AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA

AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA
KARENA CINTA ASIN PUN JADI ENAK


__ADS_3

Hari ini Mara tiba tiba ingin memakan masakannya sendiri. Ia di temani Arthur membuat nasi goreng super pedas. Ia menambahkan telur, sosis, bakso dan daging ayam ke dalam nasi gorengnya. Arthur hendak membantunya namun Mara malah memarahinya. Alhasil, Arthur hanya duduk di meja makan saja sambil melihat kegiatan Mara.


" Sudah matang Mas." Ucap Mara memindahkan nasi goreng dari teflon ke piring.


" Sayang coba di cicipin dulu, siapa tahu nanti kurang apa gitu." Ujar Arthur.


" Kalau di lihat dari bentuk dan aromanya sih enak Mas. Sekarang Mas makanlah!" Mara meletakkan sepiring nasi gorengnya di depan Arthur.


" Kenapa Mas yang di suruh makan? Kan kamu yang pengin." Ujar Arthur menatap Mara.


" Aku cuma ingin memasak saja Mas, kamu yang harus memakannya." Sahut Mara.


Arthur menghela nafasnya pelan.


" Lagi lagi Mas yang harus makan, bisa bisa berat badan Mas nambah sepuluh sekilo dalam sebulan ini." Gumam Arthur yang masih bisa di dengar Mara.


" Baiklah kalau begitu tidak usah di makan, biar aku buang saja." Mara mengambil piringnya hendak membuang nasinya namun Arthur menahannya.


" Jangan sayang!" Ucap Arthur merebut piringnya.


Arthur duduk kembali di kursinya, ia menyuapkan sesendok nasi goreng buatan Mara ke dalam mulutnya.


Uhuk.. Uhuk..


Arthur segera meminum segelas air untuk meredakan tenggorokannya yang terasa sakit.


" Kenapa Mas?" Tanya Mara.


" Tidak apa apa sayang." Sahut Arthur.


" Apa nasi gorengnya ke asinan? Atau kepedasan?" Tanya Mara menatap Arthur.


" Tidak sayang, ini enak kok. Hanya saja Mas yang tidak hati hati tadi jadi tersedak deh." Sahut Arthur.


Mara mengangguk anggukkan kepalanya.


" Kalau enak nanti aku buatkan lagi Mas." Arthur melotot mendengar ucapan Mara.

__ADS_1


" Tidak sayang Mas tidak kuat jika harus memakan nasi goreng lagi. Yang ada nanti perut Mas menjadi buncit tidak sispack seperti ini lagi. Memangnya kamu mau punya suami dengan perut buncit ke depan? Tidak kan." Ujar Arthur.


" Baiklah." Sahut Mara duduk di depan Arthur.


" Ini saja asinnya minta ampun masa' mau di tambah lagi. Yang ada bisa muntah aku." Batin Arthur.


Arthur kembali menyuapkan nasi gorengnya ke mulutnya. Ia mengunyahnya sambil memejamkan matanya.


" Sayang segera pergilah! Mas tidak kuat menghabiskan makanan ini." Ujar Arthur dalam hati.


Tiba tiba Mara menguap membuat Arthur bernafas lega.


" Mas aku mau ke kamar dulu, tiba tiba aku mengantuk mau tidur dulu ya Mas." Ujar Mara membuka celemek di tubuhnya.


" Iya sayang, Mas nanti menyusulmu setelah menghabiskan makanannya." Sahut Arthur.


" Ingat jangan ganggu tidurku Mas! Aku pasti bangun sendiri kalau sudah puas tidur nanti." Ucap Mara meninggalkan dapur.


" Oke." Sahut Arthur menatap kepergian Mara.


Arthur menunggu sampai Mara tidak terlihat. Setelah itu ia segera mencari plastik untuk membungkus nasi goreng. Ia membuangnya di tempat sampah di belakang rumah agar tidak ketahuan oleh Mara. Ia tidak mau membuat Mara sedih hanya karena masalah ini.


" Aku tidak menyangka kau sesabar dan sebaik itu menghadapi sikapku Mas. Kamu bahkan tidak pernah mengeluh apa yang aku lakukan padamu. Demi menunjukkan cintamu padaku dan menghargai perasaanku kamu rela berbohong. Aku menghargai kebohonganmu itu Mas." Monolog Mara naik ke atas ranjang. Ia memejamkan matanya masuk ke alam mimpi.


