
" Gania apa keputusanmu selanjutnya?" Tanya Arthur.
" Aku tidak akan kabur dari pernikahan ini Mas. Aku akan tetap menjadi istrinya namun sikapku tidak akan seperti bagaimana seorang istri pada umumnya." Sahut Gania.
" Apa kau sudah tidak punya perasaan apa apa untuknya saat ini?" Tanya nyonya Nuri.
" Apa maksud Oma? Apa Oma berharap aku mencintai mas Ditya?" Gania balik bertanya.
" Tidak Gania, Oma hanya ingin tahu saja." Sahut nyonya Nuri walaupun sebenarnya di dalam hatinya tetap berharap.
" Lelaki seperti mas Ditya tidak pantas menerima cinta tulus dariku Oma. Sampai kapan pun aku tidak akan melabuhkan hatiku padanya. Kecuali jika hati itu sendiri yang mendekat ke arahnya." Sahut Gania.
" Baiklah tidak masalah, yang penting sekarang kamu sudah resmi menjadi cucu Oma. Besok pagi Oma segera terbang ke negara Oma." Ujar nyonya Nuri membuat Gania terkejut.
" Secepat ini Oma?" Tanya Gania.
" Iya sayang. Kalian butuh waktu berdua untuk memulai hidup baru. Jangan segan segan membalas dendammu pada Ditya. Oma selalu mendukungmu." Ujar nyonya Nuri.
" Baik Oma." Sahut Gania.
Setelah sampai di rumah Gania segera menuju kamarnya.
Ceklek....
Gania tercengang saat melihat Aditya yang sedang duduk di tepi ranjang sambil menatap ke arahnya.
" Sayang kamu sudah pulang?" Ucap Aditya menghampiri Gania.
Gania tidak peduli dengan apa yang di ucapkan Aditya. Ia menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci mukanya agar terasa segar. Aditya menghela nafasnya pelan. Ia kembali duduk di tepi ranjang sambil menunggu Gania.
Tak lama Gania keluar dari kamarnya lalu mengambil bantal dan selimut.
" Kamu mau apa?" Tanya Aditya menahan selimut yang Gania pegang.
__ADS_1
" Mau tidur." Sahut Gania.
" Tidur dimana? Tempatmu di sini." Ujar Aditya.
" Kalau tempatku di sini, berarti tempatmu di sofa. Karena aku tidak sudi berbagi ranjang dengan pria milik wanita lain." Ucap Gania menohok hati Aditya.
" Sayang aku bisa jelaskan semuanya." Ujar Aditya.
" Tanpa kau jelaskan, aku sudah tahu semuanya. Sekarang minggirlah! Aku mau tidur." Ucap Gania tegas.
" Aku tidak akan kemana mana, aku akan tetap di sini. Kita berdua tidur di sini dan tidak ada yang tidur di sofa." Ucap Aditya menatap tajam ke arah Gania.
" Aku tidak peduli apa katamu, memangnya siapa kau beraninya mengatur hidupku." Ucap Gania dengan lantang.
" Aku suamimu." Ucap Aditya penuh penekanan.
" Bukankah kau menikahiku untuk menutupi pernikahanmu dengan Alma? Lalu kenapa sekarang kau terlihat begitu peduli dengan hubungan ini? Jangan lupakan tujuan awalmu tuan Aditya Prayoga." Sahut Gania.
" Aku akui memang aku salah, memang awalnya seperti itu. Tapi seiring kebersamaan kita, tumbuhlah rasa cinta untukmu di hatiku. Aku benar benar mencintaimu Gania, aku tidak bersandiwara lagi. Itulah yang aku rasakan saat ini. Aku sudah tidak mencintai Alma, aku terpaksa menikahinya karena dia mengancam akan melenyapkan dirinya sendiri saat aku mengakui jika aku mencintaimu. Dia tidak terima itu sayang, itu sebabnya aku berada di sana tadi. Kemarin aku juga sudah mberitahumu secara tidak langsung dengan mengatakan kalau aku minta maaf jika aku melakukan kesalahan suatu hari nanti. Itulah kesalahanku Gania. Kesalahan terbesar dalam hidupku." Ucap Aditya.
