
Malam ini Mara kembali mempermasalahkan tidur mereka. Ia tidak mau tidur satu ranjang dengan Arthur tapi tidak ada tempat lagi untuk Arthur tidur.
" Kamu tidur di sofa depan sana saja Bang, aku tidak mau tidur sama kamu. Lagian kamu ini gimana sih? Sudah tahu aku tidak mau berbagi tempat tidur malah membuat rumah yang kamarnya cuma satu doank. Terus sempit lagi, gimana aku bisa tidur coba." Gerutu Mara kesal.
" Belajarlah bersyukur atas apa yang kita miliki saat ini Nona, itu akan membuatmu bahagia." Sahut Arthur.
" Selalu saja seperti itu! Sudah aku bilang jangan terlalu pasrah pada keadaan, jadi manusia harus punya ambisi. Itu akan membuatmu mendapatkan apa yang kamu mau." Ujar Mara.
" Kau terlalu berambisi untuk menikahi Aldo, apa sekarang dia jadi milikmu?"
Pertanyaan Arthur membuat Mara terkejut. Ucapan Arthur benar benar menohok hati Mara, ia tidak menyangka jika Arthur akan mengatakan hal itu. Ia menatap tajam ke arah Arthur.
" Dia memang tidak jadi milikku sekarang, tapi akan aku pastikan dia akan menjadi milikku suatu hari nanti. Kalau aku tidak bisa membuktikan ucapanku, jangan panggil aku Mara." Ucap Mara penuh penekanan.
Mara naik ke atas ranjang lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Arthur masih tertegun dengan ucapan Mara barusan, ia merasa cemburu Mara mengucapkan kata kata itu. Ia segera keluar dari kamarnya untuk mengendalikan emosinya.
Arthur duduk di teras depan rumah, ia menatap sekitar yang nampak gelap.
" Aku harus lebih sabar lagi menghadapi Mara. Semua ini tidak mudah baginya, aku harus bisa memahaminya. Semoga Tuhan selalu memberikan aku kesabaran." Ucap Arthur menghembuskan kasar nafasnya.
Semakin lama Arthur merasa kedinginan, ia masuk ke dalam kembali ke kamarnya. Ia terkejut saat mendapati Mara yang meringkuk kedinginan.
" Ya Tuhan Mara." Ucap Arthur.
Arthur naik ke atas ranjang.
" Sssss." Mara nampak menggigil.
" Nona Mara apa kamu demam?" Tanya Arthur.
Arthur menempelkan tangannya ke dahi Mara.
" Tidak panas." Ujar Arthur.
" Nona Mara." Arthur mengguncang pelan bahu Mara.
" Ssss dingin." Rintih Mara.
" Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan?" Monolog Arthur sedikit berpikir.
" Teh panas."
" Ya teh panas, setelah minum teh panas pasti dia tidak akan menggigil lagi." Ujar Arthur.
" Nona Mara bangunlah! Aku akan membuatkan teh hangat untukmu." Ucap Arthur mengguncang badan Mara.
Tanpa sadar Mara menarik kasar Arthur hingga membuat Arthur terjerembab di kasurnya.
" Nona." Ucap Arthur.
__ADS_1
Tiba tiba Mara memeluk tubuh Arthur, ia menyusupkan kepalanya menjadikan lengan Arthur sebagai bantalan. Arthur tersenyum senang mendapat perlakuan Mara walaupun Mara tidak sadar melakukannya.
Beberapa saat kemudian, Mara sudah tidak menggigil lagi. Arthur membenarkan posisinya, ia masuk ke dalam selimut lalu membalas pelukan Mara.
" Kau yang menginginkan semua ini Mara, jangan salahkan aku setelah kau terbangun nanti." Ucap Arthur memejamkan matanya. Alhasil mereka tidur sambil berpelukan.
Pagi hari Mara mengerjapkan matanya, ia merasakan kenyamanan yang begitu hangat di dalam hatinya. Ia membuka matanya dengan sempurna hingga ia menyadari jika dirinya tidur sambil memeluk Arthur.
" Bagaimana bisa aku begitu nyaman tidur dalam pelukannya? Pelukannya benar benar memberikan aku kehangatan." Batin Mara menatap wajah Arthur yang nampak sangat tampan.
" By the way kalau di lihat dengan seksama kamu tampan juga Bang, bahkan sangat tampan untuk seorang sopir sepertimu. Benar benar pahatan Tuhan yang sangat indah." Gumam Mara mengelus wajah Arthur. Kulit putih bersih, hidung mancung, dan bibir mungil seperti bibir bayi membuat Mara ingin mengecupnya.
" Aku tidak boleh membuka mata, jika aku melakukannya Mara pasti akan merasa sangat malu karena ketahuan memuja ketampananku." Batin Arthur.
