
Tiga hari telah berlalu, walaupun masih tinggal satu atap tapi Mara dan Arthur hidup bagaikan orang asing. Berulang kali Mara mengusir Arthur namun Arthur bersikukuh tidak mau pergi dari sana. Alhasil Mara bersikap acuh dan selalu mengabaikannya. Bahkan Mara dan Aldo sering kali berduaan di depan Arthur dengan mesra tanpa memikirkan perasaan Arthur sama sekali.
Pagi ini Mara sedang sarapan bersama Arthur, hanya ada suara dentingan sendok dan garpu yang mengiringi kebersamaan mereka tanpa ada suara dari keduanya yang saling menyapa.
" Aku sudah menemui pengacara untuk membatalkan pengalihan hak atas namamu, dan aku juga memintanya untuk mengurus surat cerai kita secepatnya." Ucap Mara membuka suara.
Deg...
Arthur mengepalkan erat tangannya, ia harus bergerak cepat untuk mendapatkan semua bukti kejahatan Aldo sebelum Mara memintanya untuk menandatangani surat cerai itu.
" Dan hari ini aku mau jalan jalan sama Aldo, aku harap kamu tidak mengikutiku seperti biasanya." Sambung Mara.
Tanpa berkata apa apa, Arthur berlalu meninggalkan Mara. Ia masuk ke kamarnya lalu menelepon seorang anak buahnya.
" Halo, bagaimana perkembangan penyelidikan kalian? Apa membuahkan hasil?" Tanya Arthur kepada seseorang di seberang sana.
" Hampir sempurna Bos, tapi kami menemui jalan buntu. Karena ternyata kopi yang Aldo pesan bukan buatan pegawai cafe Bos. Sepertinya dia membawa orang dari luar, dan
kami sedang melacak keberadaannya."
" Segera tuntaskan semuanya, aku memberimu waktu satu minggu sebelum istriku berhasil menggugat cerai aku." Ucap Arthur mematikan sambungan teleponnya.
Tiba tiba Arthur mendengar tawa Mara yang sepertinya dari luar rumah, ia segera bergegas menuju balkon kamarnya.
Deg...
Jantung Arthur terasa di remas remas, sakit namun tidak berdarah saat ia melihat istrinya bercanda mesra dengan kekasihnya. Aldo nampak mencubit pelan pipi Mara, sedangkan Mara bergelayut manja pada lengan Aldo.
Tak lama mereka masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan rumah Mara. Arthur mengepalkan erat tangannya menahan kesal dan sakit di dalam hatinya.
" Saat ini aku tidak bisa berbuat apa apa selain melihat kebahagiaan kalian berdua. Setelah aku mendapatkan bukti yang kuat, aku akan menunjukkan padamu siapa Aldo sebenarnya dan aku harap kau bisa membuka matamu lebar lebar Mara. Kau harus tahu jika Aldo bukan pria yang baik, dia tidak tulus mencintaimu. Hanya aku Mara... Hanya aku yang mencintaimu dengan tulus. Aku rela melakukan apapun demi kamu, bahkan aku rela bertaruh nyawa untukmu. Semoga suatu hari nanti kau menyadarinya." Monolog Arthur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam ini Arthur nampak sangat cemas, ia berjalan mondar mandir di ruang tamu sambil sesekali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi namun Mara belum juga pulang.
" Kemana mereka pergi? Kenapa jam segini belum pulang juga? Apa terjadi sesuatu dengan Mara? Apa Aldo menyakitinya? Atau.... "
" Ah bodoh kamu Arthur, kenapa kamu tidak menempatkan anak buahmu untuk mengikuti mereka? Ya Tuhan... Lindungilah istriku dari hal buruk yang menimpanya Tuhan... Aku mohon!" Ucap Arthur nampak cemas.
Arthur duduk di sofa menunggu Mara. Satu jam.. Dua jam... Tiga jam lamanya Mara belum juga pulang. Tidak bisa menunggu lebih lama lagi, Arthur beranjak dari sofa nya bertepatan dengan seseorang membuka pintu.
Ceklek....
Mara masuk ke rumahnya, Arthur segera menghampirinya.
__ADS_1
" Nona Mara, kamu darimana saja?" Tanya Arthur menatap Mara.
" Bukan urusanmu." Sahut Mara cuek.
" Mara." Arthur mencekal tangan Mara.
" Aku suamimu, aku harus tahu kemana kau pergi dan apa yang kau lakukan." Ucap Arthur tegas.
" Siapa bilang kamu suamiku? Kamu bukan suamiku, aku tidak pernah menganggapmu sebagai seorang suami. Kau adalah pegawaiku dan selamanya kamu tetap akan menjadi pegawaiku. Bukan suamiku, apa kau mengerti?" Mara menatap sinis ke arah Arthur.
" Tapi tidak apa apa, kalau kamu mau tahu aku darimana dan ngapain aja, akan aku beri tahu kepadamu." Ucap Mara.
" Malam ini aku menghabiskan malam dengan Aldo sampai pagi. Apa kau puas?"
Deg...
Jantung Arthur terasa berhenti berdetak.
" Kau tidak bisa mendapatkan aku, karena aku sudah menjadi milik Aldo seutuhnya. Aku harap setelah ini kau tidak mempersulit proses perpisahan kita. Aku tidak mau calon anakku nanti tidak bisa bersama ayah kandungnya." Ucap Mara meninggalkan Arthur yang masih tercengang dengan ucapan Mara.
