
Mara berjalan menghampiri Arthur yang sedang berkutat di depan kompor.
" Bang aku mau pergi jalan jalan sama teman teman." Ucap Mara duduk di meja makan.
" Nggak boleh." Sahut Arthur.
" Aku sedang tidak meminta ijin, aku hanya memberitahumu saja." Ucap Mara.
" Seorang istri tidak boleh pergi tanpa ridho sang suami. Jadi...
" Itu kalau suami istri beneran, lha kita suami istri bohongan."
Tek....
Arthur meletakkan spatula dengan keras membuat Mara berjingkrak kaget. Arthur membalikkan badannya menatap Mara dengan tajam.
" Bagaimana kau bisa mengatakan jika kita suami istri bohongan? Apa pernikahan kita tidak ada artinya sama sekali bagimu? Apa kau menganggap semua ini hanya mainan saja? Lalu untuk apa kau tetap di sini bersama Nona Mara." Ucap Arthur menekan kata terakhirnya.
" Nggak usah lebay gitu deh Bang. Kamu bicara seperti itu seolah olah kamu ingin menjadi suami yang sesungguhnya. Aku jadi merasa kalau kau punya perasaan untukku, atau jangan jangan kau mencintaiku." Ucap Mara.
Arthur maju mendekati Mara, Mara hendak menghindar namun Arthur segera membungkuk meletakkan kedua tangan pada pegangan kursi membuat Mara tidak bisa berkutik.
" Memangnya kenapa kalau aku punya perasaan padamu? Bukankah memang seharusnya aku mencintaimu? Kau istriku, dan sudah menjadi kewajibanku untuk memberikan cinta dan hatiku untukmu. Bukankah seharusnya kau juga seperti itu?" Tanya Arthur menatap Mara.
" Tidak... Kau memang memiliki status sebagai suamiku, tapi kau tidak akan pernah bisa memiliki cinta dan hatiku karena keduanya sudah menjadi milik orang lain. Aku mencintai Aldo dan selamanya hanya dia yang aku cinta." Sahut Mara membuat hati Arthur mencelos.
Arthur segera menjauh dari tubuh Mara, ia melanjutkan kegiatannya memasak sarapan untuk mereka berdua.
Mara menghela nafasnya lega, entah mengapa jika berada di dekat Arthur ia merasa seperti tercekik karena tidak bisa mengendalikan sesuatu di dalam hatinya.
Drt... Drt...
Ponsel Arthur berdering tanda panggilan masuk. Mara melihat id pemanggil yang terpapang di layar ponsel.
" Bang bi Ningsih telepon nih." Ucap Mara.
" Angkat saja!" Sahut Arthur.
" Kodenya?" Tanya Mara.
" Tanggal pernikahan kita."
Deg...
Jantung Mara terasa berdesir. Ia tidak menyangka jika Arthur menjadikan tanggal pernikahan mereka menjadi istimewa.
Mara membuka kode pin ponsel Arthur lalu segera mengangkat telepon dari ibu mertuanya.
" Ha... Halo Bu." Ucap Mara.
Arthur tersenyum mendengar Mara menyebut ibunya dengan sebutan Bu. Meskipun masih terasa gugup.
" Halo Nona Mara, ibu mau mengabarkan kalau tuan Adi jatuh sakit. Beliau ada di ruang ICU sekarang Nona."
" Apa???" Pekik Mara. Arthur langsung menoleh ke arah Mara.
__ADS_1
" Ada apa Nona Mara? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Arthur mendekati Mara setelah mematikan kompornya.
" Pa.. Papa Bang. Papa sakit, aku harus ke sana sekarang Bang. Ayo kita ke sana Bang!" Ucap Mara dengan nada khawatir.
" Tenanglah Nona Mara! Kita akan ke sana tapi tenangkan dirimu lebih dulu! Jangan panik! Berdoa saja semoga semuanya baik baik saja." Ujar Arthur menyentuh kedua bahu Mara.
Arthur mengambil ponsel di tangan Mara.
" Halo Bu." Sapa Arthur.
" Iya Nak." Sahut bi Ningsih.
" Tuan Adi ada di rumah sakit mana Bu? Kami akan segera datang ke sana." Ujar Arthur.
" Di rumah sakit xx." Sahut bi Ningsih.
" Baik Bu, terima kasih." Sahut Arthur menutup panggilan teleponnya.
" Ayo Nona kita ke sana, atau mau makan dulu masakannya sudah matang." Ucap Arthur.
" Langsung ke sana saja Bang." Sahut Mara.
" Baiklah." Sahut Arthur.
Arthur dan Mara menuju rumah sakit xx dengan mengendarai mobilnya. Hampir satu setengah jam lamanya, akhirnya mereka sampai di pelataran rumah sakit. Mara segera turun masuk ke dalam meninggalkan Arthur begitu saja.
Mara berlari menuju ruang ICU, di depan ruangan nampak bi Ningsih dengan setia menunggunya.
" Bagaimana keadaan Papa Bi?" Tanya Mara mendekati bi Ningsih.
