AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA

AKU YANG SETIA DIA YANG KAU CINTA
MALAM PERTAMA YANG TERPAKSA


__ADS_3

Hingga keduanya sama sama tidak menyadari jika tubuh keduanya sama sama polos saat ini. Aditya meremas salah satu gundukan kembar milik Gania membuat sang empu mendesis pelan. Suara itu berhasil merangsang jiwa kelakian Aditya yang semakin bergelora.


" Aku ingin memilikimu malam ini sayang, bolehkah aku melakukannya?" Bisik Aditya lirih ke telinga Gania.


Kepalang tanggung, Gania menganggukkan kepalanya karena jujur ia menginginkan hal yang lebih dari ini. Tanpa membuang waktu dan kesempatan, Aditya segera mengarahkan senjatanya ke dalam goa sempit milik Gania. Gania menjerit saat rasa sakit menusuk bagian intinya.


" Maaf sayang." Ucap Aditya mengecup kening Gania cukup lama sampai Gania kembali tenang.


Setelah Gania kembali tenang, Aditya melanjutkan permainannya dengan lembut. Kini tidak ada suara rintihan ataupun jeritan lagi, tapi yang ada suara des@h@n yang menghiasi ruangan kamar mereka.


Sekitar satu jam lamanya, keduanya sama sama lega karena telah mencapai puncak nirwana bersama sama. Namun tidak hanya berhenti sampai di situ, mereka melakukannya lagi dan lagi hingga malam menjelang pagi.


Pagi hari, Gania mengerjapkan matanya. Ia menoleh ke samping dimana Aditya sedang tidur sambil memeluknya.


Deg...


Bayangan pergulatannya semalam terlintas di kepalanya. Ia melihat ke dalam selimut dan...


Deg...


Jantung Gania terasa berhenti berdetak. Ia ingat dengan jelas pembantunya membawakan susu pesanan Aditya kepadanya, lalu ia meminumnya. Gania mengepalkan erat tangannya menahan kesal di dalam hatinya, ia berpikir jika Aditya sengaja menjebaknya.


" Sialan.. Berani sekali dia berbuat seperti ini padaku. Dia benar benar licik dan tidak bisa di percaya. Bodoh bodoh kamu Gania, kenapa kamu malah terperdaya dengan sentuhannya." Gerutu Gania memukul kepalanya sendiri.


Gania turun dari ranjang tiba-tiba...


" Awh." Pekik Gania saat rasa sakit kembali terasa di bagian bawahnya.


Mendengar itu Aditya langsung membuka matanya.


" Sayang kamu baik baik saja?" Tanya Aditya beranjak mendekati Gania.


" Tidak usah sok peduli, aku tidak butuh semua itu." Ketus Gania melilitkan selimut ke tubuhnya.


" Sayang aku... "


" Kau sengaja kan menjebakku dengan susu semalam? Kau pasti menaruh obat perangsang pada susu itu. Aku benar benar tidak menyangka kau bisa melakukan hal serendah ini." Ucap Gania menatap tajam ke arah Aditya. Aditya terkejut dengan ucapan Gania.


" Tapi aku tidak heran sih, sekali licik maka selamanya tetap akan begitu. Aku menyesal karena kurang hati hati dalam menghadapimu. Mulai malam ini aku tidak mau tidur satu kamar denganmu lagi." Ucap Gania.


" Sayang aku tidak tahu apa apa, di dalam segelas susuku juga ada obat perangsangnya. Itu sebabnya aku tidak bisa mengendalikan diriku." Ujar Aditya.


" Lagian siapa yang pesan susu itu? Bukankah kamu yang memesannya dan aku tinggal meminumnya?" Tanya Aditya menatap Gania.


" Jangan melempar kesalahanku pada orang lain. Jelas jelas bi Ida bilang kalau kamu yang memesannya, nggak usah pura pura lupa seperti itu." Sahut Gania membuat Aditya kembali terkejut.


" Aku tidak memesannya sayang, aku pikir itu pesanan kamu." Ujar Aditya.

__ADS_1


" Kamu pikir aku percaya begitu saja? Jangan lupa kalau kau seorang pembohong besar yang dapat menipu semua targetmu dengan mudah. Aku pernah mempercayaimu tapi kau merusak kepercayaan itu, jadi sekarang apapun yang keluar dari mulutmu aku tidak akan mempercayainya lagi. Ingat itu!" Ucap Gania kesal.


Dengan terpaksa Gania turun dari ranjang sambil menahan perih di area intimnya. Ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


" Aneh, siapa yang berani memasukkan obat sialan itu ke dalam susu yang kami minum?" Aditya nampak sedang berpikir.


" Bi Ida." Gumam Aditya.


Aditya segera memakai bajunya kembali lalu turun ke bawah menemui bi Ida yang sedang memasak di dapur.


" Bi." Panggil Aditya.


" Iya Den." Sahut bi Ida nampak ketakutan.