" Ehh apa yang kau katakan Mara? Kau tidak boleh memujinya, apalagi sampai tertarik padanya. Ingatlah! Kau punya Aldo, kau harus mencari Aldo dan meminta penjelasan darinya. Kau tidak boleh mencintai pria lain selain dirinya, Aldo sangat menyayangiku dan aku tidak boleh mengkhianati cintanya." Monolog Mara.
Arthur mengepalkan erat tangannya menahan kesal di dalam hatinya.
" Aku tidak akan membiarkan itu terjadi Mara, aku tidak rela kau jatuh ke tangan pria brengsek seperti Aldo. Aku harus menanyakan keberadaan Aldo kepada tuan Adi. Agar aku bisa menyiapkan rencana saat dia kembali." Ujar Arthur di dalam hati.
Arthur menggeliat membuat Mara segera menjauh dari tubuh Arthur. Tapi karena kurang hati hati tiba tiba...
Brugh....
" Awh... " Pekik Mara saat tubuhnya mendarat sempurna ke lantai.
Arthur segera membuka matanya lalu menatap Mara yang masih terbaring di lantai.
" Aku bisa sendiri." Ketus Mara beranjak duduk.
" Bagaimana bisa kamu tidur di bawah Nona Mara?" Tanya Arthur menatap Mara sambil menahan tawanya.
" Tertawalah Bang tidak perlu di tahan seperti itu! Ekspresimu membuatku mual saja." Ketus Mara.
Ha ha ha
Akhirnya tawa Arthur pecah begitu saja. Ia tertawa lepas sambil memegangi perutnya.
" Terus saja ketawa sepuasnya, bahagia bener melihat aku menderita." Cebik Mara.
" Baiklah baiklah maafkan aku! Tapi katakan padaku kenapa kamu bisa jatuh dari tempat tidur." Ujar Arthur.
" Gara gara kamu." Ucap Mara.
" Kok aku? Memangnya apa yang aku lakukan?" Tanya Arthur menatap Mara.
" Karena kamu terlalu tampan hingga aku mengagumi wa... " Mara membungkam mulutnya saat menyadari jika ia keceplosan bicara.
" Oh... Kau jatuh dari tempat tidur karena mengagumi ketampanan wajahku ini? Atau jangan jangan dari tadi kamu memandangi wajahku, benar begitu Nona Mara?" Tanya Arthur.
__ADS_1
" Tidak... Siapa yang memandangi wajah jelekmu itu. Aku tidak berminat sama sekali. Wajahmu justru membuat mataku sakit Bang." Sahut Mara sambil cemberut.
" Masa'?" Goda Arthur.
" Iya." Sahut Mara.
" Yakin?" Arthur menaik turunkan alisnya.
" Banget." Sahut Mara.
" Aku kira setelah kamu bangun tidur, kamu terus memandangi wajahku sampai sampai kamu kaget saat aku menggeliat. Dan karena kamu tidak mau ketahuan olehku, makanya kamu menjauh dari tubuhku dan tiba tiba...
Mara membungkam mulut Arthur menggunakan tangannya.
" Tidak usah sok tahu, aku tidak seperti apa yang kau pikirkan. Boro boro memandangi wajahmu, menatap saja sebenarnya aku tidak mau." Ucap Mara.
" Empt... Empt... "
Mara menjauhkan tangannya dari mulut Arthur.
" A...
" Diam! Awas kalau berani bicara lagi! Aku akan mematahkan tanganmu atau lehermu sekarang juga." Ancam Mara sambil menunjuk wajah Arthur.
" A...
" Diam!!" Ucap Mara dengan nada tinggi.
Tiba tiba Arthur menarik Mara hingga terjatuh ke dalam pangkuannya. Arthur segera mengunci tubuh Mara dengan melingjarkan tangannya ke pinggang Mara.
" Lepasin!" Ucap Mara memberontak menggerakkan tubuhnya.
" Diamlah! Kau membangunkan singa yang sedang tidur." Ujar Arthur.
" Singa?" Mara menatap Arthur sambil mengerutkan keningnya.
" Ya singa, singa itu bisa berdiri tegak karena kamu mengganggu tidurnya." Ujar Arthur.
" Memangnya di sini ada hewan buas semacam itu?" Tanya Mara nampak cemas.
" Ada." Arthur menurunkan Mara di tepi ranjang.
" Mana?" Karena penasaran, Mara bertanya lagi.
" Kamu ingin tahu dimana dia?" Tanya Arthur di balas anggukan kepala oleh Mara.
Arthur menarik tangan Mara lalu menempelkannya di bagian bawah tubuhnya.
Mara membulatkan matanya saat menyadari jika Arthur mengerjainya. Tidak mau terkena bogeman dari Mara, Arthur segera berlari masuk ke kamar mandi. Hal itu membuat Mara semakin geram.
__ADS_1
" Arthur sialan!!!!" Teriak Mara.
TBC....