AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA

AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA
AXEL DHARMENDRA


__ADS_3

Mara telah di pindahkan di ruang rawat bersama dengan bayinya. Bi Ningsih dan pak Jaka juga sudah ada di sana. Bi Ningsih menimang cucu pertamanya dengan perasaan bahagia.


" Lihatlah matanya Pak, mirip dengan Arthur." Ujar bi Ningsih.


" Ya mirip Arthur lah Bu, orang dia anaknya gimana Ibu ini. Kalau nggak mirip entar di kira Mara sama yang lainnya." Sahut pak Jaka.


" Iya juga ya Pak." Sahut bi Ningsih merasa bodoh.


" Oh ya Arthur, siapa nama cucu Ibu yang paling tampan ini?" Tanya bi Ningsih.


" Namanya Axel Dharmendra, yang artinya kedamaian dan keberkahan Tuhan Bu." Sahut Arthur.


" Semoga putramu menjadi anak yang sholeh dan selalu membawa kedamaian seperti namanya." Ucap bi Ningsih.


" Amin." Sahut Arthur.


Bi Ningsih dan pak Jaka bergantian menimang cucu mereka. Sedangkan Arthur setia menemani Mara yang masih terbaring lemas di ranjangnya setelah mengeluarkan banyak tenaga untuk melahirkan sang putra.


" Kau istirahat saja sayang, kau pasti lelah melewati masa masa seperti ini. Maafkan Mas yang tidak bisa membantu mengurangi rasa sakitmu." Ucap Arthur.


" Tidak apa apa Mas, semua rasa sakit itu telah terbayar dengan kehadiran Axel." Sahut Mara sambil tersenyum.


" Kau bahagia dengan adanya Axel?" Tanya Arthur.


" Kenapa kamu bertanya seperti itu? Tentu saja aku bahagia lah Mas. Tapi ada yang aku khawatirkan Mas." Ujar Mara.


" Apa itu sayang?" Tanya Arthur menatap Mara dengan intens.


" Aku khawatir tidak bisa merawat Axel dengan baik. Aku sama sekali tidak punya skill untuk hal itu." Ucap Mara sedih.


" Jangan pikirkan hal itu sayang! Kita pasti bisa merawatnya bersama sama. Apalagi di bantu sama Ibu, pasti kita bisa." Ujar Arthur.


" Mas setelah aku menjadi ibu, aku merasa perbuatanku pada ibu salah Mas." Ucap Mara.


" Salah bagaimana sayang?" Tanya Arthur mengerutkan keningnya.


" Tidak seharusnya ibu dan ayah masih bekerja menjadi pelayanku. Mereka adalah mertuaku, status mereka sejajar dengan orang tuaku tapi aku justru masih memperlakukan mereka seperti sebelumnya. Aku jadi merasa bersalah Mas." Ujar Mara.


" Tidak apa apa sayang, memang itu pekerjaan mereka. Lagian sudah lama juga kamu tidak pernah menyuruh nyuruh mereka kan seperti sebelum kamu menikah dengan Mas. Itu sudah menunjukkan rasa hormatmu kepada mereka." Ujar Arthur.


" Aku ingin menyewa art dan tukang kebun baru Mas. Sudah saatnya ibu dan ayah menjadi nenek dan kakek untuk anak kita. Kita akan menanggung biaya hidup mereka, bukan menggaji mereka seperti sebelumnya." Ujar Mara.


" Baiklah kalau itu mau kamu, Mas menurut aja." Sahut Arthur.

__ADS_1


Yah walaupun Mara menggaji dua kali lipat bi Ningsih, yang satu gaji sebagai art dan yang lainnya biaya hidup dari Arthur, tapi ia merasa telah merendahkan mertuanya sendiri. Selama ini tidak terpikirkan olehnya tentang hal ini, ia baru menyadari setelah merasakan bagaimana perjuangan menjadi seorang ibu.


" Bicarakan ini pada ayah dan ibu Mas, kalau aku yang bicara, aku takut mereka akan tersinggung. Sampaikan maafku juga untuk mereka." Ucap Mara.


" Tentu sayang, Mas akan berbicara pada mereka setelah sampai rumah. Terima kasih sudah menghormati kedua orang tua Mas sebesar ini." Sahut Arthur di balas anggukkan kepala oleh Mara.


Jam sepuluh pagi, Gania datang membesuk Mara dan Axel bersama dengan Aditya. Setelah mengetuk pintu mereka masuk ke dalam menghampiri Mara di ranjangnya.


" Selamat Mbak atas kelahiran putra Mbak. Semoga menjadi anak sholeh dan Mbak Mara cepat pulih seperti sebelumnya." Ucap Gania memeluk Mara sebentar.


