
Hari hari berlalu tak terasa dua minggu sudah Gania mengenal Aditya. Setiap harinya ia hanya di kerjai oleh Aditya namun ia menghadapinya dengan sabar karena bagaimanapun ia sangat membutuhkan pekerjaan ini. Ia juga tidak pernah mengadukan sikap jahil Aditya pada Arthur.
Suatu hari tepatnya di hari ketiga Gania bekerja, Gania membuat kesalahan karena telah menumpahkan kopi ke laptop Aditya tanpa sengaja. Hingga Aditya marah kepadanya.
" Maaf Pak, saya tidak sengaja." Ujar Gania ketakutan.
" Kamu itu kalau bekerja selalu ceroboh. Bagaimana bisa pihak HRD mempekerjakanmu sampai selama ini. Harusnya dia sudah memecatmu sejak pertama kamu bekerja di sini." Aditya meletakkan kedua tangannya di pinggang.
" Tapi tidak apa apa, aku akan memaafkanmu dengan syarat kau mau aku ajak jalan kapan pun aku mau. Kalau tidak aku akan meminta pihak HRD untuk segera memecatmu dan akan aku pastikan kau tidak akan bisa bekerja di tempat lainnya. Bagaimana?" Aditya menatap Gania dengan tajam.
Gania hanya bisa menundukkan kepalanya saja.
" Manis juga kalau di lihat lihat. Walaupun gadis desa tapi cantiknya tidak kalah sama gadis kota. Benar benar menawan." Batin Aditya.
" Bagaimana Gania?" Aditya bertanya lagi karena Gania tetap bungkam.
" Ba.. Baik Pak." Sahut Gania akhirnya.
" Daripada ribet akhirnya mending aku iyain aja lah. Lagian kalau sampai aku di pecat di sini pasti membuat malu Mas Arthur. Dan aku nggak mau bertahan kerja di sini hanya karena kekuasaan Mas Arthur di perusahaan ini. Aku ingin mandiri dengan berdiri di kakiku sendiri." Ujar Gania dalam hati.
" Bagus kalau begitu." Ucap Aditya.
Sejak saat itu hubungan keduanya semakin dekat. Aditya sering mengajak Gania makan malam atau sekedar jalan jalan.
" Gania." Lidya menyenggol pundak Gania membuat Gania tersadar dari lamunannya.
" Kenapa bengong hmm? Lagi mikirin pak Aditya ya." Ujar Lidya menggoda Gania.
" Ngapain di pikirin Mbak? Orang dia bukan siapa siapa kok." Sahut Gania.
" Kelihatannya pak Aditya suka deh sama kamu Nia. Pasalnya selama dia bekerja di sini, dia tidak pernah mau dekat dengan pegawai lainnya." Ujar Lidya mengambil cangkir untuk membuat teh.
" Masa' sih Mbak?" Tanya Gania. memastikan.
" Iya bener." Sahut Lidya.
Gania tersenyum senang.
" Sejujurnya aku juga suka sama pak Aditya. Andai saja omongan Mbak Lidya benar, aku pasti bahagia memiliki kekasih seperti pak Aditya."
" Tapi aku sadar siapa aku dan siapa dia. Lagian juga tidak mungkin pak Aditya suka sama aku. Jangan bermimpi ketinggian Gania, atau kau akan sakit karena terjatuh." Batin Gania.
Drt... Drt...
Ponsel Gania berdering, ia segera mengambil ponsel di saku celananya.
" Pak Aditya." Gumam Gania.
" Cie... Baru saja di omongin udah nelpon aja si doi." Goda Lidya.
" Apa sih Mbak." Sahut Gania.
__ADS_1
Gania segera mengangkatnya.
" Halo Pak."
" Bawakan kopi hitam kemari sekarang juga." Titah Aditya.
" Baik Pak." Sahut Gania menutup panggilan teleponnya.
Gania segera membuat secangkir kopi hitam untuk Aditya. Setelah selesai, ia membawa kopi tersebut ke ruangan Aditya.
Tok tok...
Gania masuk ke dalam ruangan Aditya.
" Ini Pak kopinya." Ucap Gania meletakkan secangkir kopi itu ke meja.
Aditya segera menghampiri Gania.
" Jam tujuh malam aku akan menjemputmu. Ada hal yang ingin aku katakan padamu." Ucap Aditya duduk di sofa.
" Apa yang ingin Bapak bicarakan? Kenapa tidak bicara di sini saja?" Tanya Gania menatap Aditya.
Aditya nampak sedikit berpikir.
" Baiklah aku akan mengatakannya sekarang. Duduklah dulu!" Ucap Aditya.
Gania duduk di sofa di samping Aditya.
" Jujur, aku menyukaimu."