" Apa benar dia melakukan itu? Apa benar dia sudah menjadi milik orang lain saat ini?.. " Tubuh Arthur terhuyung. Ia duduk di sofa menahan kesedihannya.
" Hiks... Hiks... Ya Tuhan... Suami macam apa aku ini yang tidak bisa menjaga istriku dengan baik. Bagaimana bisa aku mempertanggung jawabkan semua ini di hadapan tuan Adi? Apa yang harus aku lakukan? Sakit... Rasanya sangat sakit mendengar ucapan Mara. Kenapa dia tidak bisa melihat cintaku padanya? Kenapa dia lebih memilih pria brengsek itu daripada aku? Ya Tuhan... Aku harus bagaimana?" Isak Arthur.
Arthur segera mengusap air matanya saat mendengar suara ibunya.
" Ibu." Ucap Arthur.
Bi Ningsih duduk di hadapan putranya.
" Jika nona Mara tidak berniat untuk tetap bersamamu, lebih baik kamu melepaskannya. Ibu tidak mau melihatmu kesakitan seperti ini Nak, kita memang harus memperjuangkan cinta tapi jika yang berjuang hanya satu orang saja, itu tidak akan berhasil. Rasanya tidak adil jika kamu terus terusan merasakan sakit yang kamu sendiri tidak mampu mengendalikannya." Ujar bi Ningsih.
" Tidak Bu, aku tetap akan memperjuangkan pernikahan ini. Ada sesuatu yang nona Mara tidak tahu. Aku yakin jika dia mengetahuinya, pasti dia akan mempertimbangkan semuanya." Sahut Arthur.
" Bagaimana kalau tidak? Bagaimana jika dia menganggap kebenaran yang kau ungkapan adalah sebuah kebohongan yang sengaja kau lakukan untuk membodohinya? Apa kau tidak akan bertambah sakit hati?" Tanya bi Ningsih menatap Arthur.
" Jika memang dia tidak terketuk hatinya, maka aku akan melakukan seperti yang ibu sarankan. Aku akan melepasnya dengan ikhlas, mungkin dia bukan jodohku Bu. Tapi untuk saat ini biarkan aku bertahan lebih dulu, ibu hanya perlu mendoakanku saja." Ucap Arthur.
" Baiklah terserah kau saja." Sahut bi Ningsih meninggalkan Arthur.
Arthur kembali ke kamarnya dengan perasaan gelisah tak menentu. Ia bingung dengan perasaannya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satu minggu berlalu, pengacara datang ke kediaman Mara. Mereka duduk di sofa ruang tamu.
__ADS_1
" Bagaimana pak Lukman? Apa pengadilan mengabulkan permohonanku?" Tanya Mara menatap sang pengacara.
" Maaf tidak bisa Nona! Berdasarkan surat wasiat yang di tinggalkan oleh tuan Adi, semua milik tuan Adi menjadi milik tuan Arthur. Walaupun tuan Arthur bukan lagi suamimu sekalipun." Ucap pak Lukman.
Mara mengepalkan erat tangannya.
" Lalu bagaimana dengan surat cerainya?" Tanya Mara.
" Saya sudah membuatnya Nona, tapi perlu anda tahu. Di dalam surat wasiat tertulis, jika anda dan tuan Arthur bercerai, maka anda harus meninggalkan rumah ini. Kecuali kalau tuan Arthur mengijinkannya."
" Apa???" Pekik Mara tidak percaya.
" Bagaimana bisa papa melakukan semua ini
padaku? Sebenarnya yang anak papa aku apa bang Arthur sih. Kesel gue." Gerutu Mara.
" Ini suratnya Nona, anda tinggal tanda tangan saja lalu minta tuan Arthur untuk menandatangani juga. Kalau sudah, anda bisa mengirimkannya kepada saya." Ujar pak Lukman memberikan dokumen gugatan cerai kepada Mara.
" Saya permisi." Pak Lukman segera berlalu dari sana.
Mara membaca surat perpisahan yang ada di tangannya. Entah kenapa hatinya terasa begitu berat.
" Aku tidak peduli dengan perasaanku, aku harus segera menandatanganinya dan terbebas dari manusia picik sepertinya. Tidak masalah aku tidak mendapatkan harta papa, toh aku punya usaha sendiri dan tabungan yang banyak. Yang penting aku bisa hidup bahagia bersama Aldo." Ujar Mara membubuhkan tanda tangannya ke surat tersebut sebagai pihak pertama.
Tak lama Arthur lewat di depannya.
" Bang." Panggil Mara menghentikan langkah Arthur.
" Aku sudah menandatanganinya, tinggal kamu saja." Ucap Mara menghampiri Arthur.
" Tanda tangani sekarang juga supaya aku bisa menikah dengan Aldo secepatnya." Ucap Mara memberikan surat itu.
" Sebelum aku menandatanganinya, kau harus melihat bukti bukti yang aku bawa." Ucap Arthur.
" Bukti apa?" Tanya Mara menatap Arthur.
" Bukti kejahatan Aldo kepada tuan Adi, sekarang kita akan sama sama lihat siapa Aldo sebenarnya."
Bagaimana reaksi Mara setelah melihat semuanya? Temukan jawabannya di bab selanjutnya.
Terima kasih....
Miss U All...
TBC....
__ADS_1