
Pagi ini Aditya, Gania dan nyonya Nuri sedang sarapan bersama. Aditya nampak menatap wajah cantik Gania sedari tadi tanpa berkedip, namun Gania tetap mengacuhkannya. Nyonya Nuri yang melihatnya hanya bisa menyembunyikan senyumannya.
" Oh ya Ditya, Oma berangkat ke LN setelah ini."
Uhuk... Uhuk.. Uhuk..
Aditya tersedak makanannya sendiri, ia berharap Gania mau memberikan segelas air putih padanya namun harapannya sia sia. Gania malah asyik melanjutkan makannya.
" Minumlah dulu!" Nyonya Nuri memberikan segelas air putih kepada Aditya, Aditya segera meminumnya sampai tandas.
" Kenapa Oma kembali ke sana? Bukankah aku tidak jadi menikahi Alma? Aku pikir Oma tidak akan kembali ke LN jika aku menikahi wanita lain. Aku menikahi wanita yang Oma dan aku cintai. Seharusnya Oma tetap berada di sini bersama kami." Ucap Aditya.
" Oma tidak bisa terus terusan berada di sini Ditya. Tempat Oma di sana bukan di sini, dan Oma juga mau memberi kalian waktu untuk berdua." Ucap nyonya Nuri mengerlingkan sebelah matanya kepada Gania.
" Benarkah hanya itu? Apa tidak ada sesuatu hal yang coba Oma sembunyikan dariku? Karena entah mengapa aku merasa ada satu hal yang mengharuskan Oma kembali ke sana." Ujar Aditya menatap nyonya Nuri.
" Tidak ada sayang. Oma hanya ingin cepat cepat punya cicit. Kalau Oma terus terusan di sini, bagaimana kalian bisa membuat cicit untuk Oma? Pasti kalian malu malu melakukannya." Ucap nyonya Nuri agar Aditya curiga.
Gania tersenyum mendengar ucapan nyonya Nuri.
" Aku tidak bisa berkata apa apa Oma, aku hanya bisa mendoakan semoga Oma selamat sampai sana dan semoga Oma selalu di berikan kesehatan supaya kita bisa bertemu lagi di lain waktu. Jaga kesehatan Oma dengan baik. Aku pasti akan sangat merindukan Oma." Ujar Gania.
" Amin... Terima kasih sayang. Oma akan menjaga kesehatan Oma dan Oma pasti akan sangat merindukan kalian." Ucap nyonya Nuri.
" Kami juga." Sahut Aditya dan Gania bersamaan.
Nyonya Nuri tersenyum melihat kekompakan mereka berdua.
" Baiklah selesaikan makan kalian, setelah itu antar Oma ke Bandara karena keberangkatan tinggal satu jam lagi." Ucap nyonya Nuri.
" Baik Oma." Lagi lagi mereka berdua menyahut bersamaan.
Selesai menghabiskan sarapan, Aditya dan Gania mengantar nyonya Nuri ke Bandara.
" Gania, Oma titip Ditya kepadamu Nak. Jaga Ditya dengan baik, dan jangan sampai kamu meninggalkannya. Lakukan apapun yang kau inginkan asalkan jangan lakukan satu hal itu. Berjanjilah pada Oma." Bisik nyonya Nuri memeluk Gania. Gania hanya menganggukkan kepala saja.
" Ditya Oma pergi, jadilah suami yang baik yang bisa membahagiakan istrimu. Jangan pernah sakiti hati istrimu lagi! Atau penyesalanmu akan semakin dalam dari sekarang." Ucap nyonya Nuri.
__ADS_1
" Aku janji Oma, aku janji akan membuat Gania bahagia. Oma hati hati! Kalau ada apa apa segera telepon aku." Ucap Aditya.
" Tentu sayang, Oma pergi dulu."
Setelah berpamitan, nyonya Nuri segera masuk ke dalam Bandara sedangkan Gania dan Ditya masuk ke dalam mobilnya menuju ke rumah.
Di dalam perjalanan, Gania nampak diam saja. Sesekali ia menggigit jarinya sendiri.
" Jangan di gigit begitu donk sayang! Nanti kalau sakit bagaimana?" Ujar Aditya menarik tangan Gania dari mulut Gania.
Gania segera menepis tangan Aditya dengan kasar.
" Tidak perlu sok perhatian padaku, aku tidak membutuhkan perhatian itu." Ketus Gania.