" Aku tidak menyangka jika kau sudah tahu rencanaku dan Alma dari awal. Tapi sayangnya kau hanya bisa mencari tahu tentang itu tanpa mencari tahu tentang isi hatiku. Aku tidak berbohong padamu Gania, aku benar benar mencintaimu. Aku tidak berniat mengkhianati cintamu ataupun pernikahan kita, percayalah! Aku terpaksa melakukannya karena aku merasa terjebak dengannya. Tapi setelah aku tahu kebusukannya, aku tidak akan pernah menikahi wanita ular sepertinya. Aku akan membuat perhitungan kepadanya, dan akan aku pastikan kalau Alma dan kakaknya membusuk di penjara dalam waktu lama." Ucap Aditya merasa geram.
" Aku tidak peduli." Gania menepis tangan Aditya.
" Tentang perasaanmu kepadaku, dan semua hal yang berkaitan dengan Alma, itu urusanmu. Jangan libatkan aku di dalamnya! Aku berada di sini atas keinginan oma, jika oma memintaku pergi, maka aku akan pergi saat itu juga." Ucap Gania.
" Dan satu hal yang harus kamu tahu, aku membencimu. Aku sangat membencimu." Ucap Gania menekankan kata terakhirnya sambil menunduk menunjuk wajah Aditya.
Aditya memejamkan matanya menahan sesak di dadanya. Gania membaringkan tubuhnya di atas sofa. Ia terlalu muak menghadapi suami plin plan seperti Aditya. Aditya menatap Gania dengan perasaan hancur.
" Andai saja aku tidak bermain main dengan hubungan ini, aku pasti tidak akan kehilangan cintanya. Maafkan aku Gania, aku memang benar benar laki laki ceroboh." Batin Aditya.
Jam satu malam, Aditya belum juga tidur. Ia mendekati Gania lalu memindahkan Gania ke ranjangnya. Dengan perlahan ia melingkarkan tangannya ke perut Gania, lalu ia memejamkan matanya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sinar matahari masuk ke celah celah korden di kamar Aditya membuat Gania mengerjapkan matanya. Ia mengerutkan keningnya saat perutnya terasa berat. Ia menoleh ke samping, dan betapa terkejutnya Gania saat melihat wajah tampan Aditya berada tepat di depannya.
" Sial!! Dia mencuri kesempatan." Umpat Gania. Ia menjauhkan tangan Aditya dengan kasar membuat tidur sang empu terganggu.
" Kamu sudah bangun sayang." Ucap Aditya mengucek kedua matanya.
Gania memutar bola matanya malas melihat sikap Aditya yang seolah tidak terjadi apa apa.
" Lain kali jangan sekali kali kau menyentuhku! Aku jijik di sentuh oleh pria sepertimu. Dasar pria munafik nggak tahu diri." Ucap Gania turun dari ranjang.
" Bencilah aku sampai kapan kau mau, aku akan mengubah kebencian itu menjadi cinta. Sama seperti kau mengubah perasaanku menjadi cinta untukmu." Ucap Aditya.
Gania menatap Aditya begitupun sebaliknya.
" Apa kau yakin kau bisa mengubah kebencianku? Kau tidak punya keahlian untuk itu tuan Ditya. Seberapa besar kau berusaha, kau tidak akan berhasil. Sekali aku membenci seseorang, maka selamanya aku akan membencinya. Apalagi hatiku sudah terluka untuk itu. Lebih baik kau pikirkan dirimu sendiri saja, bagaimana cara menghapus perasaan itu dari dalam hatimu."
" Atau kau coba dengan umpan wanita lain saja, siapa tahu dengan kamu dekat dengan wanita lain, perasaanmu akan condong kepadanya. Sama seperti yang kau rasakan padaku." Sambung Gania meninggalkan Aditya menuju kamar mandi.
Tiba tiba Aditya turun dari ranjang lalu mendekati Gania yang hendak membuka pintu, ia mencekal tangan Gania sambil menatapnya dengan tajam.
" Aku tidak akan melakukannya, aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Kau yang membuat aku jatuh cinta, maka kau yang harus bertanggung jawab atas semuanya." Ucap Aditya.
" I don't care." Ucap Gania mendorong tubuh Aditya. Ia masuk ke dalam lalu segera mengunci pintunya.
" Hah.. Aku tidak boleh kalah, aku tidak boleh lengah dan aku tidak boleh kembali mencintainya." Monolog Gania.
Gania segera mengguyur tubuhnya di bawah shower.
TBC....
Author punya cerita baru nih yang baru rilis, mampir sana ya... Terima kasih...
__ADS_1