
Hari ini hari pertama Gania bekerja sebagai office girl di kantor Arthur. Saat ini ia sedang berada pantri kantor untuk membuat empat cangkir kopi untuk karyawan yang ada di divisi keuangan. Tiba tiba...
" Buatkan kopi latte untukku."
Gania berjingkrak kaget mendengar suara pria hingga tangannya tak sengaja menyenggol teh panas yang sedang di aduknya.
" Awh.." Gania mengibas ngibaskan tangannya.
" Cek ceroboh." Pria itu menarik tangan Gania, lalu menariknya menuju wastafel. Ia mengucuri tangan Gania dengan air yang mengalir dari kran wastafel.
Gania nampak terpesona menatap wajah pria tampan di depannya, hidung mancung, bulu mata lentik, dan bibir tipis berwarna pink. Di tambah kulit seputih susu membuatnya benar benar terlihat sangat tampan.
" Kenapa menatapku seperti itu?" Pria itu melirik Gania membuat Gania salah tingkah.
" Ah.. A.. Aku.. " Gania benar benar merasa gugup.
" Sepertinya kamu tidak pernah melihat pria tampan sepertiku. Lain kali jangan ceroboh lagi, segera buatkan kopi latte lalu kirim ke ruangan asisten presdir." Ucapnya melepas tangan Gania.
" Ba.. Baik Pak." Sahut Gania.
" Sepertinya saya tidak pernah melihatmu? Apa kau pegawai baru di sini? Atau memang aku yang tidak tahu karena aku juga pegawai baru di sini." Ujarnya.
" Aku baru masuk kerja hari ini Pak." Sahut Gania.
" Owh pantas saja." Ucapnya meninggalkan Gania begitu saja.
Gania menatap kepergiannya dengan bernafas lega, ia merasa sesak nafas berada satu ruangan dengan pria tampan sepertinya.
" Hah ya Tuhan... Kenapa dia tampan sekali. Lirikkannya membuat jantungku terasa berhenti berdetak. Andai saja aku bisa menjadi kekasihnya... " Gania membayangkan bagaimana jika hal itu terjadi.
" Gania mana tehnya?"
Gania menoleh ke asal suara.
" Eh sebentar Mbak, yang satu tadi tumpah. Aku buatkan lagi." Ucap Gania membuat teh satu gelas lagi.
" Mbak, bisakah Mbak Lidya mengantarkan minuman ini? Aku di minta membuatkan kopi untuk pak presdir." Ujar Gania menatap Lidya, teman seprofesinya.
" Baiklah aku akan mengantarnya." Sahut Lidya.
" Terima kasih Mbak." Sahut Gania.
Setelah kepergian Lidya, Gania segera membuatkan kopi untuk pria tadi. Setelah selesai ia segera mengantarnya ke ruangan asisten presdir.
Tok tok....
" Masuk."
Gania membuka pintu ruangan, nampak pria tadi sedang sibuk dengan laptopnya. Gania berjalan menghampirinya sambil membawa nampan berisi secangkir kopi di tangannya.
__ADS_1
" Aditya." Gumam Vania membaca papan nama yang ada di meja pria itu.
" Letakkan di meja saja." Ucap pria yang bernama Aditya yang tak lain asisten baru sekaligus sahabat Arthur semasa kuliah dulu.
Gania meletakkan kopi di atas meja.
" Apa ada yang bisa saya bantu lagi Pak?" Tanya Gania menatap Aditya.
" Nanti siang ambilkan makan siang di resto depan, bilang saja suruhan pak Aditya begitu. Mereka pasti sudah tahu jika aku yang menyuruhmu." Ujar Aditya.
Gania nampak sedang berpikir.
" Kenapa masih di sini? Apa ucapanku kurang jelas?" Tanya Aditya menatap Gania.
" Maaf Pak, di depan ada tiga restorant. Restorant yang mana yang Bapak maksud?" Tanya Gania cengar cengir.
Aditya menghela nafasnya pelan.
" Yang tepat berada di depan pintu perusahaan ini yang mana?" Bukannya menjawab, Aditya malah balik bertanya.
" Emm... Kalau seingat saya yang tengah Pak." Sahut Gania.
" Itu tahu." Sahut Aditya.
" Sekarang keluarlah! Kau mengganggu konsentrasiku saja. Dan ya.. Terima kasih kopinya." Ucap Aditya.
