada tubuh Assassin, kemudian menarik tubuh Mo fan sekuat tenaga agar menjauh.
Untuk Mo fan tidak mungkin akan bergerak, tapi karena dia masih cedera luka dalam. Meng meng berhasil menarik tubuh Mo fan.
Burn!
Seketika Assassin terkena Talisman langsung terbakar hingga habis, untuk Assassin lain dan Mo fan yang melihat nya terkejut.
"Pendekar Mo, ayo lari!" kata Meng meng.
"Iya, ayo!"
__ADS_1
Mo fan dan Meng meng menjauh dari tempat tersebut, mereka kabur untuk sementara dari para Assassin.
Mengetahui mangsa mereka lari, para Assassin tersisa langsung mengejar mereka.