Aditya hanya bisa menghela nafasnya saja. Ia melajukan mobilnya menuju rumah.
Tiga puluh menit kemudian, mobil berhenti tepat di depan pintu rumah. Gania segera turun dari mobil lalu masuk ke dalam menuju kamarnya. Sedangkan Aditya kembali melajukan mobilnya menuju kantor untuk menghadiri rapat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam hari Aditya baru pulang dari kantor jam sepuluh malam. Ia berjalan dengan lesu menuju kamarnya.
Aditya membuka pintunya lalu masuk ke dalam. Ia menatap Gania yang sedang duduk bersandar pada headboard sambil memainkan ponselnya. Jujur, ia resah menunggu Aditya pulang.
" Sayang kamu belum tidur?" Tanya Aditya menghampiri Gania.
" Hmm." Gania membalasnya dengan gumaman saja.
" Aku mandi dulu." Ucap Aditya masuk ke dalam kamar mandi.
Tok tok...
Pintu di ketuk dari luar, Gania segera membukanya.
" Bi Ida." Gumam Gania menatap bi Ida yang sedang membawa dia gelas susu di nampannya.
" Den Aditya meminta saya untuk mengantar susu ini Nona. Silahkan di minum selagi hangat." Ucap bi Ida menyodorkan nampan itu pada Gania.
__ADS_1
" Terima kasih Bi." Ucap Gania.
" Sama sama Nona. Saya permisi dulu." Ucap bi Ida undur diri.
Gania meletakkan nampan di atas nakas, ia meminum susunya sambil melanjutkan bermain ponsel.
Tak lama Aditya keluar dari kamar mandi, ia tersenyum saat melihat susu di atas nakas yang pastinya di buat untuknya. Setelah memakai baju, Aditya mendekati Gania.
" Habiskan susunya lalu tidur sayang!" Ucap Aditya mengambil gelas susunya. Gania tidak bergeming atau sekedar menyahutnya.
Aditya meminum susunya hingga tandas, begitupun dengan Gania. Aditya naik ke atas ranjang mendapat lirikan tajam dari Gania.
" Jangan tidur di sofa atau menyuruhku tidur di sana! Kita berbagi ranjang saja biar sama sama nyaman." Ucap Aditya.
" Awas saja kalau kamu melewati batas, apalagi mengambil kesempatan. Aku akan mematahkan tanganmu yang kekar itu." Ancam Gania mengeluarkan suaranya.
" Tidak janji, nanti kalau sudah terlanjur janji terus khilaf bagaimana?" Aditya menatap Gania.
" Aku tidak peduli." Sahut Gania dengan ketus.
Aditya membaringkan tubuhnya, ia mencoba memejamkan matanya namun tidak bisa. Tidak lama setelah itu, ia merasa kepanasan begitupun dengan Gania. Gania meletakkan ponselnya lalu mengambil remot AC untuk menyetelnya sampai suhu terendah. Namun bukannya sejuk malah tubuh mereka semakin panas.
" Gania apa kamu merasakan kepanasan?" Tanya Aditya mengipas ngipas tangannya.
" Apa kamu juga kepanasan?" Bukannya menjawab, Gania malah balik bertanya.
" Iya, entah kenapa rasanya panas sekali." Sahut Aditya.
Semakin lama tubuh mereka semakin panas, sampai Aditya melepas bajunya. Gania menatap dada bidang suaminya yang nampak begitu menggoda. Tanpa sadar pun ia meraba dada Aditya membuat Aditya memejamkam mata menahan gelenyar aneh yang merambat di dalam hatinya.
" Shhhh." Desis Aditya.
Gania menatap wajah Aditya begitupun sebaliknya. Kedua mata mereka nampak berkabut gairah. Aditya menarik tengkuk Gania lalu ia mencium bibirnya. Sadar tidak ada penolakan, Aditya merubah posisinya menjadi di atas tubuh Gania.
Aditya mencecap bibir Gania dengan lembut, Gania mengalungkan tangannya ke leher Aditya. Tanpa ia sadari tangannya terus bermain di dada bidang suaminya. Tak mau kalah, tangan Aditya meremas salah satu gundukan kembar milik Gania membuat Gania mendes@h. Suara itu membuat jiwa kelakian Aditya membuncah.
Keduanya terbawa suasana yang sangat memabukkan, hingga....
__ADS_1
Apa ya???? Sampai sini dulu, author udah mengantuk... Selamat malam semuanya, selamat bobok dan met mimpi indah...
TBC...