" Sama sama Pak, saya permisi." Ucap Gania undur diri.
" Dasar bunglon, kadang lembut kadang dingin. Cepat banget situasi hatinya berubah ubah. Untung tampan, kalau tidak udah aku gebrak tuh mejanya." Gerutu Gania berjalan menjauh dari ruangan Aditya.
...****************...
Jam makan siang pun tiba. Gania segera menuju restorant yang di maksud oleh Aditya untuk mengambil pesanan Aditya.
" Maaf Mbak, saya mau ambil pesanan Pak Aditya." Ucap Gania kepada kasir di sana.
" Pak Aditya yang mana ya Mbak? Soalnya kami mendapat dua pesanan atas nama Aditya." Ujar kasir.
" Aditya yang bekerja di kantor depan Mbak." Ucap Gania.
" Semua bekerja di kantor depan Mbak, dan pesanan mereka tidak menyertakan jabatan." Ucapan kasir benar benar membuat Gania pusing.
" Repot kalau kayak gini nih. Mana aku tahunya cuma Aditya lagi, ada embel embelnya siapa ya? Mana aku tidak bawa ponsel lagi, kalau bawa ponsel kan bisa tanya mas Arthur." Gerutu Gania dalam hati.
" Mbak terserah Mbak deh mau kasih yang mana, saya juga bingung Mbak. Nanti saya akan tanyakan pada bapak Aditya benar atau tidak pesanannya daripada saya bolak balik keburu jam makan siang lewat." Ujar Gania.
" Baiklah Mbak, semuanya sudah masuk tagihan ya." Ujar kasir memberikan sekantong plastik berisi makanan.
Gania segera krlaur dari restorsnt tersebut, ia kembali ke kantor langsung menuju ruangan Aditya.
__ADS_1
Tok tok..
Gania masuk ke dalam menghampiri Aditya.
" Ini Pak pesanannya." Ucap Gania meletakkan kantong plastik tersebut ke atas meja. Setelah itu ia berjalan menuju pintu.
" Tunggu!" Ucap Aditya menghentikan langkah Gania.
" Aku hanya ingin memastikan jika pesanan yang kau bawa benar benar pesananku." Ujar Aditya.
" Maaf Pak tadi ada dua pesanan dari tuan Aditya. Tapi saya tidak tahu yang mana pesanan Bapak, jadi saya meminta kasir untuk memberikan asal." Ujar Gania.
Aditya membuka makanan pesanannya. Ia tersenyum sekilas lalu menatap Gania dengan tajam.
" Bagaimana kau bisa seceroboh ini dalam bekerja? Kenapa tidak memastikan dulu jika makanan yang kamu bawa itu benar benar pesananku. Seharusnya kau bisa tanyakan lebih dulu padaku." Ucap Aditya.
" Bagaimana saya mau bertanya pada Bapak lebih dulu? Kalau saya bolak balik keburu jam makan siang selesai Pak." Ujar Gania.
" Kau bisa meneleponku misalnya." Ucap Aditya.
" Saya tidak punya nomer telepon Bapak." Sahut Gania menundukkan kepalanya.
Aditya mengambil ponselnya lalu memberikannya pada Gania.
" Ketikkan nomermu disini!" Titah Aditya.
Gania segera mengetikkan nomer ponselnya di ponsel Aditya.
" Sudah Pak." Gania mengembalikan ponsel Aditya.
Aditya menatap layar ponselnya sambil tersenyum.
" A.. Apa pesanan yang saya ambil salah Pak?" Tanya Gania memastikan.
" Tidak." Sahut Aditya.
" Apa???" Pekik Gania melongo.
" Kalau tidak, lalu untuk apa Bapak meminta nomer ponsel saya?" Tanya Gania lagi.
" Untuk jaga jaga jika aku membutuhkan bantuanmu nanti, jadi aku tidak perlu capek capek mencarimu. Tinggal telepon, kau akan datang sendiri kemari." Sahut Aditya.
Gania memutar bola matanya malas.
" Saya permisi Pak." Ucap Gania kelaur dari ruangan Aditya.
" Aku menemukan gadis yang tepat, tunggu aku oma. Aku akan membawanya ke hadapanmu." Monolog Aditya tersenyum smirk.
Kira kira apa yang sedang di rencanakan Aditya nih? Penasaran? Jangan lupa tekan like koment vote dan hadiahnya bair author makin semangat.
__ADS_1
Miss U All...
TBC....