AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA

AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA
MARA MENGHILANG


__ADS_3

Hari ini tiba saatnya Alena dan Ali melangsungkan acara ijab qobul. Mereka di rias dengan adat Jawa membuat keduanya terlihat luwes, mereka nampak tampan dan cantik. Namun yang menjadi pusat perhatian justru pasangan Mara dan Arthur. Keduanya nampak sangat serasi duduk bersebelahan di kursi depan sendiri. Banyak yang mengira mereka berdua lah yang menjadi pengantinnya.


Vida yang mendengarnya mengepalkan erat tangannya menahan rasa iri di dalam hatinya.


" Bagaimanapun caranya aku harus bisa memisahkan mereka berdua. Aku tidak rela mas Arthur menjadi milik orang lain. Andai saja aku boleh merantau ke Jakarta, aku pasti akan menyusul mas Arthur ke sana." Batin Vida.


Kedua mempelai duduk di depan pak penghulu, kedua saksi dan wali pun sudah siap. Pak penghulu segera memulai acaranya. Dengan satu kali tarikan, Alena telah resmi menjadi istri Ali secara hukum dan agama.


Setelah itu acara di lanjut menurut adat Jawa. Mara nampak bosan, duduknya sudah mulai tidak tenang.


" Sayang, apa kau sudah bosan duduk di sini?" Tanya Arthur menggenggam tangan Mara.


" Mas aku ingin itu!" Ucap Mara menunjuk pohon mangga yang sedang berbuah.


" Mangga?" Arthur mengerutkan keningnya.


" Hmm... " Mara menganggukkan kepalanya.


" Itu masih muda sayang, rasanya sangat asem." Ujar Arthur.


" Ya justru aku inginnya yang asem Mas. Buat rujakan pasti enak banget ih. Ambillin Mas!" Ucap Mara merengek seperti anak kecil yang sedang meminta permen pada ibunya.


" Kamu masih ingin rujak? Katanya kemarin sudah enggak pengin." Ujar Arthur.


" Sekarang ingin, buruan petik sebelum seleraku hilang Mas." Ucap Mara memainkan bibir dan lidahnya seolah membayangkan sedang makan rujak mangga muda.


Arthur nampak heran dengan sikap Mara saat ini.


" Mas!!" Ucap Mara kesal karena Arthur diam saja.


" Kenapa Mara ingin makan mangga muda? Apa dia sedang ngidam saat ini? Ngidam? Itu tandanya Mara hamil? Ah benarkah? Kalau di ingat ingat kejadian itu memang sudah satu bulan kan. Ya Tuhan... Seandainya semua itu benar, aku sangat bahagia Tuhan." Batin Arthur tersenyum senang.


Tanpa Arthur sadari, Mara sudah tidak ada di tempatnya.


" Astaga kemana perginya Mara?" Gumam Arthur segera beranjak mencari Mara.


Arthur berjalan menuju jalan setapak di depan rumah bibi Hanum, ia mencari cari Mara namun tidak ketemu. Ia kembali masuk ke dalam mencari Mara di dalam rumah, barang kali Mara ada di sana atau di kamarnya. Namun Mara tidak juga ia temukan.


Arthur nampak sangat panik, ingin menelepon Mara, namun dompet dan ponsel Mara ada padanya. Mau memberitahu ibunya, tapi takut mengacaukan acara Alena. Arthur kembali ke jalan setapak, ia menyusuri jalan hingga ke jalan raya.

__ADS_1


" Mara... Mara... " Teriak Arthur berharap Mara mendengar teriakannya.


" Ya Tuhan kemana istriku... Astaga Mara... Kenapa kalau marah pasti selalu seperti ini sih, kalau di sana aku tidak khawatir karena kamu tahu daerah sana. Tapi kalau di sini, kau tidak tahu daerah sini sama sekali." Ujar Arthur menarik kasar rambutnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hingga malam hari Mara belum bisa di temukan, mau tidak mau akhirnya Arthur memberitahu keluarganya. Mereka semua nampak sangat terkejut dengan berita ini.


" Arthur apa kamu sudah mencari ke terminal atau stasiun? Siapa tahu Mara kembali ke Jakarta Nak." Ujar paman Eko.


" Aku sudah melacaknya Paman, tapi tidak ada riwayat perjalanan atas nama Mara. Dompet dan semua identitasnya ada padaku. Semarah apapun Mara, dia tidak akan pergi begitu saja Paman. Apalagi tanpa kabar. Aku yakin terjadi hal buruk pada istriku." Sahut Arthur.


