AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA

AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA
MEMBESUK ALDO


__ADS_3

Tiba tiba Mara merebut surat perpisahan itu lalu...


Sreeettttt....


Mara merobek kertas itu membuat Arthur terkejut.


" Kenapa kau merobeknya?" Tanya Arthur menatap Mara.


" Kenapa? Apa kamu mau menandatangani surat itu? Kalau iya aku akan meminta pengacara untuk membuat yang baru." Ucap Mara.


" Ah tidak tidak.. Aku tidak mau." Ucap Arthur.


" Bagus kalau begitu, tetaplah menjadi suamiku yang siap melakukan apapun untukku demi kebahagiaanku." Ucap Mara.


" Aku akan melakukan apapun untukmu karena kebahagiaanmu adalah prioritas utamaku. Tapi aku berharap mulai sekarang jangan panggil aku abang!" Ucap Arthur.


" Lalu aku harus memanggilmu apa?" Tanya Mara.


" Apa saja seperti istri memanggil suami pada umumnya. Misalnya hubby, sayang, atau setidaknya panggil aku Mas." Ucap Arthur.


" Heh ternyata kau banyak maunya." Ucap Mara kembali ke ranjangnya.


Arthur terkekeh melihat semua itu.


"Alhamdulillah ya Tuhan... Kau telah menyelamatkan pernikahanku.Walaupun Mara tidak membalas ungkapan cintaku, setidaknya dia juga tidak menolaknya. Semoga suatu hari nanti dia bisa membalas perasaanku, jika tidak juga tidak apa apa. Toh cintaku cukup untuk kami berdua." Batin Arthur.


Mara memainkan ponselnya sambil senyum senyum sendiri.


" Entah mengapa aku merasa senang mendengar ungkapan cinta bang Arthur. Walaupun dia kaku saat mengatakannya, tapi aku benar benar bahagia. Semoga aku mengambil keputusan yang tepat. Aku merasa bang Arthur adalah orang yang tepat untuk mendampingiku." Batin Mara.


" Kenapa senyam senyum sendiri hmm?" Tanya Arthur duduk di sisi lain ranjang.


" Aku sedang membaca novel online bergenre romantis." Sahut Mara.


" Owh baper ceritanya." Ujar Arthur.


" Hmm bisa jadi." Gumam Mara.


" Tadi Pak Lukman menelepon, beliau bilang Aldo dan Melin sudah di tangkap polisi dan saat ini berada di polres setempat untuk proses penyelidikan. Besok mereka sudah di tempatkan di tahanan sementara, apa kamu mau mengunjungi mereka sebelum sidang pengadilan?" Tanya Arthur menatap Mara.


Mara mengalihkan pandangannya, ia menatap Arthur sambil berpikir.


" Ya.. Aku akan menemui Aldo untuk yang terakhir kali. Aku ingin menceritakan padanya apa yang sebenarnya terjadi saat kecelakaan itu. Bilang pada pak Lukman untuk tidak melibatkan aku dalam masalah ini, aku tidak mau di undang pengadilan walaupun hanya sebagai saksi saja. Minta beliau untuk mengusahakannya." Ucap Mara.


" Baiklah akan Mas usahakan." Ucap Arthur.


Mara terkejut mendengar sebutan yang Arthur tujukan untuk dirinya sendiri.


" Mas?" Mara mengerutkan keningnya.


" Iya Mas... Mas sudah memutuskan sebutan apa yang paling nyaman untuk Mas. Yaitu Mas Arthur." Ucap menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


" Dih genit." Cebik Mara.


" Sama istri sendiri tidak apa apa." Sahut Arthur.


Mara memutar bola matanya malas, ia kembali fokus pada ponselnya.


" Mara." Panggil Arthur.


" Ya." Mara menoleh ke samping sampai...


Cup...


Bibir Mara menempel pada pipi Arthur. Arthur sengaja mendekatkan wajahnya saat Mara hendak menoleh tadi.


Deg... Deg... Deg...


Jantung keduanya berdetak sangat kencang. Ada desiran halus yang merambat ke hati mereka. Sampai...


Ckit..


" Awh... " Pekik Arthur mengusap usap pipinya ketika Mara menggigitnya.


" Kenapa di gigit sih." Gerutu Arthur.


" Suruh siap jahil pakai ngerjain aku segala." Sahut Mara kesal.


" Lhah kamu yang mencium Mas, kenapa Mas yang di bilang jahil?" Ujar Arthur.


" Iya kau benar, tapi sekali lagi kau panggil Bang aku cium." Ucap Arthur.


" Tuh kan cari kesempatan lagi." Ucap Mara.


" Biarin.. Mulai sekarang jika kata kata abang keluar dari mulutmu, Mas akan menciummu saat itu juga." Ancam Arthur.