" Siapa yang menyuruh Bibi menaruh obat perangsang di dalam minuman kami?" Selidik Aditya.


" Maaf Den, saya di suruh sama nyonya besar." Sahut bi Ida jujur.


" Oma maksud Bibi?" Tanya Aditya memastikan.


" I.. Iya Den." Sahut Bi Ida.


Aditya menarik rambutnya dengan kasar. Ia tidak menyangka omanya bisa melakukan hal seperti ini. Namun tak selang berapa lama, Aditya menyunggingkan senyumannya. Ia kembali ke kamarnya sambil terus tersenyum bahagia.


" Terima kasih oma, ternyata oma pengertian juga. Berkat oma aku bisa memiliki Gania sepenuhnya. Masalah dia marah itu bisa di bujuk, yang jelas dia sudah menjadi milikku seutuhnya." Batin Aditya.


" Mau kemana sayang?" Tanya Aditya menatap Gania yang sudah rapi di lengkapi dengan tas selempang yang bertengger di pundaknya.


" Aku mau ke rumah mas Arthur, malas lama lama aku berada di sini." Sahut Gania.


Aditya mencekal tangan Gania.


" Jangan melebihi batasanmu Gania! Jangan kau pikir karena aku diam, kau bisa melakukan apapun sesuka hatimu. Kau tidak boleh pergi kemana mana! Lagian pagi pagi begini kau mau bertamu? Apa kau tidak punya sopan santun untuk hal itu." Ucap Aditya tegas.


Gania menatap Aditya tanpa rasa takut.


" Memangnya siapa kau berani melarangku? Statusmu memang suami tapi aku tidak pernah menganggap pria pecundang sepertimu sebagai suamiku. Lebih baik kau nikahi Alma saja, setelah seluruh harta oma kau dapatkan, kau bisa menceraikan aku."


" Dan ya.. Aku bertamu di rumah kakakku sendiri, jadi tidak ada batasan waktu di dalamnya." Ucap Gania meninggalkan Aditya.


" Aku harus sabar menghadapinya, dia berubah karena ulahku sendiri." Gumam Aditya.


Jam sepuluh pagi, Aditya menyusul Gania ke rumah Arthur. Ia juga ingin meminta maaf kepada bos sekaligus kakak iparnya karena telah membuatnya kecewa.


Ting Tong....


Aditya memencet tombol bel yang menempel pada pintu. Tak lama bi Ningsih membukanya.

__ADS_1


" Pagi Bi, saya ingin menemui Arthur, apa dia ada di rumah?" Tanya Aditya basa basi.


" Ada Den, silahkan masuk!" Ucap bi Ningsih.


Aditya masuk ke dalam, ia di persilahkan duduk di sofa ruang tamu. Tak lama Gania dan Mara masuk ke dalam sambil tertawa, entah darimana mereka berdua.


Gania menghentikan langkahnya saat melihat Aditya. Mara menoleh ke arah pandang Gania.


" Rupanya ada tamu, akan aku panggilkan mas Arthur dulu." Ucap Mara.


" Gania kau temani suamimu dulu." Sambung Mara.


Gania hanya bisa menganggukkan kepalanya. Dengan bermaksud malasan ia mendekati Aditya.


" Mau bertemu dengan mas Arthur kan? Kalau begitu aku permisi." Ucap Gania.


Aditya mencekal tangan Gania.


" Duduklah!" Titah Aditya.


" Aku tidak mau." Sahut Gania.


" Aku ingin meminta penjelasan tentang hubunganmu dengan Arthur sekarang." Ucap Aditya.


" Kenapa kau peduli dengan hubunganku dan mas Arthur? Apa kau merasa di bodohi karena ternyata kebusukanmu telah di ketahui olehku jauh jauh hari?" Gania balik bertanya.


" Ya itu salah satunya, kalau aku tahu kamu adiknya Arthur aku tidak akan melakukan semua ini padamu. Tapi aku tidak menyesal, karena pada akhirnya aku melabuhkan hatiku kepadamu." Ucap Aditya.


" Aku tidak peduli." Ketus Gania.


Tap tap tap..


Arthur dan Mara menuruni anak tangga menuju ruang tamu.


" Aditya." Ucap Arthur penuh penekanan.


" Arthur aku ingin meminta maaf atas sikapku pada Gania. Aku sama sekali tidak tahu jika kalian punya hubungan keluarga. Aku benar benar minta maaf." Ucap Aditya.


" Sudahlah Dit tidak perlu di permasalahkan lagi, aku sudah memaafkanmu. Yang penting sekarang kau buat adik sepupuku bahagia, karena aku masih melihat cinta untukmu di matanya." Ucap Arthur melirik Gania.


Aditya menatap Gania, begitupun sebaliknya.


Deg... Deg...


Jantung keduanya berdetak sangat kencang.


" Aku juga melihatnya Arthur, hanya saja adikmu masih marah padaku." Ucap Aditya.

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2