Entah kenapa ia selalu mengantuk di pagi hari entah karena malas atau karena bawaan bayi. Tak lama Arthur masuk ke dalam, ia duduk di sofa mengerjakan pekerjaannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam hari Mara dan Arthur sedang makan malam berdua. Tiba tiba bel rumah berbunyi, mereka segera membukanya.


" Ayah, Ibu." Arthur dan Mara menyalami kedua orang tuanya.


" Bagaimana keadaan kalian sayang?" Tanya bi Ningsih sambil memeluk Mara.


" Alhamdulillah kami baik Bu." Sahut Mara.


" Gania." Gumam Mara menatap Gania yang berdiri di samping pak Jaka dengan membawa tas besar berisi pakaian.

__ADS_1


" Begini Nak Mara, Gania ingin tinggal bersama kita untuk sementara waktu sampai dia mendapatkan pekerjaan di sini. Itupun kalau kamu tidak keberatan, kalau keberatan biar dia tinggal di rumah Ibu saja. Soalnya mau tinggal bersama Alena takut mengganggu pengantin baru. Dan Gania merasa sungkan dengan kakak iparnya." Ujar bi Ningsih.


" Tidak apa apa Bu, kasihan dia kalau tinggal sendirian. Biarkan dia tinggal di sini, toh rumah ini akan semakin ramai jika ada Gania di sini." Ujar Mara.


" Terima kasih Mbak, maaf jika aku tidak tahu malu karena telah merepotkanmu. Aku menyesal telah terhasut oleh ucapan Vida. Aku pikir Vida wanita terbaik untuk Mas Arthur, tapi ternyata aku salah. Aku berjanji akan menyayangimu sebagai kakak iparku. Aku tidak akan berbuat jahat padamu lagi. Maafkan aku." Ucap Gania memeluk Mara.


" Tidak apa apa, aku sudah menganggapmu sebagai adikku. Sekarang masuklah!" Ucap Mara.


Mereka semua masuk ke dalam. Kedua orang tua Arthur dan Gania ikut bergabung untuk makan malam bersama.


" Kamu mau melamar kerja dimana Gania?" Tanya Mara menatap Gania.


" Aku tidak tahu Mbak, besok aku akan keliling untuk mencarinya." Sahut Gania menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya.


" Bagaimana kalau kamu kerja di perusahaan Mas Athur? Sepertinya ada lowongan di sana. Benar nggak Mas?" Tanya Mara menatap Arthur.


" Ada, tapi lowongan untuk perempuan tinggal bagian pemasaran saja. Dan di sana di butuhkan minimal S1." Sahut Arthur.


" Yah S1, aku saja cuma punya tamatan SMA." Ucap Gania.


" Kalau SMA adanya lowongan untuk OG. Kebetulan salah satu OG kami mengundurkan diri karena melahirkan. Kalau kamu mau kamu bisa masuk ke sana, tapi kalau kamu mau mencari pekerjaan yang lebih layak tidak apa apa. Aku akan membantumu mencarinya." Ujar Arthur.


" Jadi OG juga tidak masalah deh Mas. Daripada aku tidak bekerja, tidak peduli apapun pekerjaannya yang penting halal. Kalau bekerja di perusahaan Mas Arthur setidaknya aku aman karena ada yang aku kenal. Kalau bekerja di tempat lain, aku pasti bingung karena tidak mengenal siapapun." Ucap Gania.


" Ya sudah besok berangkat bareng aku, aku akan meminta pihak HRD untuk langsung menerimamu." Ucap Arthur.


" Baik Mas." Sahut Gania.


Selesai makan, Arthur dan Mara kembali ke kamarnya. Mereka berdua duduk bersandar di atas ranjang sambil menonton video tentang kehamilan dan proses persalinan.


" Ih Mas ngeri juga kalau melahirkan rasanya sesakit itu. Aku jadi takut Mas." Ucap Mara mengelus perut ratanya.


" Tidak perlu takut sayang, ada Mas yang siap menjagamu. Sekrang lebih baik kita tidak usah menontonnya. Mas takut kamu malah jadi stress karena memikirkan ini. Sekarang lebih baik kita tonton yang romantis romantis saja." Ujar Arthur mengganti channel menjadi channel drakor.


" Lhoh kok drakor Mas?" Tanya Mara. Pasalnya Arthur tidak pernah melihat hal hal seperti itu.


" Iya, Mas lagi pengin romantis romantisan sama kamu. Siapa tahu ada adegan yang bisa di tiru." Ucap Arthur mengerlingkan sebelah matanya.

__ADS_1


" Hmmm." Gumam Mara tersenyum sambil melirik Arthur.


TBC....


__ADS_2