" Ya Tuhan... Lalu dimana Mara sekarang?" Ucap bi Ningsih.


" Ibu, aku mohon doakan yang terbaik untuk menantumu Bu, dugaanku saat ini Mara sedang mengandung cucu Ibu. Aku mohon doakan agar mereka baik baik saja Bu. Hiks.." Ucap Arthur terisak.


" Doa Ibu selalu menyertainya Nak. Ibu doakan semoga mereka baik baik saja." Ucap bi Ningsih.


" Amin." Ucap semua orang terkecuali Vida.


Di tempat lain, tepatnya di lahan luas yang di tanami pohon jati di belakang rumah. Mara nampak meringkuk di bawah sumur tua yang sudah tidak terpakai lagi. Ia sangat takut karena di dalam nampak begitu gelap. Hanya ada cahaya bulan saja yang menyinarinya.


" Hiks... Hiks... Mas Arthur aku takut. Tolong aku Mas! Keluarkan aku dari sini, hiks.. " Isak Mara.


" Ya Tuhan... Aku mohon kirim Mas Arthur kemari untuk menyelamatkan aku, dadaku terasa sesak sekali. Aku tidak sanggup lagi jika berada di sini sampai lebih lama lagi. Belum lagi kalau ada binatang seperti ular. Ya Tuhan aku mohon lindungilah aku." Ucap Mara.


Krosak... Srek... Srek...


Mara nampak kaget, ia menoleh ke atas. Matanya membukat saat melihat seekor ular yang berjalan di dinding sumur hendak turun ke arahnya.


" Ya Tuhan.. Jika hari ini adalah hari terakhirku, tolong biarkan aku mengungkapkan perasaanku kepada suamiku lebih dulu. Aku mencintainya, aku jatuh cinta pada suamiku ya Tuhan. Walaupun aku terlambat menyadarinya, tapi aku bahagia bisa memiliki perasaan ini kepadanya. Mas Arthur aku mencintaimu, aku menyayangimu Mas." Monolog Mara.


Ular tersebut semakin mendekat, Mara memejamkan matanya.


" Aku akan berteriak sekali lagi, jika kita di takdirkan untuk bersatu pasti kau bisa menemukan aku Mas. Aku berjanji akan menerimamu sepenuh hatiku jika aku di berikan kesempatan untuk hidup lebih lama lagi. Semangat Mara! Ayo!" Mara mengatur nafasnya.


" Tolong!!!!!" Teriak Mara sekencang mungkin.


Arthur yang sedang berada di dapur tiba tiba mendengar suara orang minta tolong.

__ADS_1


" Mara... " Gumam Arthur.


" Ya itu suara Mara, suaranya dari belakang sana." Ujar Arthur.


Arthur segera berlari ke depan menemui keluarganya yang lain.


" Paman, aku mendengar suara Mara minta tolong di belakang rumah. Apa di sana ada sesuatu yang bisa membuat Mara terjebak?" Tanya Arthur menatap paman Eko.


Paman Eko nampak berpikir sejenak.


" Sumur Pak, di sana ada sumur tua." Sahut bibi Hanum.


" Astaga!!"


Tanpa membuang waktu, Arthur segera berlari ke belakang rumah.


" Ayo kita ke sana! Arthur tidak tahu dimana letak sumurnya." Ajak paman Eko.


Paman Eko, bibi Hanum dan kedua orang tua Arthur segera menyusul Arthur. Bibi Hanum, Gania dan Vida segera menyusulnya. Tak lupa bibi Hanum membawa senter tangan untuk memudahkan jalan mereka.


" Arthur di sini!" Teriak paman Eko.


Arthur yang sudah berlari di depan segera berbalik. Ia berlari menghampiri paman Eko yang saat ini duduk di atas sumur tua itu.


" Mara!!" Teriak Arthur.


Tidak ada sahutan sama sekali.


" Senter, mana senter?" Tanya paman Eko.


" Ini Pak." Bibi Hanum memberikannya pada suaminya.


Paman Eko menyorot kan senternya ke bawah. Betapa terkejutnya mereka semua begitu melihat Mara sudah tidak sadarkan diri di dalam sana.


" Mara!!!!" Teriak Arthur.


Mau tahu kelanjutannya? Tekan like, koment vote dan 🌹nya dulu buat author.


Terima kasih...

__ADS_1


Miss U All....


TBC.....


__ADS_2