Gania langsung menatap Aditya begitupun sebaliknya.
" A... Apa?" Gania mengerutkan keningnya memastikan jika pendengarannya tidak bermasalah.
" Aku bukan tipe laki laki yang bisa bersikap romantis, jadi aku tidak tahu bagaimana caranya mengutarakan perasaanku padamu. Aku suka padamu sejak aku melihatmu di pantri waktu itu. Aku ingin menjadikanmu sebagai kekasihku. Dan aku harap kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku." Ujar Aditya menggenggam tangan Gania. Jantung Gania berpacu dengan cepat.
" Kenapa secepat ini? Bukankah ini terlalu terburu buru?" Ujar Gania.
" Karena cinta tidak butuh alasan. Sekarang jawab saja, apa kau mau menjadi kekasihku?" Tanya Aditya menatap Gania.
Gania nampak bingung ingin menjawab apa. Jujur ia juga menyukai Aditya tapi ini terlalu mustahil baginya. Bagaimana bisa Aditya menyukainya secepat ini?
" Gania, aku serius dengan perasaan dan ucapanku. Jika kau mau menjadi kekasihku, aku akan memperkenalkanmu kepada omaku. Dia ingin sekali bertemu wanita yang aku cintai. Apa kau tidak keberatan?" Tanya Aditya.
" Apa ucapanmu benar adanya? Apa kamu tidak sedang bermain main denganku? Karena jujur, aku juga memiliki perasaan yang sama sepertimu. Namun aku tidak mau terburu buru menyimpulkan jika ini cinta. Aku tidak mau kau membodohiku." Ujar Gania.
" Aku tidak pernah main main dengan ucapanku, semua yang keluar dari mulutku adalah kebenaran. Aku anggap perkataanmu sebagai jawaban bahwa kau setuju menjadi kekasihku. Nanti malam aku akan menjemputmu, kita bertemu oma sama sama." Ucap Aditya.
" Kalau seperti ini kesannya anda memaksa saya Pak." Ucap Gania.
" Tidak masalah, kamunya juga mau di paksa kok." Kekeh Aditya.
__ADS_1
" Aku tidak mau, aku rasa kamu hanya membohongiku saja. Aku permisi." Ucap Gania beranjak.
" Tidak semudah itu." Ucap Aditya mencekal tangan Gania.
" Jawab iya atau aku akan mengadukan kecerobohanmu kepada pihak HRD. Lagian tadi aku hanya bercanda saja. Aku benar benar serius mengungkapkan perasaanku padamu. Aku menyukaimu Gania, maukah kau menjadi kekasihku?" Tanya Aditya dengan lembut.
Gania menatap Aditya begitupun sebaliknya.
" Baiklah aku menerimanya, aku percaya padamu dan aku harap kau tidak akan mengecewakan aku ke depannya." Ucap Gania.
" Akan aku usahakan." Sahut Aditya.
" Kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Gania undur diri.
" Baiklah semangat bekerja sayang." Ucap Aditya membuat Gania tersipu malu.
Gania keluar ruangan dengan perasaan bahagia.
" Satu masalah terselesaikan." Ucap Aditya tersenyum smirk.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Malam ini Aditya membawa Gania ke rumahnya. Ia menggandeng tangan Gania masuk ke dalam rumahnya.
" Malam Oma." Raka menghampiri sang oma yang sedang duduk di ruang keluarga sambil membaca majalah.
" Malam sayang." Sahutnya menatap Aditya dan Gania.
" Siapa dia?" Tanya nyonya Nuri.
" Kenalkan Oma, dia Gania kekasih Ditya." Sahut Aditya.
" Malam Oma." Gania menyalami nyonya Nuri dengan takzim.
" Malam sayang, benarkah kamu kekasih Ditya? Ditya tidak berbohong kan?" Tanya nyonya Nuri memastikan.
" Iya Oma, kami baru saja meresmikan hubungan kami setelah dekat beberapa minggu ini." Ucap Gania jujur.
" Syukurlah kalau begitu, berarti Ditya sudah me... "
" Oma, ayo kita makan malam." Ajak Aditya memotong ucapan Omanya.
Mereka bertiga menuju meja makan, dengan penuh kesopana Gania mengambilkan makanan untuk nyonya Nuri dan Aditya. Nyonya Nuri benar benar terkesan melihat sikap Gania.
Mereka makan dengan khidmat. Aditya melirik Gania sambil tersenyum penuh kemenangan.
" Semoga Oma tidak memberitahu Gania semuanya." Batin Aditya.
Penasaran nggak nih apa yang di sembunyikan oleh Aditya? Mau lanjut? Tekan like koment vote dan 🌹yang banyak dulu buat author...
Terima kasih...
__ADS_1
Miss U All....
TBC....