
Hari hari berlalu, tak terasa usia Axel sekarang sudah sembilan bulan. Proses perkembangan Axel di warnai dengan penuh drama oleh Mara. Dari yang Mara suka marah marah karena Axel suka begadang lah, Mara yang selalu meminta Arthur pulang jika Axel pup. Dan Mara yang selalu menanti Arthur pulang untuk memandikan Axel.
Namun semua itu keduanya jalani dengan kebersamaan sehingga tidak membuat beban di antara keduanya.
Seperti hari ini, Mara nampak marah marah lewat telepon karena Axel ngompol di ranjangnya. Arthur lupa memakaikan diapers kepada Axel.
" Maaf sayang Mas lupa tadi, kamu kan bisa memakaikannya sendiri. Kenapa harus menunggu Axel ngompol sayang." Ucap Arthur di seberang sana.
" Jadi kamu nyalahin aku Mas? Mana aku tahu kalau Axel nggak pakai diapers. Kamu sih tadi keburu pergi, jadi begini kan? Bau ompol semua selimut sama spreinya." Gerutu Mara mengerecutkan bibirnya. Ia menatap Axel yang sedang duduk di ranjangnya sambil ketawa tawa.
" Aha.. Ha.. ha... " Tawa Axel.
" Lihatlah putramu! Dia malah menertawakan aku." Cebik Mara.
" Coba video call sayang." Ujar Arthur memindah panggilan suara menjadi panggilan video.
Mara menerima panggilan videonya. Nampak wajah tampan Arthur di layar ponselnya.
" Kok cemberut gitu sayang? Senyum donk sayang! Kan sudah jadi mama sekarang." Ujar Arthur. Mara memaksakan senyumannya membuat Arthur terkekeh.
" Mana Axel?" Tanya Arthur.
Mara mengarahkan kamera ke arah Axel.
" Lhoh celananya kok belum di ganti sayang?" Tanya Arthur.
" Iya bentar." Sahut Mara.
" Harusnya begitu Axel ngompol langsung kamu ganti sayang, nanti kalau gatal gimana? Kan kasihan anak kita." Ujar Arthur.
" Iya iya.. Bawel banget sih Mas jadi papa." Ucap Mara.
" Harus begitu donk sayang! Kita harus mengurus Axel dengan sangat baik." Sahut Arthur.
Mara meletakkan ponselnya pada bantal. Ia segera membuka celana Axel lalu membawa Axel ke kamar mandi untuk cebok. Setelah itu Mara memakaikan celana baru kepada Axe dan tidak ketinggalan diapersnya juga.
Mara menurunkan Axel pada kereta bayi. Ia segera mengambil selimut dan sprei yang terkena ompol Axel lalu meletakkannya di ranjang pakaian kotor.
" Pa.. Pa.. Pap.. Pa." Celoteh Axel yang terdengar sampai sebrang sana.
" Apa sayang hmm? Kangen sama papa?" Tanya Arthur.
Mara mengambil ponselnya kembali melanjutkan panggilannya. Ia duduk di samping kereta bayi Axel sambil mengarahkan kamera ke arah mereka berdua.
" Halo Papa... " Ucap Mara.
" Halo sayang, Axel sedang apa nih?" Tanya Arthur menatap sang putra melalui kamera ponselnya.
" Axel sedang duduk Pa, kapan Papa pulang?" Tanya Mara menirukan suara anak kecil.
" Tunggu nanti sore ya, Papa pasti akan langsung pulang." Sahut Arthur.
__ADS_1
" Pa.. Papa.. mam.. mam.. " Axel bereceloteh ria sambil menggejolkan kakinya.
" Apa sayang? Mau main ya sama Papa? Tunggu nanti ya. Sekarang Axel main dulu sama mama. Papa mau melanjutkan pekerjaan Papa biar cepat selesai. Hati hati di rumah ya, dan ingat! Jangan nakal! Kasihan mama kalau Axel nakal nanti." Ujar Arthur.
" Siap Papa... Semangat bekerja ya. Dadah... " Ucap Mara mematikan sambungan teleponnya.
" Sekarang mari kita bermain, kita turun ke bawah ya sayang. Kita cari nenek sama kakek kamu." Ucap Mara menggendong Axel keluar kamarnya.
Mara menuruni anak tangga dengan hati hati. Ia menghentikan langkahnya saat melihat Vida yang duduk di ruang tamu bersama dengan kedua mertuanya.
" Ngapain kamu ke sini?" Tanya Mara menghampiri mereka semua.
" Nak Mara, Vida kemari untuk meminta maaf padamu dan pada Arthur. Setelah di penjara, Vida menyesali perbuatannya Nak. Dia menyadari jika apa yang dia lakukan padamu suatu kesalahan terbesar dalam hidupnya." Ujar bi Ningsih.
" Iya Mara, aku minta maaf! Aku tidak pernah berpikir sebelum aku melakukan sesuatu. Setelah aku menjalani hukumanku, aku baru menyadari semuanya. Aku minta maaf padamu Mara. Maafkan aku!" Ucap Vida.
" Aku sudah memaafkanmu, sekarang pergilah dari rumahku! Jangan pernah datang apalagi mengganggu keluargaku. Karena kali ini aku tidak akan melepaskanmu seperti sebelumnya." Ucap Mara.
Vida menatap bi Ningsih dan pak Jaka yang di balas anggukkan kepala oleh keduanya.