" Ya Tuhan... Papa hiks... Selamatkan papaku ya Tuhan, aku tidak mau kehilangan dia. Hiks.. Aku mohon ya Rob." Isak Mara.
Arthur yang melihat Mara terpuruk, ia segera berlari menghampirinya.
" Tenanglah Nona!" Ucap Arthur merangkul Mara.
" Bagaimana aku bisa tenang Bang? Di dalam sana papa sedang berjuang melawan maut. Hiks... Bagaimana kalau sampai papa tidak tertolong? Kenapa papa bisa sakit separah ini? Selama ini papa tidak ada riwayat penyakit kan Bang. Hiks... Aku tidak mau kehilangan Papa." Ucap Mara memeluk Arthur dengan tiba tiba.
" Kita berdoa saja yang terbaik untuk tuan Adi." Ucap Arthur mengelus kepala Mara.
Tak lama dokter keluar dari ruangan.
" Bagaimana keadaan papa saya Dok?" Tanya Mara menatap dokter pria di depannya.
" Maaf Nona, kami sudah berusaha sebaik mungkin namun tuan Adi tidak bisa di selamatkan."
Jeduarr....
" Tidakkkkk." Teriak Mara menutup kedua telinganya.
" Tenanglah Nona!" Ucap Arthur.
Mara menatap tajam ke arah dokter, ia maju ke depan lalu menarik kerah dokter itu membuat semua orang terkejut.
" Bagaimana bisa papaku tidak bisa di selamatkan hah! Kalau tidak becus menolong orang, tidak usah jadi dokter." Bentak Mara.
__ADS_1
" Tenang Nona, lepaskan dia! Dia sudah berusaha tapi Tuhanlah yang menentukannya." Ucap Arthur melepaskan cengkraman Mara.
" Kalau dia berusaha lebih keras lagi, pasti papaku bisa di selamatkan. Aku akan menuntutmu! Aku akan menuntut rumah sakit ini." Teriak Mara menunjuk dokter.
" Maafkan istri saya Dok, anda bisa pergi sebelum istri saya kehilangan kendali. Sekali lagi maaf." Ucap Arthur menatap dokter.
" Tidak apa apa Tuan, saya memaklumi sikapnya. Kalau begitu saya permisi." Ucap dokter berlalu dari sana.
" Mau kemana kau? Kau harus bertanggung jawab Dokter!!!" Mara kembali berteriak.
" Nona Mara kendalikan dirimu! Kita sedang berada di rumah sakit." Ucap Arthur menyentuh kedua bahu Mara.
" Lepaskan aku! Aku akan membuat perhitungan pada dokter bodoh itu. Dia tidak becus bekerja, dia..
" Mara!!!" Bentak Arthur membuat Mara kaget.
Mara menatap Arthur begitupun sebaliknya.
" Kau tidak bisa menyalahkan dokter, kematian itu takdir Tuhan. Mungkin ini yang terbaik untuk tuan Adi Nona." Ucap Arthur.
Mara nampak sangat sedih kehilangan satu satunya yang ia punya. Satu satunya yang ia cintai saat ini harus pergi meninggalkannya.
" Hiks... Papa Bang... Papa... Hiks.... "
Arthur menarik Mara ke dalam pelukannya.
" Papa Bang.. Papa telah meninggalkan aku! Aku sendiri Bang, aku tidak punya siapa siapa lagi di dunia ini hiks... "
" Ada aku dan kedua mertuamu Nona. Jangan pernah berpikir kalau kau sendiri saat ini, kami ada untukmu. Kami akan selalu bersamamu." Ucap Arthur.
" Apa kau mau melihat jenazah papa?" Tanya Arthur di balas anggukkan oleh Mara.
" Baiklah ayo!"
Arthur merangkul pundak Mara, keduanya masuk ke dalam ruang ICU. Mara menatap jasad papanya yang terbujur di atas ranjang dengan di tutupi kain putih.
" Hiks.... " Mara membungkam mulutnya. Air mata menetea deras di pipinya, dadanya terasa sesak. Ia ingin menjerit membangunkan papanya namun ia tidak kuasa walau hanya sekedar mengeluarkan suaranya.
" Menangislah keluarkan sesak di dadamu Nona, peluklah papa untuk yang terakhir kali." Ucap Arthur.
" Papa... " Mara memeluk tubuh papanya.
" Papa... Hiks... Kenapa papa meninggalkan aku seperti ini? Aku tidak bisa hidup tanpa papa hikss."
" Maaf Tuan, ini ada titipan dari tuan Adi sebelum beliau meninggal dunia. Beliau berpesan agar anda membukanya saat anda sendiri." Ucap seorang suster memberikan sebuah amplop kecil kepada Arthur.
" Baiklah terima kasih Sus." Ucap Arthur di balas anggukkan kepala oleh suster.
" Apalagi yang di rahasiakan oleh tuan Adi? Apakah kali ini ada hubungannya dengan Aldo lagi? " Tanya Arthur dalam hati.
Penasaran nggak nih? Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejaknya... Tekan like, koment, vote dan kasih 🌹yang banyak biar author makin semangat ya..
Terima kasih...
Miss U All...
__ADS_1
TBC.....