" Nggak akan." Sahut Mara menjulurkan lidahnya.


" Coba panggil aku apa?" Ucap Arthur.


" Bang Arthur." Ucap Mara cepat. Ia menutup mulutnya sendiri dengan tangan saat menyadari kesalahannya.


Arthur menjauhkan tangan Mara dari bibirnya, lalu...


Cup...


Mara membulatkan matanya saat Arthur mengecup bibirnya.


" Panggil Mas dengan sebutan apa hmm?"


" Ba.... " Mara menggantung ucapannya.


" Mas Arthur." Sambung Mara.

__ADS_1


Arthur terkekeh mendengarnya, rasanya begitu sejuk di hati mendengar ucapan Mara.


" Gadis pintar." Ucap Arthur mengacak rambut Mara.


" Apaan sih." Cebik Mara merapikan rambutnya.


" Eh sudah bukan gadis lagi." Ucap Arthur.


" Bang Arthur!!!" Ucap Mara dengan anda tinggi.


" Rupanya ciumanku membuatmu candu, sini!" Arthur hendak menarik Mara namun Mara segera turun dari ranjangnya lalu berlari keluar kamar.


" Bang Arthur gila!!!" Ucap Mara sambil berteriak.


Arthur tersenyum lebar melihat tingkah Mara.


...****************...


Jam sepuluh pagi Arthur dan Mara sampai di rutan xx untuk membesuk Aldo. Mereka duduk saling berhadapan yang hanya terhalang oleh meja saja di ruang besuk tahanan. Aldo nampak menundukkan kepala, sedangkan Mara menatapnya dengan tatapan tajam.


" Aku minta maaf Mara, aku terlalu terburu buru mempercayai semua ucapan Melin. Aku menyesal Mara, aku sangat menyesalinya." Ucap Aldo membuka suara.


" Aku tidak bisa memaafkanmu setelah apa yang kau lakukan padaku. Kau dengan tega meracuni papaku sampai tiada. Kau tega memanfaatkan aku demi keuntunganmu sendiri. Apapun alasannya yang jelas kau telah menghancurkan hidupku dan aku tidak peduli dengan alasanmu." Ucap Mara tegas.


Aldo hanya bisa memejamkan matanya menahan sakit di dadanya.


" Aku ke sini untuk memberitahumu tentang kejadian beberapa tahun lalu. Sebenarnya itu bukan kasus tabrak lari. Setelah Melin menabrak adikmu, ada warga yang menolong adikmu dan menangkap Melin yang hendak melarikan diri saat itu. Saat aku sampai sana, Melin sedang di tnagani oleh polisi sedangkan aku membawa adikmu ke rumah sakit, namun naas. Adikmu terlalu banyak kehilangan darah karena tidak di tangani dengan cepat." Terang Mara.


" Kasus kecelakaan itu berlanjut sampai Melin mendapat ancaman pidana dia belas tahun, namun aku dan papa berhasil membebaskannya dengan uang tebusan karena Melin merupakan anak di bawah umur. " Sambung Mara.


" Yang aku bingungkan saat ini, kenapa kamu saat itu? Kenapa tidak ada pihak keluarga yang datang ke rumah sakit mengakui gadis itu sebagai keluarga?" Tanya Mara menatap Aldo.


" Saat itu aku sedang di tugaskan di luar kota. Adikku sendirian di rumah. Setelah aku kembali, aku benar benar sangat terpukul. Aku menangis di depan makamnya. Dan saat itulah aku bertemu dengan Melin." Ucap Aldo.


" Melin ke pemakaman karena dia merasa bersalah dengan gadis kecil itu." Ucap Mara.


" Ternyata dia membodohiku dengan memanfaatkan aku untuk balas dendam kepadamu. Aku minta maaf Mara." Ucap Aldo menundukkan kepalanya.


" Aku harus pergi saat ini, terima kasih atas waktumu selama tiga tahun ini. Aku tidak menyangka, pria pendendam sepertimu mampu mengukir kenangan indah bersamaku. Semoga kau menyadari kesalahanmu, setelah ini jangan pernah temui aku lagi! Jika suatu hari nanti kita bertemu, anggap saja kita tidak saling mengenal." Ucap Mara.


" Ayo Mas!" Ucap Mara menggandeng tangan Arthur.


Arthur dan Mara meninggalkan ruangan itu. Aldo menatapnya dengan hati yang berdenyut nyeri.


" Maafkan aku Mara! Andai saja aku bisa memutar waktu, aku pasti tidak akan menyia-nyiakan gadis sebaik dirimu." Gumam Aldo.


Visual Aldo guys..



TBC....

__ADS_1


__ADS_2