" Baiklah aku akan pergi, terima kasih telah memaafkan kesalahanku. Sampaikan maafku untuk Mas Arthur juga. Bilang padanya kalau aku telah menyesali perbuatanku padamu. Aku pergi dulu." Ucap Vida beranjak dari kursinya.
Vida segera berlalu dari sana. Mara hanya menatapnya tanpa mau berbasa basi menghentikan kepergiannya. Ia sudah terlanjur kehilangan respect kepada Vida. Apapun yang Vida katakan, ia tidak akan mempercayainya lagi.
" Sayangnya Nenek, ayo sama Nenek." Bi Ningsih mengulurkan kedua tangannya kepada Axel.
Axel segera pindah ke dalam gendongan bi Ningsih.
" Mungkin seperti biasa Bu, satu kilo." Sahut Mara.
" Ibu benar benar bahagia Mara, Ibu bisa menemani Axel tumbuh sebesar ini. Semoga Ibu di beri kesehatan supaya Ibu bisa menemani adiknya Axel nanti." Ucap bi Ningsih.
" Amin." Ucap Mara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore ini Gania sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan makan malam untuk Aditya. Ia nampak kesulitan bergerak karena perutnya yang sudah membuncit besar. Apalagi saat ini mendekati hpl, perut Gania sering merasa kencang kencang, punggungnya juga sering merasa pegal. Ia mengelus punggungnya sambil menghembuskan nafasnya.
Aditya yang baru pulang dari kantor, segera menghampirinya.
" Kenapa sayang?" Tanya Aditya menatap Gania.
" Pinggangku terasa pegal Mas." Sahut Gania.
" Kamu istirahat dulu! Biarkan aku yang menyelesaikannya." Ujar Aditya menuntun Gania ke kursi yang ada di sebelah meja makan.
" Kenapa kamu yang memasak? Kemana bi Ida?" Tanya Aditya.
" Bi Ida pamit pulang lebih awal tadi Mas, dia tidak sempat masak untuk makan malam karena terburu buru. Dia mendapat kabar kalau anaknya kecelakaan dan saat ini anaknya di rawat di rumah sakit." Ujar Gania.
" Kasihan sekali, besok kalau ada waktu kita jenguk anaknya bi Ida." Ujar Aditya.
__ADS_1
" Iya Mas." Sahut Gania.
Tiba tiba perut Gania merasa mulas.
" Mas perutku terasa mulas." Ujar Gania.
Aditya langsung mendekatinya.
" Mulas kenapa sayang? Apa kamu mau melahirkan?" Tanya Aditya.
" Sepertinya begitu Mas, tolong bawa aku ke rumah sakit Mas. Sakitnya semakin bertambah." Ucap Gania.
" Baiklah sayang, ayo kita ke rumah sakit." Sahut Aditya.
Aditya segera membawa Gania ke rumah sakit khusus bersalin. Sampai di sana Gania segera di tangani oleh dokter ahli kandungan.
" Bagaimana keadaan istri saya Dok?" Tanya Aditya menatap dokter Mila.
" Istri anda mau melahirkan Tuan, kami bawa ke ruang bersalin dulu baru kami akan melakukan tindakan selanjutnya." Sahut dokter Mila.
" Lakukan yang terbaik untuk istri dan anakku Dok." Ucap Aditya.
" Tentu Tuan." Sahut dokter Mila.
Gania segera di pindahkan ke ruang persalinan untuk berjuang melahirkan anaknya melihat dunia ini. Setengah jam berjuang di dalam sana dengan di temani Aditya di sampingnya, akhirnya Gania berhasil melahirkan seorang putra tampan pewaris keluarga Aditya. Keduanya nampak sangat bahagia.
" Terima kasih sayang, terima kasih untuk kebahagiaan ini." Ucap Aditya menciumi wajah Gania. Ia sampai tidak mampu mengatakan apa apa lagi karena saking bahagianya.
" Sama sama Mas." Sahut Gania.
" Selamat Tuan, Nyonya. Anak kalian laki laki dan terlahir sempurna. Kalian akan memberikan nama siapa kepadanya?" Tanya dokter Mila sambil menyerahkan babby tampan milik Gania kepada Aditya.
" Kami akan memberinya nama Leo Duta Pratama Dok." Sahut Aditya.
" Nama yang bagus, sekali lagi selamat untuk kalian berdua." Ucap dokter Mila.
" Terima kasih Dok." Sahut Aditya.
" Lihatlah putra kita sayang!" Ucap Aditya mendekatkan babbynya kepada Gania.
" Mirip banget denganmu Mas." Ucap Gania.
" Anaknya siapa dulu, Aditya." Ujar Aditya.
" Kita akan memanggilnya siapa Mas? Leo atau Duta?" Tanya Gania.
" Kita panggil Leo saja yang gampang. Sekali lagi terima kasih sayang, kau telah menyempurnakan aku sebagai pria sejati. Aku akan menjaga kalian dengan baik. Aku mencintai kalian berdua." Ucap Aditya mencium kening Gania.
" Aku juga Mas." Sahut Gania.
Tidak ada kebahagiaan yang sempurna selain hadirnya anggota keluarga baru. Itulah yang di rasakan oleh kedua pasangan ini. Mereka berharap hanya ada kebahagiaan yang menghiasi kehidupan mereka semua.
__ADS_1
...THE END...