" Amin, terima kasih Gania." Sahut Mara.


Aditya memeluk Arthur sambil mengucapkan selamat kepadanya.


" Terima kasih, sekarang aku sudah menjadi ayah. Kapan giliran kamu?" Tanya Arthur menatap Aditya.


Aditya menatap Gania di balas senyuman olehnya.


" Kami masih menunggu kabar baik itu Ar. Doakan semoga bulan depan kami bisa membagikan kabar bahagia itu untuk kalian semua." Ucap Aditya.


" Doa terbaik untuk kalian." Ucap Arthur menepuk pundak Aditya.


" Yang penting berdoa dan tawakkal Gania, kalau sudah rejekinya tidak akan kemana. Tapi kalau belum, jangan berkecil hati! Jika sudah waktunya tiba kalian pasti akan mendapatkannya. Contohnya seperti Arthur, dia tidak menyangka akan secepat ini mendapat putra tampan sekarang ini." Ujar bi Ningsih.


" Sedikasihnya aja Nduk." Ujar bi Ningsih.


" Iya Budhe." Sahut Gania nyengir kuda.


" Oh ya siapa nama babby tampan ini Budhe?" Tanya Gania mengelus pelan pipi Axel.


" Namanya Axel." Sahut bi Ningsih.


" Hai Axel, gendong aunti yuk." Ucap Gania membopong Axel dari boxnya.


" Pelan pelan Gania, aku tidak mau sampai Axel kenapa napa." Ujar Arthur.


" Iya Mas tenang aja! Posesif amat." Sahut Gania.


" Bukannya posesif Gania, tapi kita harus hati hati menjaga Axel. Apalagi dia masih kecil, tulangnya masih lunak kalau kata ibu mah." Ujar Arthur.


" Iya iya Mas, bawel ah." Cebik Gania.


" Halo cayang, cayangnya Aunti ganteng banget sih. Mau donk Aunti punya babby kaya' kamu. Besok biar bisa main bareng sama bang Axel." Ujar Gania mencium pipi gembul Axel.

__ADS_1


" Sabar sayang! Kita pasti akan mendapatkannya." Ujar Aditya merangkul Gania.


" Amin." Sahut Gania.


" Lihat deh Mas, lucu banget ya si Axel. Pipinya gembul, matanya bulat, hidungnya mancung mirip banget sama mas Arthur. Biasanya kan kalau laki laki lebih dominan mirip ibunya ya, kok ini mirip ayahnya." Ujar Aditya.


" Itu berarti yang ngebet pengin jadi ayahnya, makanya hormon ayahnya lebih mendominasi." Sahut Aditya membuat Gania tertawa.


" Ha ha bener banget kamu Mas, soalnya kalau nggak jadi, mas Arthur nggak akan dapat jatah dari mbak Mara." Ujar Gania.


" Hust.. Ngomong apa sih kamu Nia. Udah jangan bercanda! Yang ada nanti mbakmu marah lagi." Ujar Arthur.


" Oke siap bos." Sahut Gania.


Gania menimang babby Axel, tak lama babby Axel pun menangis.


Oek.. Oek...


" Eh kok nangis sayang, kamu haus ya. Minum susu dulu sama mama kamu ya, nanti gendong Aunti lagi." Ujar Gania.


" Mbak susuin dulu gih." Ucap Gania memberikan Axel kepada Mara.


" Sebentar!" Ucap Mara duduk bersandar pada tumpukan bantal. Ia memangku bantal lalu meminta Gania menurunkan Axel dibatas bantal tersebut.


" Kenapa menggunakan bantal Mbak?" Tanya Gania heran.


" Kau terlalu takut menggendong Axel langsung Gania, bagiku Axel terlalu kecil untuk aku gendong." Sahut Mara. Gania mengangguk anggukkan kepalanya.


" Aditya dan ayah silahkan keluar dulu! Mara mau menyusui Axel dulu." Ujar Arthur mengusir kaum pria.


" Baiklah ayo kita tunggu di luar." Sahut pak Jaka.


" Sama Ibu dan Gania juga, aku malu." Ujar Mara


" Baiklah kami keluar." Ucap bi Ningsih tersenyum.


" Sama kami yang sesama perempuan malu Mbak, tapi sama Mas Arthur nggak malu." Ucap Gania menggoda Mara.


" Kan beda Gania... Kau menggoda mbakmu saja. Sudah sana keluar!" Ucap Arthur.


" Ha ha baiklah baiklah." Sahut Gania keluar dari ruangan Mara bersama dengan bi Ningsih.


Mara mulai menyusui Axel sambil nyengir menahan perih pada pucuk ***********.

__ADS_1


TBC....


__ADS_2