AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA

AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA
KONDISI MARA


__ADS_3

Dengan bantuan paman dan ayahnya, akhirnya Arthur berhasil membawa Mara ke atas.


" Kita ke rumah sakit Yah." Ucap Arthur.


" Baiklah ayo." Sahut pak Jaka.


Arthur berlari menuju mobilnya sambil menggendong Mara, pak Jaka segera mengikutinya dari belakang.


Arthur duduk di kursi penumpang sambil memangku Mara. Pikirannya panik tidak karuan melihat wajah Mara yang nampak pucat.


" Sayang bertahanlah!" Ucap Arthur menciumi wajah Mara.


Pak Jaka melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju klinik terdekat karena tidak mungkin mereka ke rumah sakit yang ada di pusat kota. Sekitar lima belas menit, pak Jaka menemukan sebuah klinik kesehatan. Ia membelokkan mobilnya ke pelataran klinik.


Arthur segera turun dari mobil lalu membawa Mara masuk ke dalam.


" Suster cepat tolong istri saya." Ucap Arthur kepada suster yang bertugas di sana.


" Baik Pak." Sahutnya.


" Istri Bapak kenapa?" Tanya suster.


" Dia terjebak di sumur tua seharian penuh." Sahut Arthur.


Suster segera memasang oksigen dan infus sesuai instruksi dokter. Dokter memeriksa semua alat vital Mara.


" Bagaimana keadaan istri saya Dok?" Tanya Arthur.


" Istri anda mengalami dehidrasi dan sesak nafas, beruntung janinnya tidak apa apa." Ucap Dokter membuat Arthur terkejut.


" Janin?" Arthur mengerutkan keningnya.


" Maksud anda istri saya hamil?" Tanya Arthur memastikan.


" Iya Pak, apa anda tidak tahu?" Dokter malah bertanya kepada Arthur.


" Belum Dok karena kami belum memeriksakannya, namun sudah ada tanda tanda." Sahut Arthur.


" Kalau begitu saya ucapkan selamat Pak, bayinya sehat. Untuk pemeriksaan lebih lanjut, silahkan datang ke bagian obgyn di rumah sakit karena peralatan kami kurang lengkap." Ujar dokter.


" Baik Dok terima kasih. Aap dokter sudah memastikan tidak ada luka serius pada tubuh istri saya? Saya khawatir istri saya di gigit binatang di sana." Ucap Arthur.


" Kami sudah memeriksa keseluruhan Pak, tidak ada tanda tanda gigitan binatang apapun pada tubuh istri anda." Sahut dokter membuat Arthur merasa lega.


" Kami akan memindahkan bu Mara di ruang perawatan. Jika besok pagi keadaannya sudah stabil, beliau di perbolehkan pulang." Ucap dokter.


" Lakukan yang terbaik untuk istri saya." Ucap Arthur.


" Saya permisi." Ucap dokter undur diri.


Tak lama Mara di pindahkan ke ruang rawat, Pak Jaka dan Arthur masuk ke dalam menghampiri Mara yang sedang terbaring lemah di atas ranjang.


" Syukurlah Arthur, Mara dan janinnya baik baik saja. Ayah tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika kita tidak bisa menemukannya malam ini." Ujar pak Jaka.


" Aku merasa kejadian ini di lakukan oleh seseorang Yah. Tidak mungkin Mara pergi ke sana sendirian. Dia bukan orang bodoh yang kehilangan akal hingga ia harus ke sana Yah. Apalagi dia penakut, mana berani dia datang ke sana sendirian walaupun siang hari." Ujar Arthur.

__ADS_1


" Jika dugaanmu benar, siapa orangnya Nak?" Tanya pak Jaka.


" Hanya ada dua orang yang akan menjadi tersangka Yah, antara Gania dan Vida." Ucap Arthur.


" Tapi kita tidak bisa menuduh mereka tanpa bukti. Kita tunggu saja sampai nak Mara sadar. Kita bisa menanyakan semua ini padanya." Ucap pak Jaka.


" Iya Yah, Ayah pulang saja. Kasihan ibu nanti pasti khawatir. Bilang pada ibu kalau Mara dan calon cucunya baik baik saja." Ucap Arthur.


" Apa kamu tidak apa apa sendirian di sini?" Tanya pak Jaka.


" Tidak apa apa Ayah." Sahut Arthur.


" Baiklah Ayah pulang dulu." Ucap pak Jaka keluar dari ruangan Mara.


Arthur duduk di kursi samping ranjang. Ia menggenggam tangan Mara sesekali ia menciuminya.


" Maafkan Mas sayang! Gara gara keteledoran Mas kamu jadi seperti ini. Maafkan Papa sayang, belum lahir saja Papa sudah tidak bisa menjagamu dengan baik. Papa benar benar merasa tidak becus menjaga kalian. Sehat sehat sayang di dalam sini." Ucap Arthur mengelus perut Mara.


Perasaan Arthur rancau saat ini, ia bahagia karena kehamilan Mara tapi ia juga sedih dengan kondisi Mara saat ini. Ia merasa buruk menjadi suami yang tidak bisa menjaga istrinya.


Pagi hari Mara mengerjapkan matanya, ia mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan.


" Aku dimana?" Gumam Mara.


Arthur yang tertidur sambil duduk sayup sayup mendengar suara Mara. Arthur langsung membuka matanya menatap Mara.


" Sayang kamu sudah sadar." Pekik Arthur senang.


" Mas aku... "


Tiba tiba Mara teringat malam gelap di dalam dan seekor ular yang ada di depan matanya. Melihat wajah Mara yang mendadak pucat, Arthur segera berdiri lalu memeluk Mara untuk menenangkannya. Mara menyembunyikan wajahnya pada perut Arthur.


" Mas aku takut! Di sana gelap, ada ular yang siap mematukku Mas, Hiks... Aku takut Mas, malam itu sangat menakutkan." Isak Mara dengan nafas tersengal.


" Tenanglah sayang! Ada Mas di sini. Maafkan Mas yang tidak bisa menjagamu dengan baik. Mas minta maaf." Ucap Arthur mengelus kepala Mara.


Satu menit, dua menit tiga menit hingga lima menit Mara sudah mulai tenang kembali. Mara membuka selang oksigen yang menempel di hidungnya.


" Duduklah dengan benar sayang." Arthur menumpuk bantal di belakang Mara. Mara duduk bersandar pada tumpukan bantal.


" Minum dulu." Arthur memberikan air mineral kepada Mara. Mara segera meminumnya.


Arthur merapikan rambut Mara sambil terus menatapnya.


" Jangan takut dan jangan menangis lagi!" Ucapan Arthur mengusap air mata Mara.


" Mas aku mau pulang ke Jakarta. Aku tidak mau di sini, mereka jahat padaku. Aku tidak mau di sini lagi Mas. Aku mau pulang." Ucap Mara menyentuh lengan Arthur.


" Katakan siapa yang jahat padamu? Mas akan memberinya pelajaran yang tidak pernah ia lupakan sayang." Ucap Arthur.


" Vida."


Arthur tidak terkejut karena ia sudah menduga sebelumnya.


" Apa kamu mau menceritakan bagaimana Vida melakukannya padamu sayang? Tapi kalau kamu tidak mau, tidak apa apa. Yang penting sekarang kamu harus istirahat dulu." Ujar Arthur.

__ADS_1


" Vida bilang padaku kalau dia mau menunjukkan dimana aku bisa mendapatkan mangga muda yang enak Mas. Karena saking penginnya aku percaya padanya. Dia membawaku berputar putar jalanan setapak membuat aku bingung aku ada dimana. Sampai pada lahan jati, di terus menarik tanganku.... "


Flashback On


" Vida kau mau membawaku kemana? Kenapa kau membawaku ke sini?" Tanya Mara merasa curiga.


" Katanya kamu mau makan mangga muda, di sebelah kebun jati ini ada kebun mangga yang berbuat sangat lebat milik paman Eko. Kita bisa memetiknya sepuasnya." Sahut Vida tanpa melepaskan tangan Mara.


" Aku tidak mau, aku maunya yang ada di samping rumah." Ujar Mara.


" Yang di samping rumah itu bukan milik paman Eko, tapi milik tetangga sebelah. Apa kamu tidak malu meminta pada orang lain? Mungkin kamu tidak malu tapi paman Eko pasti akan malu Mara. Ayo kita ambil milik paman aja." Vida kembali menarik tangan Mara.


" Tidak mau lepaskan aku!" Bentak Mara menyentak tangan Vida kasar.


Vida tersenyum sinis menatap Mara. Pasalnya Mara berdiri tepat di samping sukur tua yang tidak terpakai itu.


" Tepat sekali, kau memang genius Vida. Kau harus melenyapkan wanita ini demi cintamu. Jika Mara mati di dalam sumur itu, pasti tidak akan ada yang curiga jika kematiannya di sebabkan olehku." Batin Vida.


Vida melangkah maju membuat Mara memundurkan tubuhnya.


" Mau apa kau?" Tanya Mara.


" Aku mau membuatmu lenyap dari muka bumi ini supaya aku bisa memiliki Mas Arthur sepenuhnya." Ucap Vida.


Tiba tiba Vida mendorong tubuh Mara hingga terperosok ke dalam sumur tua itu. Vida tersenyum puas sambil menepuk nepuk tangannya.


" Tolong... Tolong aku!!" Teriak Mara.


" Berteriak lah sesukamu Mara karena tidak akan ada yang mendengar teriakanmu." Ucap Vida.


Ya.. Tidak ada yang mendengar teriakan Marasama sekali karena di rumah paman Eko sedang berlangsung acara organ tunggal. Sudah menjadi adat mereka jika menikahkan anak anaknya.


Vida pergi begitu saja meninggalkan Mara yang nampak ketakutan di dalam sana.


Flashback Off.


Arthur mengepalkan erat tangannya.


" Kau harus menerima akibat dari perbuatanmu Vida. Aku akan menunjukkan rekaman pengakuan Mara sebagai bukti kejahatanmu." Batin Arthur.


" Sayang apa kau bisa membuktikan kalau Vida yang melakukannya semua ini?" Tanya Arthur.


" Apa ini artinya Mas tidak percaya padaku? Apa saat ini Mas sedang berusaha membelanya?" Tanya Mara tidak percaya.


" Bukan begitu sayang, Mas percaya padamu. Tapi untuk mengungkapkan kejahatan Vida, kita harus punya bukti yang kuat sayang." Ujar Arthur.


" Aku tidak punya buktinya." Sahut Arthur.


" Berarti kita harus mengumpulkan bukti dulu agar dia tidak bisa mengelak." Ucap Arthur.


Bisakah Arthur dan Mara membuktikannya? Jangan lupa tekan like koment vote dan hadiahnya buat author...


Terima kasih...


Miss U All....

__ADS_1


TBC....


__ADS_2